Selain Perang, Pandemi adalah Musuh Utama Umat Manusia

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Sejarah mencatat berbagai pandemi berhasil mematikan ratusan juta umat manusia, lebih ganas dari perang. (Ilustrasi: Haluan.co)

Bukan hanya perang, manusia memiliki musuh utama yaitu wabah. Sejarah mencatat berkali-kali umat manusia terteror wabah, dan selalu kalah. Sudah waktunya manusia melipat jarak antara wabah dan kematian dengan cara membangun riset terkait vaksin untuk masa depan.

SALAH satu orang yang mewanti-wanti soal pandemi dan penyebaran wabah adalah Bill Gates. Hal ini pernah dilansir CBS News dalam wawancara pada sang taipan teknologi tersebut pada 2017. Wawancara yang diambil di sela acara World Economic Forum di Davos, Swiss.

Gates menyatakan bahwa tantangan dunia saat ini adalah wabah dan epidemi flu. Dan kita perlu mewaspadainya dengan pembangunan riset tentang vaksin yang benar-benar terarah. Sebab, Gates saat itu berkata bahwa epidemi penyakit menular dapat menghancurkan apapun, salah satunya adalah perekonomian.

Gates menambahkan bahwa kita, umat manusia, perlu mendahului dan mewaspadai datangnya novel virus, atau virus baru. Caranya adalah dengan membangun jaringan riset untuk menciptakan novel-vaccine, vaksin baru. Kita perlu satu langkah lebih cepat daripada datangnya wabah.

Gates melalui yayasannya lantas mendirikan Coalition for Epidemic Preparedness Innovations (CEPI) pada tahun 2016 yang bertujuan untuk mendahului datangnya pandemi berikutnya. Dan prediksi ini benar, empat tahun setelah CEPI berdiri dan bermarkas di Oslo, Norwegia, pandemi itu muncul. Dan tentu dunia nampak gagap melihat betapa pintarnya virus ini menyeberang lintas kontinen.

Bukan hanya perang, tapi pandemi adalah tekanan hebat bagi manusia dalam mempertahankan eksistensinya di dunia.

Wabah penyakit menular pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Plague of Athens yang terjadi pada tahun 430 SM. Penyakit ini menjangkiti kota Athena semasa kekuasaan Sparta dalam Perang Peloponnesian. Robert J. Littman dalam tulisannya “The Plague of Athens: Epidemiology and Paleopathology” mencatat bahwa penyakit ini menginfeksi sekitar 25 persen dari total populasi Athena. Jumlah ini setara dengan 75.000 hingga 100.000 orang.

Mencatut catatan sejarawan Athena, Thucydides, Littman mengemukakan bahwa wabah sempat kembali setelah tiga tahun sejak serangan pertama. Secara total, kota Athena dihantui wabah ini dari tahun 430 SM hingga 426 SM. Wabah ini pun secara langsung mengakibatkan kekalahan total Athena dari Sparta pada Perang Peloponnesian.

Wabah telah menghancurkan aspek sosial dan ekonomi Athena dalam waktu singkat, dan Sparta nampaknya tinggal menyapu sisa-sisa dari kejatuhan Kota Para Dewa itu. Pericles yang memimpin Athena waktu itu dibuat pusing bukan main oleh penyakit dengan gejala mirip tifus.

Sejak Plague of Athens, berkali-kali wabah timbul dan tenggelam di berbagai tempat. Plague of Justinian adalah salah satu wabah mematikan yang tercatat. Wabah ini terjadi pada tahun 541 hingga 542 SM pada awal kemunculannya. Pandemi ini bermula di Mesir dan kemudian menyebar hingga Kekaisaran Byzantium, tepatnya di Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur.

Dan setelahnya menyebar ke berbagai tempat sampai kawasan di dekat Laut Mediterania. Plague of Justinian diyakini tetap berada di Eropa hingga tahun 750 M. Sepanjang rentang waktu sampai pada saat itu, wabah ini bertanggung jawab atas berkurangnya populasi Eropa hingga 50 persen.

P. Allen dalam artikelnya yang berjudul The Justinianic Plagueyang dimuat dalam jurnal Byzantion Vol.49 (1979) mencatat bahwa Plague of Justinian merupakan jenis wabah bubonic atau pes bubo yang masuk dalam kelenjar kulit. Pes Bubo adalah salah satu dari tiga jenis wabah yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Dua lainnya adalah Wabah Septisemia dan Wabah Pneumonia.

Jika Bubo dikenal dengan pembengkakan kelenjar getah bening di leher atau pangkal paha. Septisemia terjadi dalam aliran darah, dan Pneumonia terjadi pada paru-paru atau sistem pernafasan. Allen mengutip catatan Procopius mengatakan bahwa Plague of Justinian sendiri memiliki tingkat kematian antara 68,6 persen hingga 78 persen. Seorang yang terjangkit wabah ini bisa meninggal pada hari kedua atau ketiga, menurut kutipan Allen pada Evagrius.

Di masa abad pertengahan, tak ada wabah paling mematikan selain Black Death atau Maut Hitam. Wabah ini juga salah satu wabah bubonic yang menyerang Eropa pada 1347 hingga 1351. Wabah ini diperkirakan sebagai salah satu wabah yang menyebar luas akibat majunya akses mobilitas dan mulai menumpuknya populasi di perkotaan pada era pertengahan di Eropa.

View this post on Instagram

Orang Eropa punya catatan masa kelam di abad ke-14: "Black Death". . Virus Corona, atau juga disebut Covid-19, mungkin tidak seganas wabah pes tersebut. Tapi kini dunia tengah berada di bawah ancamannya. Nyaris 500 ribu orang terinfeksi, sekitar 22 ribu orang tewas, dan kurang lebih 117 ribu yang selamat, hanya dalam tempo kurang dari enam bulan. Jika data tersebut bukan isyarat untuk ekstra waspada, maka kelak dunia akan segera memasuki fase "Maut Hitam" jilid II. . Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitikcom | @teknologi_id | @row.id | @neuronchannel | @hipotesamedia . . . #haluan #haluandotco #haluanmediagroup #pahlawan #rebahan #corona #covid19 #dirumahaja #haluanupdatecorona #janganpanikhadapicorona #bersatucekalcorona

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Sama seperti Justinian Plague, wabah Maut Hitam ini juga diakibatkan oleh infeksi yang dibawa bakteri Y. pestis. Bakteri ini dibawa oleh kutu yang berkontak dengan hewan pengerat yang sudah terinfeksi wabah. Dari kutu inilah kemudian manusia terjangkit Pes Bubo. Patogen Y. pestis diketahui menjadi biang keladi dari matinya 30 hingga 60 persen populasi Eropa di abad pertengahan.

Banyak pihak yang masih berdebat soal awal mula wabah ini. Beberapa pihak menempatkan China sebagai sumber terjadinya wabah yang kemudian tersebar ke Krimea melalui Jalur Sutra pada 1346. Sejak dari sanalah kemudian beberapa argumen menempatkan hewan pengerat seperti tikus sebagai inang dari patogen Y. Pestis yang kemudian disebarkan kutu hingga Eropa dan Mediterania. Hingga pada tahun 1400 tercatat bahwa populasi dunia turun secara estimasi dari 450 juta turun sampai sekitar 350 juta.

Philip Daileader menyebut angka 200 juta orang terbunuh wabah ini di Eropa dan Asia. Kawasan Timur Tengah juga amat terdampak dengan tingkat kematian lebih dari 60 persen. Hal ini terjadi di kawasan seperti Irak, Iran, dan Suriah. Demikian pula di Mesir, wabah ini mereduksi 40 persen dari total populasi. Hampir separuh dari total populasi Paris dan Florence, di Italia juga berkurang di tahun 1350. Kebinasaan juga terjadi pada 60 persen penduduk Hamburg dan Bremen. Hal ini berpengaruh dari berkurangnya pemukiman di Jerman pada tahun 1350, dari 170 ribu di tahun itu, menjadi sekitar 40 ribu pada tahun 1450.

Selepas Maut Hitam, masih ada wabah bubonic terjadi di Yunnan, China pada 1885 dan kemudian di Kanton, Hongkong pada 1894. Meningkatnya perkembangan transportasi saat itu menjadikan wabah ini menjadi wabah ketiga terkait Pes Bubo yang juga berkaitan dengan Tikus (Rattus flavipectus) sebagai perantara. Pandemi ini menyebar dari Asia, Semenanjung Arab, hingga Amerika Selatan, Australia, dan beberapa kasus belakangan di Eropa. WHO mencatat wabah ini menewaskan 12 juta orang di China dan India. Dan pandemi ini aktif hingga tahun 1960 dengan catatan kasus turun hingga 200 kasus per tahun.

Kasus pandemi berikutnya adalah yang terkenal semasa Perang Dunia I, yaitu Spanish Flu. Pandemi flu ini bermula pada 1918 hingga akhir tahun 1920 dengan perkiraan telah menginfeksi 500 juta jiwa, atau seperempat penduduk bumi saat itu. Dan dengan kematian sekitar 17 hingga 100 juta jiwa.

Center for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat di Amerika Serikat saja terjadi 675 ribu kematian akibat Spanish Flu. Alfonso XII yang memimpin Spanyol pada waktu itu memberi pernyataan bahwa negerinya adalah yang paling terdampak pandemi ini pada mulanya. Hal ini kemudian memicu penamaan wabah ini sebagai Spanish Flu. Meski hingga kini masih belum terang benar dari mana wabah ini bermula. Namun satu yang pasti, yaitu wabah ini membunuh lebih banyak orang daripada Perang Dunia I dengan total 17 juta orang tewas.

Paparan di atas setidaknya memberi gambaran singkat bagaimana manusia terus berperang melawan wabah. Tak hanya tiga jenis wabah bubo, septisemia, dan pneumonia, tetapi juga flu. Dan beda halnya dengan perang yang melibatkan ego politik, wabah justru sebaliknya. Sebab penanganan wabah memerlukan sinergi antarbangsa, dengan mengenyampingkan ego politik. Sebab terbukti pula bahwa bukanlah perang yang paling banyak merenggut nyawa manusia sepanjang sejarah bumi ini, tetapi penyakit. Untuk itulah, nampaknya tak relevan jika penanganan wabah dicampuradukkan dengan kepentingan politis.

Justru sebaliknya, seperti kata Bill Gates, manusia perlu mulai memikirkan pengembangan riset untuk menciptakan vaksin baru untuk menghadapi setiap virus baru yang mungkin muncul kembali di masa depan. Sebab, teror biologis lebih menakutkan dan tak mudah ditangani. Dan Gates sadar betul bahwa dalam sejarahnya, manusia amat dihantui oleh penyebaran wabah yang menjalar cepat dan membunuh perlahan dalam jumlah besar.

Musuh Kita Bukan Virus tapi Orang-orang Bebal

Sepertinya memang sudah waktunya, dunia mendengarkan kata peneliti dan saintis dalam menyiapkan strategi perang terhadap wabah. Dan seperti hari-hari ini kita mengalami banyak kehilangan daripada tenaga medis yang tumbang akibat Covid-19. Sudah saatnya pencegahan terhadap meluasnya wabah penyakit perlu diperkuat dengan mendengarkan mereka yang berjuang di garis depan. Alih-alih soal politik, urgensi hal ini adalah kemanusiaan dan bagaimana cara manusia memperlebar jarak antara hidup mati. Sebab, selamanya kita akan berperang dengan perkembangan wabah, mutasi virus, dan hal-hal lain yang tak nampak oleh mata telanjang.

Michelle Ziegler dalam artikelnya, The Black Death and the Future of the Plague” menuliskan bahwa diperlukan strategi inter-disiplin dan kerja sama multi-disiplin dalam proses membentuk strategi penanganan pandemi di masa depan. Hal ini bersifat menyeluruh dalam berbagai disiplin ilmu, seperti dalam proses memahami wabah Maut Hitam melalui studi Arkeologi yang memakai data karbon para korban yang dikubur di East Smithfiled, Inggris.

Atau, para sejarawan yang bisa mendukung bukti-bukti terperinci terkait penyebaran wabah. Begitu pula dengan berbagai pihak yang perlu ikut andil untuk memahami pergerakan wabah. Sehingga di masa mendatang, secara sinergis para peneliti lintas ilmu ini diharapkan mampu menciptakan strategi efektif bagi munculnya kasus virus baru seperti Covid-19.


0 Komentar