Seorang Profesor pun Masih Bisa Tertipu Investasi Bodong
Ilustrasi

YOGYA, HALUAN.CO - Seorang profesor pun masih bisa ditipu daya oleh pelaku investasi bodong yang dijalankan pasangan suami istri (pasutri) MW (43) dan IF (41).

Pasutri asal Sleman, DIY ini punya cara tersendiri untuk merayu dan menyakinkan calon korbannya agar ikut investasi yang ternyata bodong yang dijalankannya. Bahkan sekelas profesor pun dan pengusaha bisa tertipu dengan tipu dayanya.

"Korbannya ada yang pengusaha, bahkan dokter dan profesor," kata salah satu sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya seperti dilansir Krjogja, Kamis (23/1/2020).

Dalam menjalankan bisnis bodongnya itu, pasutri ini menggunakan nama UD Sakinah, kerap menggunakan dalil-dalil agama untuk meyakinkan calon korbannya. Mereka dijanjikan profit 50-55 persen dari keuntungan.

Dari 46 orang yang tercatat menjadi korban, nilai investasi yang ditanamkan mencapai Rp 64 miliar. Korbannya bukan hanya dari Yogya dan sekitarnya, namun juga dari sejumlah daerah di luar DIY.

"Ada salah satu korban yang sudah menginvestasikan Rp 8 miliar dan baru mendapatkan profit Rp72 juta. Ada juga korban dari Jakarta yang sudah investasi sebesar Rp12 miliar," ungkap sumber tersebut.

Salah satu korban, Luthfi Kurniawan, warga Sleman mengatakan, investasi yang ia tanamkan di bisnis pelaku mencapai Rp1,2 miliar. Ia mulai berinvestasi pada Oktober 2017, setelah salah satu temannya juga bergabung.

"Karena teman saya ikut, saya pikir aman jadi saya ikut. Saya berinvestasi sebesar Rp1,2 miliar, dari jumlah itu sebanyak Rp 925 juta uangnya saya transfer langsung ke rekening terlapor," ungkap korban.

Dikatakan Luthfi, selain keuntungan yang besar, terlapor juga menyampaikan dalil-dalil agama dalam bisnis abal-abalnya, sehingga korban makin yakin. Diakui korban, awalnya bisnis yang dijalankan terlapor berjalan mulus.

Namun awal tahun 2020, penarikan modal dan keuntungan tidak lancar, bahkan kedua pelaku juga mulai sulit dihubungi.

Korban lainnya, Nana, warga Sleman menjelaskan, keuntungan yang dijanjikan tidak langsung ditarik, namun ditanam kembali dengan alasan untuk investasi ke depan.

Kecurigaan muncul belakangan ini, saat penarikan modal dan keuntungan tak berjalan mulus dan kedua pelaku mulai sulit dikontak. Rumah yang selama ini juga dijadikan tempat usaha para pelaku, juga sepi.

Mengetahui hal itu, para korban kemudian mengecek ke sejumlah hotel rekanan. "Saat kami kroscek ke hotel, orderan yang even-even khusus itu, ternyata tidak ada," ungkap Nana.

Kasus Investasi Bodong, Polisi Ikuti Prosedur Pemanggilan Mulan Jameela

Kanit Reskrim Polsek Depok Timur Iptu Dewo Mahardian mengatakan, IF dan MW masih dalam pencarian. "Belum dapat memastikan kasus itu seperti apa karena keterangan yang kami dapatkan baru sepihak (pelapor)," ujar Iptu Dewo.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Yuliyanto SIK menjelaskan, ada beberapa ciri investasi bodong, yakni legalitas perusahaan diragukan.

Dikatakan Iptu Dewo, sebuah perusahaan bisa menghimpun uang dari masyarakat jika ada izin dari lembaga negara. Jika tidak mengantongi izin, masyarakat patut curiga.

Pelaku investasi bodong, ungkap Kabid Humas, biasanya menjanjikan profit tinggi agar para korban tergiur berinvestasi.

Biasanya marketing menjanjikan profit atau keuntungan lebih 5 persen atau melebihi suku bunga bank. Padahal selama ini tidak ada usaha yang dapat menjanjikan profit tetap.

"Kami minta masyarakat lebih cerdas dalam berinvestasi, hati-hati kalau ada yang menjanjikan profit besar dan tetap," himbauanya seperti dikutip Krjogja.