Sejarah Hari Ini: Batavia Ganti Nama Jadi Jakarta
Foto: Kasteel of Batavia oleh Andries Beeckman/Rijks Museum/Wikipedia

JAKARTA, HALUAN.CO - Ibu kota Republik Indonesia awalnya bukan bernama Jakarta. Dari sejumlah nama, Batavia adalah nama yang paling populer sebelum berganti menjadi Jakarta. Namun, tepat 30 Desember 1949, tidak ada lagi sebutan Batavia.

Adalah Menteri Penerangan, Arnold Mononutu, yang mengumumkan nama Batavia menjadi Jakarta. Mulai saat itu, nama ibu kota Republik Indonesia adalah Jakarta.

Dilansir dari berbagai sumber, nama Jakarta sebenarnya sudah digunakan sejak masa pendudukan Jepang pada 1942, untuk menyebut wilayah bekas Gemeente Batavia yang diresmikan pemerintah Hindia Belanda di tahun 1905.

Nama Jakarta merupakan kependekan dari kata Jayakarta yang diambil dari Bahasa Sansekerta yang diberikan oleh orang-orang Demak dan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) setelah menyerang dan berhasil menduduki pelabuhan Sunda Kelapa pada 22 Juni 1527 dari Portugis.

Kala itu, Jepang berusaha membuang segala hal berbau Belanda dan menggantikannya dengan istilah Indonesia atau Jepang, termasuk nama Batavia yang disebut Jakarta.

Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka pada 17 Agustus 1945, nama Jakarta tetap dipakai orang Indonesia. Namun, pelan-pelan orang-orang pro Belanda dalam panji-panji Nederlandsch Indië Civil Administratie (NICA), berusaha menjadikan Indonesia sebagai bagian dari Kerajaan Belanda lagi.

NICA dan militer Belanda yang pelan-pelan memperkuat diri akhirnya menguasai Jakarta sebagai daerah pendudukan mereka. Kota itu tak ingin mereka sebut Jakarta, tapi Batavia.

Hasil Riset: Anies Baswedan Jadi Gubernur Tervokal dan Terbanyak Diberitakan

Jakarta adalah ibu kota negara dan kota terbesar di Indonesia. Jakarta merupakan satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki status setingkat provinsi.

Jakarta terletak di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa. Selain Batavia, beberapa nama terkenal sebelum Jakarta di antaranya adalah Sunda Kelapa dan Jayakarta.

Di dunia internasional Jakarta juga mempunyai julukan J-Town, atau lebih populer lagi The Big Durian karena dianggap kota yang sebanding New York City (Big Apple) di Indonesia.

Jakarta memiliki luas sekitar 661,52 km² (lautan: 6.977,5 km²), dengan penduduk berjumlah 10.374.235 jiwa (2017). Wilayah metropolitan Jakarta (Jabodetabek) yang berpenduduk sekitar 28 juta jiwa, merupakan metropolitan terbesar di Asia Tenggara atau urutan kedua di dunia.

Sebagai pusat bisnis, politik, dan kebudayaan, Jakarta merupakan tempat berdirinya kantor-kantor pusat BUMN, perusahaan swasta, dan perusahaan asing. Kota ini juga menjadi tempat kedudukan lembaga-lembaga pemerintahan dan kantor sekretariat ASEAN.

Jakarta dilayani oleh dua bandar udara, yakni Bandara Soekarno–Hatta dan Bandara Halim Perdanakusuma, serta tiga pelabuhan laut di Tanjung Priok, Sunda Kelapa, dan Ancol.

Pada masa pendudukan Belanda, Jakarta yang bernama Batavia direncanakan dan dibangun nyaris mirip dengan kota-kota di Belanda, yaitu dibangun dalam bentuk blok, masing-masih dipisahkan oleh kanal dan dilindungi oleh dinding sebagai benteng, dan parit.

Batavia ini selesai dibangun pada 1650. Batavia tua adalah tempat tinggal bangsa Eropa, sementara bangsa Cina, Jawa dan penduduk asli lainnnya disingkirkan ke tempat lainnya.

Di masa-masa kejayaannya, Batavia diduduki oleh VOC dan kemudian akhirnya diduduki pemerintah Belanda yang terbentang luas di kepulauan Hindia timur.

Sebelum dikuasai Belanda, Kota pelabuhan ini pada mulanya bernama Sunda Kelapa. Kemudian pada 22 Juni 1527 Pangeran Fatahillah menghancurkan Sunda Kelapa dan sebagai gantinya adalah mendirikan kota Jayakarta di area tersebut.

Tanggal inilah yang kemudian ditetapkan sebagai tanggal berdirinya kota Jakarta.

Kota Jayakarta berkembang sebagai kota pelabuhan yang sibuk, di mana para pedagang dari Cina, India, Arab dan Eropa serta dari Negara-negara lainnya saling bertukar barang-barang atau komoditi.