Selamat Hari FIlm : Industri Film Dan Corona
Infografis Mengenai Perkembangan Film di Indonesia

Berbagai angka menunjukkan industri film Indonesia terus menunjukkan pertumbuhan yang signifikan.

Pertambahan jumlah layar hingga mencapai ribuan dalam satu dasawarsa terakhir, perolehan penonton yang mencapai angka 58,2 juta pada tahun 2019, serta semakin banyaknya film Indonesia yang menembus perolehan box office, menjadi pertanda semakin baiknya perfilman Indonesia hari ini.

Jika dilihat dari sisi industri, perfilman Indonesia semakin tumbuh positif,. salah satu indikatornya adalah volume produksi film panjang nasional yang terus meningkat dan jumlah penonton film domestik yang juga mengikuti perkembangannya. Berdasarkan data yang dihimpun oleh filmindonesia.or.id, sumbangan data dari produser memang cukup besar berkontribusi dalam kelengkapan data penonton. Pada tahun 2018 misalnya, terdapat 67 persen (88 dari 132 judul) data penonton diperoleh dari produser langsung. Kontribusi data pada semester pertama 2019 juga telah mencapai 65 persen (33 dari 51 judul sampai Juni 2019) dari keseluruhan data yang diperoleh. Semakin banyak data produser yang diberikan dan diterbitkan, maka akurasinya semakin tinggi dan semakin mendekati kondisi sebenarnya.

Salah satu pertumbuhan yang cukup signifikan dari industri film Indonesia hari ini adalah pertumbuhan jumlah layar dan bioskop. Pada tahun 2012, Indonesia hanya memiliki 145 bioskop dengan 609 layar. Jumlah ini meningkat tajam menjadi 343 bioskop dengan 1.756 layar pada Desember 2018. Artinya, dalam waktu enam tahun terakhir, jumlah bioskop bertambah hingga 136,5 persen dan jumlah layar bertambah hingga 188,34 persen. Hingga Desember 2018, Bioskop sudah tersebar di 32 provinsi di Indonesia. Hanya Provinsi DI Aceh dan Provinsi Kalimantan Utara yang saat laporan ini ditulis tidak memiliki bioskop.

Capaian dan perolehan ini jelas merupakan tanda positif bagi industri film Indonesia hari ini. Namun, di balik kemajuan-kemajuan di atas, terdapat juga tantangan-tantangan yang dihadapi oleh para pelaku perfilman. Misalnya saja keragaman cerita, jumlah jam tayang untuk film Indonesia, kesempatan dan jenjang karir bagi lulusan sekolah film, hingga persoalan kompetensi SDM. Secara sederhana, genre dalam film dapat diartikan sebagai kategori yang berbasis pada kesamaan dalam narasi dan/atau emosi yang mungkin dialami oleh penonton. Grafik-grafik di bawah akan memberi gambaran yang lebih rinci perihal keragaman film Indonesia dari tahun 2016 hingga 2018 berdasarkan genre. Tidak sulit untuk melihat bahwa genre ‘drama’, ‘komedi’ dan ‘horor’ mendominasi konten film domestik. Pada 2018, tahun puncak produksi film domestik dalam tiga tahun berturut-turut, 132 judul film tayang di bioskop seluruh Indonesia, 46% dari total 132 judul film, atau 60 judul film adalah film drama.

Tentu saja klasifikasi berdasarkan genre memiliki keterbatasan. Selain ditentukan oleh penilaian subjektif pendata, hampir tidak ada film yang mengandalkan elemen narasi tunggal, misalnya, drama dalam keseluruhan film. Sebagai ilustrasi, dalam database FI, genre film ‘drama’ memiliki elemen dominan dari genre yang berbeda, antara lain drama komedi atau drama petualangan, dan juga mencantumkan sub-genre seperti drama anak-anak, drama romantis, dan lainnya. Bahkan film yang dijual sebagai film horor pun, sering kali disisipi unsur komedi.

Perspektif sempit yang dipakai untuk membaca keragaman konten film Indonesia sebatas genre menjadi lebih problematis karena beberapa alasan. Istilah keragaman dalam film mustahil dipersempit dalam pengertian ‘narasi yang dominan’ dan/atau racikan elemen emosi yang diharapkan dari penonton. Keragaman dalam konten media, baik medium teks ataupun medium audio-visual, lekat dengan konsep representasi dan gagasan yang kompleks—meliputi isu ruang, golongan sosial-ekonomi penonton, gender, budaya lokal, dan lain-lain. Bila keragaman konten film Indonesia terus menerus dibicarakan dari sudut pandang ‘genre’, ada konsekuensi yang serius terhadap makna keragaman, inklusivitas, serta realita sosial yang terjadi dan/atau tengah berkembang di masyarakat—baik di level nasional, ataupun di level lokal. Suatu pembahasan khusus mengenai film-film yang berada di luar kategori genre mayoritas ini sangat penting dilakukan di masa depan untuk mengenali potensi kekayaan keragaman konten serta reaksi penonton terhadap film-film dari jenis ini.

Bagaimana Industri Film Menghadapi Covid19?

Pandemi Covid-19 saat ini mengguncang dunia, termasuk industri film, bahkan holywood pun terkena efek akibat Covid19 , industri film di Indonesia pun juga terkena. Ada beberapa film yang jadwal syutingnya diundur tidak tahu sampai kapan, seperti yang diungkapkan Joshua Suherman di dalam live Instagram Faldo Maldini. Salah stau jalan terbaik yang diambil oleh beberapa rumah produksi adalah meliburkan karyawan dikarenakan jaminan untuk aman dari wabah COVID19, bagaimanapun sulit rasanya kalau industri film bekerja “work from home”, dikarenakan mengambil film merupakan rata-rata hal teknis.

Dalam rentang beberapa waktu kedepan diharapakan para insan creator film mampu berbenah untuk menciptakan film yang bagus agar mampu bersaing dengan film-film lain dan mampu menembus pasar global, pengembangan kualitas SDM salah satunya dengan belajar menjadi penulis skenario yang baik, dikarenakan jarang sekali ada penulis skenario yang berkualitas dari Indonesia, semoga ini bias catatan penting bagi pemerintah untuk melahirkan talenta-talenta baru untuk menjadi penulis skenario yang baik lewat program inkubasi atau beasiswa ke luar negeri untuk penulis skenario potensial.

Bayangkan berapa banyak rencana yang sudah disusun darri tahun lalu untuk promosi film yang akan tayang di tahun 2020 ini, yang harus gagal karena ada pandemic Covid19, rencana yang harus diubah, tour-tour yang harus batal, batalnya film tentu ini menjadi tamparan sendiri bagi rumah produksi untuk mengatur ulang kembali rencana-rencana baru untuk lebih siap lagi. Semoga para sineas-sineas film di Indonesia bisa bersabar dan mengambil hikmah atas adanya pandemic Covid19.


0 Komentar