Sejenak Mengenal Kota Kupang Sedekat Bemo Remix
Bemo atau angkot di Kota Kupang penuh dengan keunikan seperti modifikasi dan pengeras suara yang mumpuni. (Ilustrasi: Haluan.co)

Semarak di jalanan Kota Kupang memang jauh lebih lengang daripada kota-kota besar di Jawa, namun bemo adalah aktor intelektual yang menjadikan kota ini makin hidup. Apalagi, tamparan terik matahari musim kemarau dapat sejenak disejukkan oleh kualitas sound system kelas wahid.

LAZUARDI membiru tanpa noktah awan putih menandai siang mulai tinggi di seputaran jalan Kota Kupang. Terik matahari menerpa tanpa terhalangi gumpalan awan. Bisa dibayangkan hawa panas begitu lekas membakar kulit.

Keluar dari bandara El Tari, hawa panas Nusa Tenggara langsung menyambut tanpa sopan santun. Begitu pula dengan barisan angkot dengan rupa-rupa modifikasi yang menanti penumpang di jalan raya menuju Penfui.

Lagu-lagu remix berbahasa lokal bergaung di tengah udara panas itu. Suaranya bukan main dengan kualitas pengeras suara mumpuni. Selain itu, berbagai fantasi kata dan kalimat menggelitik terpampang pada badan mobil-mobil angkot yang lebih dikenal dengan sebutan Bemo itu.

Bemo di Kupang dan sebagian besar wilayah di NTT memang khas dengan warna-warni dan tempelan stiker ukuran besar di sekujur badan kendaraan itu. Kenampakan tekno-kultural ini menjadi salah satu faktor yang membuat kehidupan di Kupang nampak semarak.

Tak banyak yang tahu, pantai-pantai di kota ini lebih banyak ditumbuhi pohon lontar daripada pohon nyiur. Terlebih Pantai Lasiana dengan pasir putihnya nan luas. Beserta sajian pisang bakar atau dikenal sebagai pisang epe, menikmati Kota Kupang rasanya kurang pas.

Lagu-lagu remix yang terdengar dari jalan raya rasanya tiada henti. Lagu-lagu lokal lawas dari penyanyi macam Deddy Bartels sesekali masih terdengar. Dan tentu saja lagu Gemufamire yang sempat heboh dalam skala nasional. Suasana ini amat berbeda dari persaingan antar angkot di kota-kota di Jawa.

Sebab di Kupang, persaingan antar bemo ditentukan oleh tingkat modifikasi kendaraan, perpaduan stiker dengan warna-warna mentereng, kalimat-kalimat lucu, dan tentu adu keras suara soundsystem yang ditanam di dalam mobil. Pengaturan trayek pun hanya ditentukan dengan angka yang tertera pada atap bemo.



Jika dibandingkan Kota Bogor dengan lautan angkot warna oranye atau Kota Malang dengan angkot warna biru, Kupang tentu jauh lebih berwarna dari kedua kota tersebut. Sebab tak ada warna paten bagi bemo di kota ini.

Bentuk bemo di Kupang pun jauh lebih variatif. Tak hanya terdiri dari mobil Carry atau Espass yang umum dikenal sebagai bentuk orisinil dari angkutan umum, tambahan beberapa aksesori menambah eksentrik. Tak jarang, beberapa bemo menambah spoiler laiknya mobil balap di bagian belakang atap kendaraan. Tentu saja, efeknya bukan untuk melaju kencang seperti Lewis Hamilton di arena pacuan jet darat, tapi estetika yang menarik bagi calon penumpang.

Semarak di jalanan Kota Kupang memang jauh lebih lengang daripada kota-kota besar di Jawa, namun bemo adalah aktor intelektual yang menjadikan kota ini makin hidup. Apalagi, tamparan terik matahari musim kemarau dapat sejenak disejukkan oleh kualitas sound system kelas wahid.

Tak ada angkot yang lebih berisik daripada bemo-bemo di Kupang atau kota-kota lain di Indonesia Timur. Sebab jika umumnya masyarakat di pulau Jawa gandrung terhadap musik dangdut berbagai sub-genre, di Indonesia Timur musik hip-hop dan lagu pop remix sudah serupa candu. Sama halnya dangdut, musik yang umum diputar pada bemo-bemo ini mengajak setiap pendengarnya untuk bergoyang.

Seperti halnya banyak lagu-lagu daerah dari Indonesia Timur yang memang erat korelasinya dengan senam dan gerak badan. Mulai dari lagu Poco-Poco dan Enggo Lari yang dipopulerkan Yopie Latul hingga lagu Gemufamire dengan sentuhan modern dari Nyong Franco, nampaknya irama rancak begitu populer di jalanan Indonesia Timur. Tentu saja, peran serta bemo-bemo yang beroperasi di Kupang membuat lagu-lagu macam ini terus diproduksi. Dan tak jarang, gema irama rancaknya sampai juga di Pulau Jawa.



Sore di sepanjang jalan Timor Raya menjadi muara dari lelah dan hawa panas sepanjang hari - Algonz Dimas Bintarta Raharja

Pantai Pasir Panjang yang terbentang tak jauh di sisi jalan raya itu nampak membawa ketenangan meksi sayup-sayup bemo masih terdengar. Beberapa dari mereka masih tersisa untuk mengantar jemput para penjaja ikan bakar. Meski tak sebegitu ramai seperti pagi dan tengah hari ketika pasar-pasar tumpah berjejal liar di beberapa titik.

Tak jarang, di sepanjang jalan utama provinsi itu pelat motor DH berpapasan dengan pelat putih dari Timor Leste. Meski Kupang dan Dili terpisah lebih dari 400 kilometer, namun persinggungan ini tetap ada. Begitu pula bemo-bemo lintas kabupaten yang ada hingga Atambua. Perjalanan dari dalam bemo dapat menyajikan pemandangan rupa-rupa bukit tandus dan hutan kering sepanjang Trans Timor.

Belum lagi, jika kita menyeberang ke pulau-pulau kecil di sekitar Kupang. Pulau Semau salah satunya. Terletak tak jauh dari Kupang, perjalanan ke pulau ini harus ditempuh dengan perahu motor antar dermaga yang langsung memisahkan jalanan ramai dengan jalan pulau yang kering tandus dan becek di musim hujan. Jarak antar rumah seketika nampak jauh satu sama lain. Sedangkan titik-titik stepa dan sabana kecil mulai muncul dengan beberapa ternak menikmati rumput semenjana di atasnya.

Sayup-sayup bemo tak terdengar di pulau kecil macam Semau ini. Sebab kendaraan idola di tempat ini lebih akrab disebut Oto yang berupa truk engkel. Tanpa modifikasi dan hanya bermodal musik dengan soundsystem standar. Selepas pelabuhan Hansisi, tak ada lagi semarak terdengar ingar-bingar musik dari dalam kendaraan umum. Namun, dentum suara yang diterima sepanjang jalan di Kupang justru seolah mengendap di kepala. Membawa naluri unggul melebihi letak geografis.

Sama halnya seperti yang dirasakan seorang penumpang bus jurusan Banyuwangi yang dijejali lagu-lagu dangdut koplo dengan aksen Osing. Musik dari dalam angkutan umum senantiasa mengendap di kepala. Diolah dalam serebral dan neuron, lantas menjadi latar dari perpindahan fisik seseorang. Seperti lagu-lagu hip-hop khas Timor yang senantiasa terkenang bagi mereka-mereka penumpang setia bemo di seputaran Kota Kupang.

Korelasi angkutan umum dan musik menjadi salah satu hal yang memungkinkan adanya keterikatan emosi. Dan bersama keduanya, kita senantiasa terbawa pada pengkultusan memori dan relevansinya dengan lokasi. Begitu pula dengan setiap jarak yang terempas di jalanan Kota Kupang tiap harinya.


0 Komentar