Sembilan Lembaga Donor di Dunia Siap Kucurkan Bantuan Buat Media dan Wartawan
Mata uang dolar Amerika Serikat (Foto: Haluan.co/Fajar AM)

JAKARTA, HALUAN.CO - Sembilan lembaga yang bergerak di bidang media menyediakan pendanaan bagi jurnalis dan media lokal yang ingin meliput mengenai COVID-19.

Mengapa ini penting: Wabah virus corona atau COVID-19 yang menular di lebih 200 negara, juga berimbas ke media massa yang menjadi sumber informasi, termasuk perkembagan kasus COVID-19.

Apa saja lembaga donor itu: Dikutip Suara yang dilansir dari Global Investigative Journalism Network (GIJN), Rabu (22/4/2020), kesembilan lembaga donor itu adalah National Geographic Society (Global), Pulitzer Center (Global), Internews (Global) dan Africa-China Reporting Project (Africa).

Kemudian International Women’s Media Foundation (Global), Meeden Microgrants for COVID-19 Media Work in Emerging Economies, Writers Emergency Assistance Fund (Global), The Photographer Fund (Global) dan Google (Global).

Bagaimana bentuk batuannya: Masing-masing lembaga mempunyai ketentuan sendiri dalam menyalurkan bantuannya.

National Geographic Society (Global):

• Lembaga ini telah menyiapkan dana berkisar antara 1.000-8.000 dollar atau sekitar Rp 15,5-124,7 juta untuk jurnalis di seluruh dunia.

• Pendanaan tersebut mencangkup persiapan, tanggapan, dan dampak pandemi global yang harus diajukan melalui pelaporan berbasis bukti.

• National Geographic fund akan menempatkan penekanan khusus pada penyampaian berita kepada populasi yang kurang terlayani.

• Tertarik pada model distribusi lokal dan bahkan hiper-lokal, dan ingin melihat cerita ketidakadilan yang dibawa COVID-19.

• Penulis, fotografer, videografer, jurnalis audio, kartografer, pembuat film, dan pakar visualisasi data dapat mengajukan permohonan untuk pendanaan ini.

Pulitzer Center (Global):

• Pulitzer Center membuat sebuah program yakni Coronavirus News Collaboration Challenge. Program pendanaan ini dirancang untuk mendorong kolaborasi jurnalis dan redaksi yang inovatif tentang peliputan pandemi Covid-19 antar negara dan nasional.

• Program ini terbuka untuk semua jurnalis independen dan redaksi di Amerika Serikat dan negara lain.

• Untuk mengajukan pendanaan ini, proposal yang diajukan harus terdapat komponen kolaborasi yang kuat untuk pelaporan dan publikasi. Fokus pada masalah sistemik, isu under-reported yang mendasari terjadinya krisis virus corona.

• Pendekatan yang digunakan berbasis data dan/atau interdisipliner untuk melaporkan berita mengenai virus corona. Pegang akuntabilitas yang kuat.

• Pulitzer Center menerima aplikasi oronavirus News Collaboration Challenge secara bergulir hingga akhir tahun ini.

Internews (Global):

• The Internews Information Save Lives Rapid Response Fund menerima proposal pendanaan dari media, organisasi dan individu yang menyediakan berita dalam bahasa lokal dan bentuk informasi publik lainnya yang terkait dengan pandemi COVID-19 dan dampaknya.

• Pendanaan tersebut tersedia 500-5.000 dollar yang disediakan untuk penciptaan, produksi, dan penyebaran informasi terkait dengan COVID-19.

• Berita yang disampaikan berisi informasi yang akan membuat orang tetap aman dan dapat menjadi acuan dalam pengambilan keputusan berdasarkan informasi untuk diri mereka sendiri, keluarga dan komunitas.

• Berita yang dibuat bisa mengenai perkembangan ilmiah, gejala dan perawatan, kebijakan dan prosedur pelayanan kesehatan sekitar, berita dan informasi komunitas lokal yang bermanfaat setiap hari.

• Internews juga akan memberikan layanan konsultasi gratis kepada jurnalis mengenai proses peliputan dalam berbagai bahasa, termasuk Inggris, Spanyol, Prancis, Arab, dan Rusia. Lihat semua parameter di sini.

Africa-China Reporting Project (Africa):

• Menyediakan pendanaan untuk jurnalis dalam investigasi terkait Covid-19. Total pendanaan hingga 1.500 dollar atau sekitar Rp 23,3 juta.

• Proyek ini diperuntukkan investigasi mengenai tanggapan dasar saat ini, kapasitas, keberhasilan/kegagalan, kekurangan, layanan dan kolaborasi di negara-negara Afrika, masyarakat, dan organisasi dalam menangani Covid-19. Proposal akan diterima hingga 30 April mendatang.

International Women’s Media Foundation (Global):

• Dana Bantuan Jurnalisme IWMF juga terbuka untuk jurnalis yang mengidentifikasi wanita dalam kesulitan, jurnalis yang menghadapi kesulitan keuangan yang signifikan, kehilangan pekerjaan, baru-baru ini diberhentikan atau yang sangat membutuhkan bantuan.

• Dana yang disediakan hingga $ 2.000 per permintaan. Catatan: Pertimbangan khusus akan diberikan berdasarkan kasus per kasus kepada yang memiliki kebutuhan keuangan lebih besar.

Meeden Microgrants for COVID-19 Media Work in Emerging Economies:

• Meedan Check Global mengeluarkan COVID-19 Microgrants, khusus ditujukan untuk kelompok yang bekerja di dalam konteks ekonomi berkembang (Afrika Utara/Asia Barat, Afrika, Amerika Latin, kawasan Asia-Pasifik).

• Besar pendanaan untuk individu 500 dollar (sekitar Rp 7,7 juta), organisasi hingga 2.000 dollar (sekitar Rp 31,1 juta), dan proyek kolaboratif dapat mengajukan hingga 2.500 dollar (sekitar Rp 38,9 juta).

Writers Emergency Assistance Fund (Global):

• Menyiapkan fana hanya bagi penulis yang tidak dapat bekerja karena mereka saat ini sakit atau merawat seseorang yang sakit, bukan mereka yang kehilangan pekerjaan.

• Penulis yang mendaftar tidak harus tinggal di Amerika Serikat tetapi harus menyerahkan buku atau artikel yang ditulis dalam bahasa Inggris.

The Photographer Fund (Global):

• Dana Fotografer yang disponsori oleh Format bertujuan untuk membantu para fotografer wiraswasta yang menghadapi kesulitan keuangan akibat COVID-19.

• Format adalah sebuah platform portofolio online yang dirancang untuk fotografer sebagai tempat menunjukkan hasil karya dan mempromosikan bisnis mereka. Bantuan tersedia hingga 500 dollar (sekitar Rp 7,7 juta) per orang.

Google (Global):

• Global Journalism Emergency Relief Fund dibentuk untuk membantu organisasi berita berskala kecil dan menengah yang menghasilkan berita asli bagi masyarakat setempat.

• Pengajuan aplikasi akan ditutup pada 29 April pukul 11:59 malam. Aplikasi akan diproses secara bertahap sehingga pengiriman akan dilakukan sesegera mungkin.

• Pelamar yang memenuhi syarat harus memiliki kehadiran digital dan telah beroperasi setidaknya selama 12 bulan.

Bagaimana di Indonesia:

Sejak wabah corona masuk di Indonesia belum ada informasi ada lembaga yang membantu media atau wartawan.

Ketua Dewan Pers Mohammad Nuh hanya mengapresiasi jurnalis yang meliput pemberitaan mengenai virus corona.

Dia meminta jurnalis tetap menjalankan tugas menyampaikan informasi kepada masyarakat di tengah pandemi virus corona.

"Saat ini Indonesia mengalami ujian yang sungguh luar biasa. Karena itu, dalam suasana seperti ini kebersamaan, bersatu untuk melawan COVID-19. Menjadi kewajiban kita semua,” kata Nuh dalam video yang diunggah di laman YouTube Dewan Pers.

Nuh berpesan kepada perusahaan pers agar tetap mengacu pada protokol-protokol penanganan COVID-19.

WNI Terpapar Corona di Luar Negeri Terus Membengkak

Ketua Umum PWI Atal S Depari mengakui bahwa wartawan termasuk rentan terinfeksi virus corona saat meliput pandemi virus corona. Karena itu dia meminta wartawan memerhatikan protokol kesehatan saat liputan.

“Jangan melakukan peliputan selama belum memenuhi protokol kesehatan di tengah pandemi virus Corona,” ujarnya dalam keterangan resminya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha BNPB Jakarta, Jumat (10/4/2020).

Ketua AJI Jakarta Asnil Bambani, dalam siaran persnya, menyatakan bahwa pers nasional dalam Undang-Undang Pers nomor 40 tahun 1999 memiliki peran sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial.

Hanya saja dia mengingatkan perusahaan media, harus memperhatikan wartawannya sesuai Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.


0 Komentar