Simpatisan ISIS: Perlukah Negara Memulangkan Mereka?
Pemulangan simpatisan ISIS ke Indonesia adalah hal yang tak mudah diterima, sebab mereka pernah menolak Indonesia sebagai tanah airnya. (Foto: BBC)

Pemulangan simpatisan ISIS ke tanah air ini adalah hal yang harus benar-benar dipikirkan secara matang. Sebab, Indonesia ada pada posisi rentan konflik menyoal antargolongan dan agama.

HARUSNYA, pertanyaan menyoal perlu tidaknya negara memulangkan mantan simpatisan ISIS asal Indonesia hanya cukup dijawab tidak. Namun, hal itu lantas menjadi persoalan beberapa pihak ketika diketahui ada puluhan dari mereka merasa ingin pulang ke tanah air. Eh, masih boleh gak sih mereka menyebut Indonesia sebagai tanah air?

Kita segarkan ingatan kembali soal rilisan video propaganda ISIS yang berisi sekumpulan anak-anak berlatih militer dan membakar paspor mereka. Tak sedikit di antara banyak paspor itu bergambarkan lambang negara kita. Dan tentu hal itu menyayat hati beberapa orang dengan jiwa nasionalisme tinggi.

Sebab, paspor adalah identitas kebangsaan yang sah di luar negeri. Dan membakar suatu benda dengan lambang negara di dalamnya adalah perbuatan melawan hukum. Tapi, tentu saja saat itu mereka PD aja lagi, sebab yakin bahwa ISIS akan menang perang dan menguasai dunia. Jadi, singkatnya saat itu dengan penuh keyakinan orang-orang ini membawa keluarganya bergabung dalam ISIS dengan membuang ke-Indonesia-an mereka. Goodbye my lover, goodbye my friend, I am a jihadist right now.

Sayangnya, angan-angan itu nampak tak menemui tujuan. Sebab ISIS hampir benar-benar kalah di segala sudut wilayah bekas kekuasaan mereka. Hanya dimungkinkan ISIS masih menang dalam impuls otak para simpatisannya. Termasuk mereka yang berasal dari Indonesia.

Wacana-wacana pemulangan mantan anggota ISIS yang terlantar membuat warganet meradang. Sebab, bagi sebagian besar orang, para simpatisan ini tak layak pulang ke Indonesia. Sebab mereka pernah menolak Indonesia sebagai “rumah”, oleh sebab itu mereka tak layak menjadikannya sebagai tempat untuk kepulangan.

Beberapa video wawancara terhadap para bekas WNI yang terlantar itu sepintas membuat iba. Namun, tindakan mereka meninggalkan dan menanggalkan Indonesia nampak ironis. Sebab, mereka lantas mengemis penerimaan kembali setelah tujuan mereka gagal. Atau dipastikan hampir gagal.

Dan tentu, apa yang disebut sebagai ide atau gagasan pikiran seseorang tak semudah itu hilang. Meski ISIS hampir musnah, namun ide dari para bekas simpatisan mereka tentu masih berbahaya bagi keberlangsungan hidup masyarakat di tanah air kita.

Lagipula, tanpa adanya ISIS pun negara kita nampaknya sudah mengawali krisis persaudaraan dalam bineka hampir separuh dekade terakhir. Sensitivitas antargolongan dan agama menjadi hal yang sedang naik daun. Dan ini cukup membahayakan jika ditambah dengan potensi peningkatan oleh karena pemulangan para simpatisan ISIS tadi.

Memang, secara hak asasi mereka berhak atas penghidupan yang layak. Tapi sayang, mereka memilih itu bukan di Indonesia. Dan harusnya kita juga menghormati pilihan mereka untuk hal itu. Setiap pilihan memiliki risikio bukan?

Sayangnya, pilihan tersebut juga bermasalah secara hak asasi manusia. Sebab kita tahu bagaimana menyeramkannya ISIS di masa-masa jayanya dahulu. Pembantaian berbagai etnis seperti Kurdi, Arab, hingga wartawan menjadi propaganda luar biasa bagi dunia saat itu.

Sebab, orang waras mana sih yang memilih untuk meninggalkan kewarganegaraannya demi kehidupan macam itu? Bukankah di Indonesia Anda bisa hidup tenang sambil makan mi instan tiap hari? Apa kenyangnya sih berperang? Nikmatnya apa?

Tentu saja, pertanyaan di atas tak relevan lagi bagi mereka yang memang sudah taklid dalam sebuah pemikiran atas dogma. Dan sayangnya, dogma yang mereka yakini adalah hal delusif. Angan-angan kosong. Hal yang bahkan tak mendekati logika. Tapi toh mereka pilih juga.

Menyoal pilihan antara ikut Indonesia atau ISIS memang tak sama risikonya daripada memilih makan bubur ayam diaduk atau tidak diaduk. Ini persoalan pelik. Melebihi nalar waras manusia. Sebab, berbagai hal menyangkut keyakinan pada dasarnya tak mudah untuk dibelokkan. Sebelum memang seseorang merasakan sendiri risiko yang dihadapinya.

Terlepas dari semua itu, persoalan pemulangan simpatisan ISIS ke tanah air ini adalah hal yang harus benar-benar dipikirkan secara matang. Sebab, Indonesia ada pada posisi rentan konflik menyoal antar golongan dan agama.

Terlebih, masa sih negara mau rugi dengan mengeluarkan biaya pemulangan itu? Padahal kan mereka berangkat dengan usaha dan keyakinan pribadi. Pun, mereka telah menolak Indonesia sebagai rumah. Bukankah mereka memilih ISIS untuk dapat pulang ke rahmatullah secara syahid?