Semua Akan Luhut pada Waktunya

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Nama tenar Luhut Binsar Panjaitan dan kiprahnya di dunia pemerintahan perlu dijadikan acuan bagi para pemuda dengan masa depan tak terarah. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Semua Akan Luhut pada Waktunya

Overview | Jakarta

Jumat, 03 April 2020 16:21 WIB


Keinginan pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menghentikan mobilitas angkutan umum ini berbenturan dengan kebijakan Plt. Menteri Perhubungan yang membawahi urusan ini. Hasilnya, pemberhentian arus mudik dadakan di tengah wabah ini gagal.

MEMINJAM salah satu syair lagu Imam Besar The Panasdalam Bank, Pidi Baiq, rasa-rasanya sudah saatnya anak-anak muda di negeri ini bercita-cita menjadi Luhut Binsar Panjaitan. Daripada berkeliaran tidak jelas dengan masa depan tak tentu.

~cita-citaku ingin menjadi Luhut, mana mungkin ku bukan tamatan Akmil

Sebelum di depan kosan saya didatangi abang-abang tukang nasi goreng dengan membawa handy talkie, lebih baik saya lanjutkan tulisan ini. Sekali berarti, setelah itu tercyduc.

Pertama-tama, kita perlu menarik satu paradigma bahwa jika di negeri ini hanya ada dua kampus yang sangat berkuasa. Keduanya ialah Akademi Militer dan Akademi Kepolisian.

Kebetulan, dua tempat ini berkedudukan di Jawa Tengah. Apa pasal? Karena lulusan kedua institusi ini punya peluang lebih besar untuk menjadi orang besar di negeri ini. Orang besar di sini bukan karena obesitas atau karena sudah berubah menjadi Megazord, tapi orang dengan jabatan serta kekuasaan tinggi. Bisa saja komisaris perusahaan, ketua pengurus persatuan cabang olahrga, ketua partai, bupati, menteri, bahkan presiden.

Dalam lima belas tahun terakhir saja tercatat hanya dua institusi pendidikan yang mengirimkan alumni atau jebolannya sebagai presiden di Indonesia. Dan juaranya sudah tentu Akademi Militer dengan dutanya, Yth. Bapak SBY yang menjabat presiden dalam satu dekade. Sisanya adalah Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan presiden petahan saat ini.

View this post on Instagram

Pemerintah akan menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dalam penanganan COVID-19. Jokowi mengklaim langkah ini cocok untuk diterapkan di Indonesia. . Menanggapi keputusan Jokowi, Luhut menyebutkan, beliau enggan kejadian buruk di negara lain menimpa Indonesia. . Beliau pun menerangkan alasan pemerintah dalam menerapkan PSSB ini. . "Berfokus pada keberlangsungan hidup seluruh masyarakat ditinjau dari berbagai aspek kebutuhan di tengah pandemi COVID-19 di Indonesia. Seperti misalnya, kebijakan terkait arus mudik ketika Idul Fitri nanti yang masih saya kaji secara serius mengingat masa pandemi seperti sekarang," tuturnya. . Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitikcom | @teknologi_id | @row.id | @neuronchannel | @hipotesamedia . . #haluanmediagroup #haluandotco #haluan #beritahariini #beritanasional #viral #trending #heboh #coronavirus #waspadacorona #jokowi #luhut #dirumahaja #haluanupdatecorona #janganpanikhadapicorona #bersatucekalcorona #karantinawilayah

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Sebagian alumni Kampus Biru ini boleh tentu bangga oleh karena hal ini. Bangga bukan kepalang hingga di Grup Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada) yang saya ikuti di platform Facebook saja penuh dengan perang badar menyoal politik-politik basi ini.

Bagi alumni Akmil? Oh tentu saja, hal ini sudah biasa. Mereka nampaknya tak begitu heboh karena alumninya menduduki jabatan penting di beberapa pos dalam pemerintahan atau perusahaan pelat merah. Sebab, itu bukan hal baru lagi. Meski dalam dua pemilihan presiden terakhir alumni mereka gagal, tapi bukan berarti tak punya strategi.

Sebab di akademi ini strategi adalah hal wajib, hukumnya fardhu’ ain. Sehingga jika Anda kalah di satu titik, tetap ada celah lainnya. Dan voila, mereka berhasil menempatkan beberapa alumninya pada posisi menteri di periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi.

Tercatat ada empat lulusan Akademi Militer dan satu alumni Akademi Kepolisian di jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju. Ada nama-nama seperti Moeldoko, Fachrul Rozi, Prabowo Subianto, dan Lord Luhut Binsar Panjaitan. Sedangkan dari Akademi Kepolisian ada Tito Karnavian. Lho Mas, itu Terawan kan tentara?

Khusus untuk Yth. Bapak Terawan itu kasus khusus, karena beliau tercatat juga sebagai alumni di almamater saya di UGM. Bedanya, kemudian ia masuk militer dengan jalur tertentu, sehingga tak bisa dimasukkan sebagai alumni Akmil. Beliau juga sempat mengajar di Fakultas Kedokteran UGM. Jadi kasus khusus, setengah sipil, setengah militer.

Nah, selepas SBY tak jadi presiden, itu bukan soal bagi civitas academica Akademi Militer, sebab masih ada kader-kader terbaik Lembah Tidar yang meneruskan tongkat estafet kekuasaan. Pada periode lalu juga tercatat nama besar Wiranto dalam pemerintahan Presiden Jokowi. Dan satu yang tak bisa hilang dari pemerintahan sobat rimbawan satu itu adalah nama Luhut Binsar Panjaitan.

Opung Luhut atau warganet menjuluki beliau sebagai Lord Luhut adalah salah satu insan terbaik lulusan Akmil. Belum lagi beliau berasal dari satuan Komando Pasukan Khusus. Orang lebih mengenal satuan ini dengan pasukan baret merah. Berada dalam satuan yang sama dengan Prabowo.

Nama Luhut berkibar selepas Operasi Seroja di Timor Lorosae (Tim-tim) tahun 1976. Tercatat, nama beliau menjadi komandan kompi terbaik pada operasi militer itu. Meski ada beberapa catatan negatif terkait pelanggaran HAM di Timor-Timur. Namun Operasi Seroja adalah titik tolok jalan karier Luhut di militer. Sekitar dua puluh tahun sejak Operasi Seroja, atau di masa-masa akhir Orde Baru, Luhut mendapatkan pangkat Letnan Jenderal dan kemudian Jenderal TNI pada tahun 2000.

Sedangkan pada jajaran pemerintahan sipil, Lord Luhut memulainya pada tahun 1999 ketika ditunjuk sebagai Duta Besar RI untuk Singapura. Pada pemerintahan Gus Dur sebagai presiden, Luhut ditunjuk sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. Dan kemudian sejak tahun 2014 nama Luhut terpaku di seputaran istana dengan posisi awal sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

Lantas, nama Lord Luhut makin mengangkasa sejak periode kedua Presiden Jokowi ini ia ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Sebuah jabatan dengan kuasa luas mencakup sumber daya alam dan ekonomi sekaligus.

Munculnya pos menteri koordinator di bidang maritim ini pada mulanya menerbitkan konflik dengan eks Menteri KKP, Susi Pudjiastuti. Saat itu, pertentangan menyoal penjualan bibit lobster menjadi camilan warganet. Saling lempar asumsi nampak amat seru. Susi Pudjiastuti melempar asumsi dengan basis konservasi hasil lau dan kesejahteraan nelayan, sedangkan Lord Luhut melempar asumsi dengan basis ekonomi dan investasi secara luas. Intinya, satu sisi membela nelayan, sisi lain membela perekonomian negara.

Nah, bahkan dengan membaca konflik di atas saja, beberapa dari kita sempat lupa bahwa Lord Luhut ini seorang tentara lulusan Akmil. Bukan lulusan jurusan Perikanan atau Teknik Kelautan. Tapi sudahlah, memang kampus-kampus negeri itu ndak ada ampasnya kecuali teori-teori ketinggian yang lebih laku di jurnal ilmiah daripada di pasar modal.

Dan terbaru, Lord Luhut ditunjuk sebagai Plt. Menteri Perhubungan menggantikan Budi Karya Sumadi. Sekali lagi, yang digantikan beliau adalah alumni UGM. Bukan main, Akmil dan UGM yang berjarak sekali naik bus antar provinsi dari Bulaksumur ke Lembah Tidar ini memang best friend forever sepertinya.

Konflik lain setelah Luhut menduduki jabatan ini adalah persinggungannya dengan kebijakan pemberhentian angkutan dari DKI Jakarta tempo lalu. Hal ini mulanya menjadi wacana serius setelah ribuan orang mudik dari DKI Jakarta di tengah wabah COVID-19 yang membuat ibukota jadi zona merah. Keinginan pemerintah provinsi DKI Jakarta untuk menghentikan mobilitas angkutan umum ini berbenturan dengan kebijakan Plt. Menteri Perhubungan yang membawahi urusan ini.

Hasilnya, pemberhentian arus mudik dadakan di tengah wabah ini gagal. Sebab pihak Lord Luhut berpendapat bahwa pemerintah belum menemukan analisis dampak ekonomi jika terjadi pelarangan arus mudik.

View this post on Instagram

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, sebelumnya telah mengambil keputusan bersama Dinas Perhubungan Jakarta untuk menghentikan operasional bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP), Antar Jemput Antar Provinsi (AJAP), serta bus pariwisata pada Senin (30/3/2020) pukul 18.00 WIB. Namun, di luar dugaan, Luhut Panjaitan yang menjadi Plt. Menhub, menganulir langkah Gubernur DKI. Apa alasannya? Yuk cek di #infografis ! . . Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitikcom | @teknologi_id | @row.id | @neuronchannel | @hipotesamedia . . #haluanmediagroup #haluandotco #haluan #beritahariini #beritanasional #viral #trending #heboh #coronavirus #waspadacorona #dirumahaja #haluanupdatecorona #karantinawilayah #covid_19 #janganpanikhadapicorona #bersatucekalcorona #anies #luhut

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Namun, di tengah situasi yang tak menentu itu justru muncul pernyataan membingungkan. Sebab, Lord Luhut sebagai Plt. Menteri Perhubungan sekaligus Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi tidak melarang orang untuk mudik. Tetapi, beliau mengimbau masyarakat yang merantau di ibukota untuk tidak pulang kampung. Lah gimana maksud Opung? Bojok sahali hami on, bingung kali kami…

Bahkan tanpa disadari, peran Lord Luhut ini hampir setara peran Sjahrir sebagai perdana menteri republik ini di era parlementer. Semua akan Luhut pada waktunya. Semua hal yang diperkirakan bakal bersentuhan langsung dengan urusan investasi akan berujung pada meja beliau. Dan jika dinilai merugikan secara ekonomi, nampaknya apapun kebijakannya tak akan jalan.

Hal ini tentu terkait dengan pendidikan strategi yang diterima para taruna-taruni Akademi Militer. Di mana dalam situasi mendesak, secara tenang militer kita akan berpikir bagaimana cara terbaik untuk mengatasi suatu hal dengan berkorban seminimal mungkin. Tentu, lulusan kampus-kampus negeri tak punya sense of strategic ini. Jangankan strategi menghadapi perang atau politik ekonomi, perut kosong di akhir bulan saja sudah cukup membuat kepala pening.

Nasib mahasisiwa ini tentu berbanding terbalik dengan para taruna-taruni Akmil yang berbadan sehat, kekar, berseragam ketat, bahkan ke mal saja berseragam. Maka jangan kaget kalau banyak gebetan para mahasiswa dekil ini sering tertikung oleh kawula berseragam dinas. Sebab, tentu masa depannya lebih cerah dengan Lord Luhut sebagai salah satu pionir mereka.

Sedangkan para mahasiswa ini, paling banter juga jadi presiden. Itu pun tetap punya ‘perdana menteri’ dari lulusan Akmil.

Memang betul, wahai pemuda-pemudi negeri ini harus berpikir berulang kali untuk menentukan masa depannya. Sebab dengan masuk Akmil, Anda-anda punya kans tinggi untuk menjadi seperti Lord Luhut. Adhitakarya Mahatvavirya Nagarabhakti!


0 Komentar