Semesta Sang Intelektual Pembangkang: Arief Budiman
Arief Budiman/Soe Hok Djin. (Ilustrasi: Haluan)

Saat menulis obituari pendek tentang adiknya yang meninggal di Semeru, Arief merasa tergetar oleh perjuangan Gie yang selama ini mungkin tak ia pedulikan. Ketika menjemput jenazah Hok Gie dari Semeru pula, di sebelah peti mati adiknya, Arief berkata, “Gie, kamu tidak sendirian.” 

SELAMA lebih dari satu dekade menderita Parkinson--kelainan saraf progresif yang menyerang sistem motorik--Arief Budiman akhirnya harus menyerah. Kamis, 23 April 2020, kakak kandung Soe Hok Gie ini meninggal pada usia 79 tahun di Rumah Sakit Ken Saras, Semarang, Jawa Tengah. Arief meninggalkan seorang istri, dua anak, dan empat cucunya.

Terlahir dengan nama Soe Hok Djin di Jakarta pada 3 Januari 1939, Arief memang tidak pernah sepopuler adiknya. Soe Hok Gie, sang demonstran yang menghembuskan nafas terakhir di Gunung Semeru itu, lebih dikenal luas setelah kisahnya dalam 'Catatan Seorang Demonstran' diangkat ke layar lebar pada 2005 dengan judul ‘Gie’.

Hubungan kakak beradik itu sejatinya tak terpisahkan. Bukan hanya karena pertalian keluarga, tapi juga sebagai sesama aktifis ’66. Keduanya merupakan keturunan Tionghoa--leluhur mereka berasal dari Hainan, Tiongkok--yang kecintaannya terhadap Indonesia tak hanya diungkapkan lewat tulisan, tapi juga tindakan. Kedua bersaudara ini juga sama-sama menentang kediktatoran era Soekarno dan Soeharto.

Namun demikian, Arief dalam 'Sebuah Renungan' di pengantar buku Soe Hok Gie mengaku tidak bisa begitu banyak menceritakan sosok adik kandungnya. “Saya terlalu terlibat di dalam hidupnya,” begitu katanya.

Sedangkan Hok Gie sendiri dalam ‘Catatan Seorang Demonstran’ menceritakan, sejak kecil bersama sang kakak, ia selalu berkunjung ke perpustakaan umum dan taman bacaan di Jakarta. Saking cintanya dengan buku, saat masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) mereka sudah membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer.

Kecintaan Arief dan Gie terhadap buku sangat dipengaruhi didikan dan kebiasaan sang ayah mereka, Soe Li Piet. Piet adalah seorang sastrawan yang lebih dikenal dengan panggilan Salam Sutrawan. Ia pernah menjadi wartawan dan penulis di Mingguan Sunday Courier, Mingguan Suara Rakyat, dan Harian Republik. Ia menulis dalam bahasa Melayu-Tionghoa. Sedang ibu mereka bernama Nio Hwie An. Keduanya dibesarkan di keluarga Tionghoa yang berbahasa Indonesia.

Setelah lulus SMP, Arief dan Gie melanjutkan sekolah di SMA Katholik Kolese Kanisius melalui jalur prestasi. Arief kemudian memilih jurusan alam, sementara Gie mengambil jurusan sastra.

Berpindah ke fase selanjutnya, Arief dan Gie melanjutkan pendidikan di Universitas Indonesia (UI) usai lulus SMA. Arief menempuh bidang psikologi, sedangkan Gie fokus di sejarah. Di sanalah mereka berproses menjadi aktivis dan mengasah sikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat dan menimbulkan ketidakadilan. Relasi mereka cukup renggang di fase ini, tapi itu bukan dalam konotasi yang negatif.

Menurut sahabat Arief, Goenawan Mohammad, dalam tulisannya ‘Arif Budiman: Yang Akrab dengan Yang Murni’, kakak beradik itu sebenarnya jarang bicara satu sama lain jika bertemu di antara orang banyak. Mereka saling menjauh dan tampak tak ingin ada keakraban.

Dunia pergaulan mereka pun berbeda. Jika Gie akrab dengan aktivis Gerakan Mahasiswa Sosialis (Gemsos) dan kalangan Partai Sosialis Indonesia (PSI)--partai ini kelak dibubarkan Soekarno dan pemimpinnya, Soetan Sjahrir, dipenjarakan--, serta akrab dengan sesama penggemar mendaki gunung, Arief lebih banyak bergaul dengan perupa, penulis dan seniman.

Karena kedekatannya dengan seniman pula, Arief pernah menjabat sebagai anggota Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), anggota Dewan Redaksi majalah Horison, serta anggota Badan Sensor Film periode 1968-1971. Esainya yang berjudul ‘Manusia dan Seni’ menjadi pemenang ketiga majalah Sastra pada tahun 1963.

Saat menulis obituari pendek tentang adiknya yang meninggal di Semeru, Arief merasa tergetar oleh perjuangan Gie yang selama ini mungkin tak ia pedulikan. Saat menjemput jenazah Hok Gie dari Semeru pula, di sebelah peti mati adiknya, Arief berkata, “Gie, kamu tidak sendirian.”

Hingga akhir hayatnya, Arief memegang teguh janji tersebut.

Pilihan Mengganti Nama

Dalam ‘Melawan Tanpa Kebencian’, buku yang berisi kumpulan tulisan para sahabat tentang Arief dan diluncurkan saat ulang tahunnya ke-77, sang istri Leila Chairani menceritakan kisah di balik keputusan Djin mengganti namanya menjadi Arief Budiman.

Leila, yang merupakan mantan sahabat Arief itu menulis, nama Soe Hok Djin diganti ketika mereka akan menikah. Dan karena ‘Djin’ dalam bahasa Tionghoa berarti bijaksana, maka nama ‘Arief’ dirasa paling cocok untuk dipilih. Adapun ‘Budiman’ ditambahkan sebagai harapan agar ‘Arief’ berbudi luhur. Saat akan menikah itu pula, Arief resmi beragama Islam.

Penggantian nama tersebut sekaligus menjadi pengejawantahan cinta Arief terhadap Indonesia. Apalagi dengan adanya paham asimilasi yang menganjurkan orang Tionghoa untuk mengganti nama menjadi lebih Indonesia, serta kawin dengan orang-orang asli atau tidak Tionghoa.

Kendati begitu, Arief kelak menjadi sosok yang intens memperjuangkan pluralisme dan multikulturalisme, terutama sejak Reformasi Mei 1998 yang membuat keturunan Tionghoa banyak menjadi korban. Ia dengan tegas menunjukkan menentang rezim Soeharto yang lalim dan korup. Dan sebagai seorang intelektual, kritikan tajam Arief terhadap rezim Soeharto selalu didasari berbagai argumentasi akademik yang sulit untuk dibantah.

Siauw Tiong Djin, anak dari Siauw Giok Tjhan yang pernah menjadi musuh politik Arief Budiman dalam sebuah tulisannya Arief Budiman sang Pejuang dan Akademisi di Kompasiana pernah menulis: “Misi perjuangan Arief adalah membangun Indonesia yang pluralistik, adil, dan demokratik. Di sinilah kita bisa menilai kualitas Arief sebagai seorang pejuang.”

Intelektual Pembangkang

Saat kuliah di UI, Arief yang baru berusia 22 tahun, amat terpikat dengan filsafat Albert Camus dan eksistensialisme Jean-Paul Sarte. Melalui berbagai pemikiran tersebut, ia dan rekan-rekannya, terutama Goenawan Mohamad, merumuskan Manifes Kebudayaan (Manikebu) pada Oktober 1963. Manikebu merupakan reaksi atas kemunculan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang mengusung realisme sosialis.

Arif kemudian juga aktif dalam berbagai demonstrasi. Dalam bukunya ‘Kebebasan, Negara, Pembangunan: Kumpulan Tulisan 1965-2005’ bagian ‘Catatan Kecil Seorang Demonstran’, Arief bercerita bagaimana ia dan teman-temannya selalu didukung oleh masyarakat lapisan bawah, seperti sopir, kernet, pedagang, bahkan aparat, ketika hendak melakukan aksi.

Syahdan, ketika akan demonstrasi di kawasan Salemba, Pasar Cikini, dan Lapangan Banteng pada 14 Januari 1970, Arief dan kawan-kawan bahkan dibantu menempelkan pamflet-pamflet unjuk rasa. Aksi saat itu merupakan penentangan terhadap kenaikan harga bensin dan minyak tanah hingga pengusutan korupsi di kalangan pejabat.

Tahun 1968, Arief menyelesaikan studinya di UI. Sebagai usaha merampungkan skripsinya, ia mengkaji puisi-puisi Chairil Anwar melalui pendekatan eksistensialisme. Skripsi itu kelak dibukukan dengan judul ‘Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan’ (Best Publisher:2018).

Ketika sudah berkeluarga, jiwa aktivis Arief tidaklah padam. Saat pemerintah berencana membangun Taman Mini Indonesia Indah tahun 1971, misalnya, ia mengkritik kebijakan itu karena dianggap tidak melihat faktor kondisi dan prioritas masyarakat.

Atas sikapnya tersebut, Arief ditahan di Tanjung Priok dan dipenjara di Kebayoran Lama tanpa diketahui istri dan keluarga lainnya. Sang istri sangat khawatir karena beberapa penangkapan di masa Orde Baru sering berakhir dengan missing people. Namun, sebulan kemudian, Arief kembali pulang dengan tubuh sedikit lebih kurus.

Hanya sebulan keluar dari tahanan, Arief kembali turun ke jalanan untuk memprotes hasil Pemilu 1971 yang didominasi oleh partai Golongan karya. Ia pun menghimpun para mahasiswa dan menciptakan kelompok ‘Golongan Putih alias ‘Golput’.

Akibat berbagai catatan hitam sebagai demonstran tersebut, tak ada kantor di Jakarta yang mau mempekerjakan Arief. Tawaran kerja justru datang dari kantor Congress For Cultural Freedom di Perancis, 1972. Dari situ, Arief berhasil menembus Harvard University, Amerika Serikat, dan menyelesaikan program PhD nya dalam ilmu sosiologi di Harvard University pada akhir 1970-an.

Sepulang dari Harvard setelah mengantongi gelar PhD, Arief mengajar di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga. Namun, ia dipecat sebagai buntut perseteruan akibat pemilihan rektor yang dinilainya tidak adil. Arief kemudian meneruskan karier di Melbourne University sampai pensiun.

Arief bersama keluarga kemudian pulang ke Salatiga. Di sana, ia mendirikan Yayasan Geni bersama sejumlah mahasiswa yang pernah memprotes keputusan walikota soal larangan becak beroperasi di tengah kota serta memprotes pemotongan pohon-pohon yang ada.

Ada sebuah kisah menarik saat Arief menerima penghargaan Bakrie Award pada Agustus 2006 untuk bidang penelitian sosial. Dalam pidatonya, ia menyatakan: “Saya ini orang kiri yang menolak paradigma modernisasi dan pembangunanisme, tetapi malah mendapatkan penghargaan dari orang kanan.”

Sebagai seorang “intelektual pembangkang”, Arief Budiman sesungguhnya telah meninggalkan sesuatu yang amat berharga bagi bangsa ini: nyali besar untuk tidak bungkam terhadap kesewenang-wenangan. Dan sebab itulah ia wajib dikenang.


0 Komentar