Sindir Jokowi, Din Syamsuddin: Pemerintah Kufur Nikmat Terhadap Kekayaan SDA
Mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin. (Foto: Haluan/Tio)

JAKARTA, HALUAN.CO - Presiden Jokowi meminta warga Indonesia bersyukur dan tidak boleh kufur nikmat karena pertumbuhan ekonomi 2019 tak turun di bawah 5 persen.Tercatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 2019 turun jadi 5,02 persen, dari capaian 2018 yang mencapai 5,17 persen.

Terkait itu, mantan Ketua Umum Muhammadiyah Din Syamsuddin sangat setuju dengan pernyataan Jokowi. Hanya saja, menurut Din, justru pemerintah yang terkesan kufur nikmat dengan berlimpahnya sumber daya alam (SDA) Indonesia, namun tidak dikelola dengan baik.

"Iya jangan kufur nikmat. Berapapun pertumbuhan ekonomi kita betul jangan kufur nikmat, justru saya menengarai pemerintah terakhir ini kufur nikmat terhadap kekayaan alam indonesia. SDA kita yang kaya raya Anugrah Allah SWT, tapi tidak kita kelola dengan baik itu kufur nikmat namanya," kata Din di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, Jumat (7/2/2020).

Menurut Din, pengelolaan SDA yang tidak benar merupakan sebab ekonomi Indonesia seperti sekarang ini.

Din mengingatkan agar pengelolaan SDA jangan hanya berorietasi pada pertumbuhan ekonomi saja, tapi angka kemiskinan tetap tinggi dan itu malah tidak dipikirkan.

"Berapa angka kemiskinan kita miliki, rakyat semakin miskin, rakyat miskin semakin bertambah, jangan ambil angka-angka di data resmi itu. Saya tahu itu diukur dari pendapatan harian dua dolar AS menurut PBB. Maka angka kemiskinan Indonesia tidk seperti disampaikan pemerintah," kritik Din.

Oleh karena itu, Din menganggap, keadaan negara seperti ini harus disadari semua.

Jokowi Setuju Bangun Terowongan Bawah Tanah dari Istiqlal ke Katedral

Din berpesan, pertumbuhan ekonomi 2019 tak turun di bawah 5 persen, tidak bisa hanya syukur nikmat saja, tapi negara ditambah dengan kedzaliman nyata, seperti korupsi yang merajalela.

"Saya sungguh memesankan kasus Jiwasraya, Asabri, Taspen, dll, selesaikan secara hukum dan politik. Artinya, lewat mekanisme Pansus DPR, kalau tidak apalagi klo pemerintah tidak menyetujui berupaya membungkam. Ini akan membuat dugaan dari rakyat pemerintah terlibat," tukasnya.

Sebelumnya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa realisasi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu patut disyukuri, di tengah dinamika perlambatan perekonomian global.

Hal itu dikemukakan Jokowi usai pelantikan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

"Alhamdulillah, ini patut kita syukuri bahwa pertumbuhan ekonomi masih di atas 5 persen, 5,02 persen. Patut kita syukuri. Yang lain bukan turun, anjlok. Kita ini kalau engga kita syukuri artinya kufur nikmat," kata Jokowi.

Menurut Jokowi, capaian pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu jauh lebih baik dibandingkan dengan negara-negara tetangga, bahkan jika dibandingkan dengan negara anggota G-20.

"Pertahankan pada posisi yang seperti ini saja sulit sekali. Tetapi kita juga senang bahwa komunikasi antara otoritas moneter yakni bank sentral dengan pemerintah baik," ungkapnya.