Selama Pandemi Akankah Kita Membiarkan Corona Membunuh Para Dokter

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Duka cita untuk seluruh tenaga kesehatan yang gugur. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Selama Pandemi Akankah Kita Membiarkan Corona Membunuh Para Dokter

Overview | Jakarta

Selasa, 07 April 2020 11:05 WIB


Akankah kita biarkan mereka gugur?

DI India selama isolasi saat pandemi, tenaga medis bekerja melakukan pendataan penderita, melakukan pengobatan, dan mensurvei daerah untuk memetakan penyebaran virus Corona. Dalam dunia yang sempurna, warga akan merespon dengan kebaikan. Berterima kasih telah datang ke daerah miskin yang jadi pusat pandemi. Itu di dunia yang sempurna, sayangnya saat wabah hadir, akal manusia kadang menjadi tumpul

Sejumlah tenaga kesehatan di India mengalami serangan dari masyarakat selagi berupaya menghentikan penyebaran virus corona. Beberapa laporan menyebut dokter dan tenaga medis yang melakukan pengamatan diludahi lantas diusir dari rumah warga yang diduga mengidap Covid-19.

Dalam salah satu kasus bahkan sejumlah pasien melontarkan makian kotor ke perawat-perawat perempuan. Ada pula laporan beberapa dokter dan keluarga mereka dikucilkan para tetangga karena pernah menangani pasien yang terinfeksi COVID-19.

View this post on Instagram

Nasib Miris Tenaga Kesehatan Corona di India: Diludahi, Diusir, Dimaki Warga⁣ ⁣⁣ Sejumlah tenaga kesehatan di India mengalami serangan dari masyarakat selagi berupaya saat menghentikan penyebaran virus corona. Beragam laporan menyebutkan beberapa dokter diludahi dan diusir dari rumah warga yang diduga mengidap Covid-19.⁣⁣ ⁣⁣ Dalam salah satu kasus bahkan sejumlah pasien melontarkan makian kotor ke perawat-perawat perempuan. Ada pula laporan beberapa dokter dan keluarga mereka dikucilkan para tetangga karena pernah menangani pasien yang terinfeksi Covid-19.⁣⁣ ⁣ ⁣ ⁣ Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitik_ | @teknologi_id | @row.id | | @neuronchannel | @hipotesamedia⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣ ⁣⁣⁣⁣ #haluanmediagroup #haluandotco #haluan #beritahariini #beritasumbar #padang #sumbar #heboh #coronavirus #waspadacorona #dirumahaja #haluanupdatecorona #janganpanikhadapicorona #bersatucekalcorona

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Pandemi COVID-19 melahirkan penyakit lain yang tak kalah mengerikan dari bakteri, yaitu kecurigaan dan matinya akal sehat. Mereka yang membenci dokter, mengucilkan pasien karena takut tertular. Gejala ini tak cuma terjadi di India, tapi juga di Indonesia.

Di Jakarta Timur, warga masyarakat setempat menolak dokter dan perawat yang baru pulang dari tugas lapangan. Mereka diusir dan tak diperbolehkan masuk kamar kosan karena warga takut tertular virus Corona. Sayangnya tragedi itu tak berhenti sampai di pengusiran belaka.

Dalam laporan yang ada saat ini, pandemi virus corona di Indonesia telah menginfeksi 2.092 orang dan menyebabkan 191 orang di antaranya meninggal dunia. Dari jumlah orang yang meninggal karena virus corona tersebut, terdapat pula tenaga medis yang berjuang di banyak fasilitas kesehatan di Indonesia.

Berdasarkan data yang dikonfirmasi oleh Humas Ikatan Dokter Indonesia hingga Minggu (5/4/2020), tercatat 18 orang dokter di Indonesia yang meninggal akibat positif terjangkit Covid-19 dan berstatus Positif dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) COVID-19. Para dokter dan tenaga medis tersebut diduga terinfeksi virus corona saat merawat atau menangani pasien-pasien virus corona di rumah sakit.

Saat ini dokter menghadapi dilema serius. Mereka memiliki sumpah jabatan untuk membantu siapapun yang sakit atas nama kemanusiaan. Di sisi lain, mereka juga manusia yang perlu perlindungan dan juga kesempatan untuk istirahat di tengah pandemi. Kematian-kematian dokter saat ini jelas pukulan berat. Keberadaan mereka demikian penting dalam perang mengakhiri penyebaran corona, sementara di sisi lain belum adanya alat perlindungan diri (APD), minimnya tenaga medis, membuat mereka mesti bekerja seadanya dan sebisanya.

Beban itu semakin meningkat ketika kita menyadari bahwa menjadi dokter perlu memiliki kompetensi ilmiah. Artinya pekerjaan ini bukan sesuatu yang bisa kamu dapat setengah-setengah dan seenaknya. Kalau seorang dokter melakukan kesalahan, gegabah melakukan diagnosis atau salah memberikan intervensi kesehatan, ia akan dituduh malpraktik, dikenai sanksi dan dihukum. Ijin praktiknya dicabut, dipecat dari pekerjaan, atau bahkan dipenjara.

Dokter, pada satu titik adalah ilmuan. Mereka menerapkan kaidah-kaidah sains saat bekerja, punya lembaga khusus yang mengawasi cara mereka bekerja, dan punya sumpah jabatan yang berimplikasi serius dalam cara kerjanya. Pandemi tidak membuat tanggungjawab itu berkurang, malah meningkat. Tidak hanya merawat pasien, tenaga kesehatan juga bertugas melakukan edukasi terhadap publik tentang ancaman penyakit. Secara terbuka, sejujur-jujurnya sesuai dengan sumpah jabatan mereka.

Jika ada kasus malpraktik misalnya, keluarga pasien bisa menggugat dokter untuk mengakses rekam medis. Di situ kita bisa memeriksa, apakah seorang dokter sudah melakukan pekerjaannya dengan benar. Apakah diagnosisnya tepat? Apakah obat dan intervensi yang dilakukan sesuai dengan keilmuan. Singkatnya ada akuntabilitas dalam bekerja.

Dalam sains, digunakan metode ilmiah atau scientific method untuk mencapai kesimpulan. Metode itu terdiri dari: formulasi permasalahan (dalam bentuk hipotesis atau pertanyaan), pengumpulan data, dan analisis data, serta pengambilan keputusan. Seluruh proses ini bisa diuji, ditantang, dan diperiksa oleh dokter yang lain. Sehingga mereka bisa saling berkembang untuk membuat pemeriksaan/penanganan pasien lebih. baik lagi.

Seorang dokter dalam pemeriksaan kesehatan melakukan diagnosis. Atau penentuan jenis penyakit dengan cara meneliti (memeriksa) gejala-gejalanya. Setelah pengumpulan data dilakukan, data dianalisis, baru kemudian keputusan intervensi dibuat. Dalam kondisi yang ideal, kita mempercayakan analisis sains pada pakarnya. Sayang di banyak negara, pendapat dan kepakaran para ilmuwan dan doktor diabaikan.

Amerika Serikat dan Belarusia misalnya adalah negara-negara yang menyepelekan pendapat para dokter. Di Belarusia, presidennya mengatakan bahwa Vodka dan sauna bisa mengatasi pandemi. Sementara di Amerika Serikat, Trump meniolak melakukan lockdown atau mendengarkan pendapat para ahli terkait corona sampai akhirnya angka kematian meningkat. Total 1.200 orang meninggal dalam sehari di sana sementara 370 ribu kasus infeksi terkonfirmasi di Amerika.

Saat ini dokter, perawat, tenaga medis pembantu, dan siapapun yang berda di garda depan penanganan COVID-19 lebih berharga daripada politisi. Jumlah tenaga medis sangat terbatas sementara politisi nyaris tiap hari berkembang biak. Sebagai gambaran DKI Jakarta memiliki 14.441 dokter pada 2018. Angka ini terdiri dari 6.554 dokter spesialis, 6.121 dokter umum, dan 1.766 dokter gigi. Persebaran terdapat berada di rumah sakit dengan 6.554 dokter spesialis, 5.016 dokter umum, dan 1.420 dokter gigi. Sementara yang terdapat di puskesmas sebanyak 1.105 dokter umum dan 346 dokter gigi.

Angka itu jelas tidak cukup merawat para pasien corona jika terjadi ledakan pasien. Berdasarkan hasil kajian Badan Intelijen Negara (BIN), kata dia, estimasi jumlah kasus pasien positif Covid-19 hingga akhir Juli bisa mencapai angka 106.278 kasus.

Cara terbaik untuk mencegah kewalahannya tenaga medis adalah dengan mematuhi rekomendasi dari para dokter dan ilmuwan. Tetap di rumah, jaga kesehatan, rajin cuci tangan, dan makan sehat secara teratur.

Dalam mengatasi permasalahan yang berkaitan dengan keilmuan, yang bisa membantah sains adalah sains yang lebih baik. Saat pandemi, di mana seluruh ilmuan, dokter, insinyur, peneliti bersatu mencari solusi melalui metode ilmiah, kita semestinya percaya pada otoritas keilmuan mereka. Bukan perkataan politisi, bukan klaim pejabat, atau doa-doa rohaniawan.

Mengapa?

Gugurnya banyak dokter saat pandemi kali ini merupakan kehilangan yang luar biasa. Al fatihah untuk mereka yang gugur dan berkorban dalam perang melawan pandemi.


0 Komentar