Sifilis dan Penjajahan Bangsa Eropa
Sifilis & Penjajahan Bangsa Eropa. (Ilustrasi: Total Politik)

Ada dua hipotesis yang menunjukkan asal muasal sifilis: pada era Christoper Columbus dan sebelumnya.

SEJAK penyakit sifilis diketahui menyerang orang-orang Eropa pada abad pertengahan, penyakit menular seksual ini juga berkembang ke berbagai wilayah di dunia.

Raja singa, nama lain penyakit ini, turut mewarnai sejarah epidemiologi dunia walaupun penyebarannya tak sehebat virus corona yang diperbincangkan tahun 2020 ini.

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri spirose Treponema Pallidum, sub-spesies pallidum, ini mampu membuat manusia menderita, bahkan merusak organ tubuh.

Tercatat pula dalam lansiran World Health Organization (WHO), penyakit menular seksual ini sempat memberikan masalah global, dengan estimasi 12 juta orang terinfeksi setiap tahun. Meskipun, ada upaya pencegahan efektif melalui kondom.

Tetapi perlu diingat, penyakit sifilis ini pada umumnya disebabkan oleh hubungan seks yang berlebihan dan sembarangan. Jadi, sebetulnya pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan mudah melalui penghindaran kontak seksual secara langsung oleh yang terjangkit.

Akan tetapi, hawa nafsu manusia yang berlebih menyebabkan penyakit ini pun menyebar ke seluruh dunia pula, termasuk di Asia, sejak 500 tahun lalu.

Sejarawan Peter Boomgaard menulis, sifilis muncul pada sekitar tahun 1500 di wilayah itu. Sifilis, terangnya, diprediksi sudah muncul di India melalui armada Portugis pertama pada 1498. Dan pada 1504-1505, sifilis menyebar ke berbagai wilayah Turki dan Persia melalui jalur darat.

Pada 1498, sifilis muncul di Azerbaiyan, dan menyebar pada 1501. Orang-orang Turki menyebut penyakit sifilis sebagai penyakit Kristen, sementara orang-orang Persia menyebutnya sebagai penyakit Turki.

“So it is clear whence it came and where it went,” tulis Boomgaard dalam jurnal “Syphilis, Gonorrhea, Leprosy, and Yaws in the Indonesian Archipelago, 1500-1950.”

Orang-orang India menyebut penyakit sifilis sebagai phirangi roga (firanga roga), penyakit Frank, suatu rujukan terhadap orang-orang Eropa secara umum. Kosakata yang sama diajukan orang-orang yang tinggal di dekat Maldiva.

Sifilis muncul di Malaysia yang terhubung dengan Portugis, tatkala bangsa itu menaklukkan Malaka pada 1511. Kemudian, penyakit sifilis menyebar dengan cepat dibanding keberadaan orang-orang Portugis itu sendiri. Penyakit ini masuk ke Kanton pada 1504 dan 1506. Baru selanjutnya, sifilis masuk ke Jepang di mana disebut sebagai bisul Cina.

Tiga Wabah Besar Sebelum Corona

Di Indonesia sendiri, terang Boomgaard, ada dua cerita mengenai penyakit sifilis yang dianggap mitos. Pertama, ditemukan pada buku Sejarah Melayu: kisah seorang penguasa Palembang yang menikahi wanita lokal.

Setelah malam pernikahan, ternyata perempuan lokal itu menunjukkan tanda-tanda penyakit menular seksual yang bernasib sama dengan 39 perempuan lokal lainnya yang dinikahi penguasa tersebut.

Cerita lainnya, terdapat dalam Babad Tanah Jawi, tentang penguasa Jawa, raja terakhir Majapahit yang bernama Raja Wijaya, menderita penyakit yang disebut raja singa, atau sifilis. Si raja sembuh ketika ia tidur dengan perempuan kuning asing, dari Champa, yang sekarang Vietnam. Secara bukti, menurut Boomgaard, sifilis memang terhubung dengan keluarga penguasa.

Seorang penjelajah Jerman, Johann Jacob Saar, pada abad 17 menyatakan bahwa orang-orang seyogyanya tidak berhubungan terlalu dekat dengan penduduk di Kota Banten, Jawa Barat. Sebab, banyak dari mereka yang memiliki Mal de Naples atau penyakit Napoli, suatu sebutan lain penyakit Sifilis oleh orang-orang Eropa.

Pernyataan penjelajah Jerman itu menunjukkan, rujukan untuk bukti sifilis di Indonesia. Penyakit ini datang bersamaan dengan penyakit-penyakit lainnya, seperti kusta, gonorrhea, dan frambusia.

Baru dua abad kemudian, penyakit ini diidentifikasi oleh beberapa ahli. Pada 1905, Fritz Schaudinn dan Erich Hoffmann pertama kali mampu mengidentifikasi organisme penyebabnya, Treponema pallidum.

Selanjutnya pada 1910, Paul Ehrlich mengembangkan pengobatan pertama yang diikuti dengan percobaan penisilin yang baru benar-benar dikonfirmasi efektif pada 1943. (AK)


0 Komentar