Senat AS Kemungkinan Tak Lengserkan Trump, karena...

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Foto: Boingboing)

JAKARTA, HALUAN.CO - Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Emrus Sihombing mengatakan, proses pelengseran Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dari kursi kekuasaannya sangat panjang.

Menurut dia, voting DPR AS yang memutuskan melengserkan Trump, baru tahap awal dan masih harus melewati sejumlah proses lainnya.

"Dinamika yang terjadi di AS masih akan cukup panjang karena satu sisi Demokrat mendorong pemakzulan, sedangkan Republik menolak," kata Emrus di Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Emrus menjelaskan, sistem di AS terkait pelengseran Presiden, setelah voting DPR dan memutuskan pemakzulan, nanti akan dilanjutkan ke level Senat.

Untuk Senat, lanjut Emrus, itu du kuasai Partai Republik, yang notabene partai pengusung Trump. "Tidak gampang bagi Demokrat untuk melawan dominasi suara partai Republik di Senat," terangnya.

Menurut dia, setidaknya nanti membutuhkan dua per tiga dukungan dari total 100 senator untuk menyingkirkan Trump dari kursi presiden.

Artinya, 67 Senator harus memberikan dukungan untuk meloloskan pelengseran Trump.

Sedangkan suara Demokrat hanya berjumlah 45. Karenanya, masih butuh setidaknya 22 orang Republik yang membelot.

"Tapi sangat sulit 22 suara Republik itu akan bergeser ke Demokrat," paparnya.

Karena itu, imbuh Emrus, masih sangat sulit untuk langsung menyimpulkan Trump akan dilengserkan. Karena, pada 2020 mendatang, juga akan digelar Pemilihan Presiden di AS.

"DPR AS masih tahap awal. Jadi, masih tidak akan mudah untuk menjatuhkan Trump, apalagi di Amerika menganut sistem presidensial, bukan parlementer," tukasnya.

Seperti diketahui, dalam sejarah AS, Donald Trump adalah presiden ketiga yang dimakzulkan di level DPR AS. Sebelum Trump pemakzulan juga menimpa Presiden AS Andrew Johnson (1868) dan Bill Clinton (1998).

Namun, masih belum ada Presiden AS yang berhasil dilengserkan di level Senat.

Sebelumnya, DPR AS memutuskan bahwa Trump memenuhi dua pasal pemakzulan.

Dua pasal itu adalah, Trump dianggap menyalahgunakan kekuasaan serta menghalangi penyelidikan Kongres.

Usai dari DPR AS, agenda selanjutnya adalah membawa dua pasal itu ke level Senat yang dijadwalkan bersidang Januari 2020 tahun depan.

Agar Trump benar-benar tersingkir, dibutuhkan setidaknya dua per tiga dukungan dari total 100 senator.

Artinya, 67 senator harus memberi dukungan, di mana Demokrat yang berjumlah 45 butuh setidaknya 22 orang Republik yang membelot.

Diberitakan The Telegraph, Hakim Ketua Mahkamah Agung John Roberts kemungkinan yang akan memimpin persidangan pelengseran Trump.

Ke-100 senator itu bakal bertindak sebagai juri, di mana mereka akan mendengarkan dalam diam dua pasal pemakzulan yang menerpa presiden 73 tahun itu.


0 Komentar