SNMPTN Bukan Akhir, Ia Hanya Kasih Tak Sampai Saja

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Pengumuman SNMPTN 2020 menyisakan duka bagi mereka yang tak lolos seleksi. (Ilustrasi: Haluan)

-

AA

+

SNMPTN Bukan Akhir, Ia Hanya Kasih Tak Sampai Saja

Overview | Jakarta

Jumat, 10 April 2020 17:44 WIB


Tak banyak dari anak-anak muda Indonesia dapat mengerti bagaimana proses penerimaan jalur SNMPTN ini sesungguhnya. Sebab, jalur yang dahulu dikenal sebagai Jalur Undangan ini memang tak ditempuh melalui tes tulis maupun adu disparitas nilai ujian nasional.

PENGUMUMAN Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2020 (SNMPTN) telah tuntas tanggal 8 April 2020 lalu. Namun, seperti biasa, beberapa insan muda kecewa dan mengumbar gulana pada linimasa Twitter. Pun beberapa juga ada yang pamer soal pencapaian mereka diterima di peruguruan tinggi negeri idaman.

Tak banyak dari anak-anak muda Indonesia dapat mengerti bagaimana proses penerimaan jalur SNMPTN ini sesungguhnya. Sebab, jalur yang dahulu dikenal sebagai Jalur Undangan ini memang tak ditempuh melalui tes tulis maupun adu disparitas nilai ujian nasional. Prosesnya pun dimulai jauh-jauh hari sebelum seorang siswa SMA menjalankan UN. Alias, secara prosedur jalur ini membutuhkan nilai rapot dari kelas sepuluh hingga kelas sebelas, setidaknya empat semester ke belakang.

Saking gelapnya proses seleksi SNMPTN atau jalur undangan ini, tak jarang orang sangsi dengan kriteria-kriteria yang dibutuhkan agar lolos seleksi. Sebab tak jarang pula, seorang siswa berprestasi di salah satu sekolah prestisius juga gagal di jalur ini. Ibaratnya, jalur undangan adalah jalur yang bahkan Tuhan saja tak begitu paham tentang takdir seseorang.


Mahasiswa Takut pada Rektor, Rektor Takut pada Presiden, Presiden Takut pada...

Saya sendiri termasuk orang yang tak tahu-menahu ketika diterima di UGM tujuh tahun lalu, lewat jalur serupa. Bermodal nilai rapor dan beberapa sertifikat prestasi yang semenjana. Tak diduga memang, tapi saya kira bertanya pada Tuhan pun tak ada gunanya. Padahal, kala itu sesungguhnya saya asal mengisi saja formulir pendaftaran SNMPTN. Dengan dua universitas negeri pilihan dan masing-masing dua jurusan.

Tentu saja, jalur ini adalah jalur teraman bagi mereka yang ingin mengelabui orang tua dengan obsesi anaknya masuk jurusan tertentu. Saya sendiri berhasil mengelabui orang tua saya yang bersikukuh dengan jurusan Hukum di Universitas Airlangga. Tapi sayang, mereka sepertinya tak terlalu paham soal jalur undangan ini.

Dengan keluarnya pengumuman SNMPTN kala itu, ditambah beberapa asumsi-asumsi ajaib, saya pun lolos dari tuntutan orang tua. Asumsi pertama adalah yang paling populer di kalangan anak SMA, yaitu potensi sekolah mendapat blacklist dari panitia SNMPTN jika ada satu siswa diterima melalui jalur itu dan tak mengambil bagiannya. Asumsi kedua, tentu saja omong kosong soal betapa prestiusnya jalur undangan ini di kalangan para siswa.

Meski, toh pada kenyataannya siswa-siswi di sekolah saya tak begitu tertarik dengan universitas negeri. Saat itu, cukup jarang kakak-kakak kelas saya yang melanjutkan kuliah di kampus negeri. Tak sebanyak anak-anak sekolah negeri terbaik tiap daerah yang memang menempatkan PTN sebagai tujuan mereka. Sekolah saya tak begitu adanya.

Berhubung saat itu masih ada sistem rintisan sekolah berbasis internasional, dan sekolah saya termasuk satu di antara beberapa sekolah swasta yang terpandang di suatu kota, banyak kawan-kawan yang memilih mendaftar di universitas luar negeri. Atau PTS dengan biaya kuliah setara dengan cicilan rumah di perumahan elit.

Dan tentu, sebagai siswa semenjana saya pun bergantung pada PTN dengan harapan uang kuliah lebih terjangkau. Meski kenyataannya juga tak begitu sesuai. Dan nampaknya, justru beberapa kawan diterima melalui jalur undangan dengan modal kentut plus keberuntungan. Saat itu, kawan-kawan lain juga merasakan kecewa sekaligus mengumpati saya dan beberapa kawan yang diterima lewat jalur undangan ini. Namun saat itu, keyakinan saya adalah justru mereka-mereka yang tak diterima jalur undangan inilah para pejuang sejati.

Hal itu terbukti benar ketika kami satu per satu lulus dari kampus masing-masing. Beberapa kawan yang tak diterima jalur undangan justru diterima lewat jalur lain seperti SBMPTN atau jalur tes mandiri di PTN. Beberapa lainnya masih menempuh studi di luar negeri. Dan tentu beberapa lainnya memilih masuk kampus-kampus swasta dengan nama tenar di seputaran Jabodetabek atau di Surabaya.

Sepanjang itu, hampir tak ada lagi yang mengungkit soal bagaimana cara kami masuk kuliah dahulu. Justru yang ada adalah obrolan soal “Eh Cok, kerjo nandi kon saiki?”, atau “Heh kon gelem a ngurus usahaku nang kene?”. Pertanyaan soal pekerjaan apa atau bahkan tawaran kerja ini justru muncul dari mereka-mereka yang saat itu tak sempat menicicipi lolos tes jalur undangan.

Bahkan, beberapa kawan yang masih berjibaku studi di luar negeri nampak lebih meyakinkan daripada kami-kami yang lolos jalur undangan. Bisa dibayangkan, ketika anda diterima di UGM atau ITB sedangkan kawan sekelas Anda sedang kuliah fisika nuklir di Princeton University. Alamak, bukan main plot twist dunia persilatan ini. Dan dari sini pun saya berkaca bahwa SNMPTN bukan jalan akhir dari sebuah perjuangan demi pendidikan tinggi. Dia hanya salah satu jalan, dan jika tak diterima, maka masih ada jalan lain yang mungkin tak melulu prestis, namun tetap memberi ruang untuk berusaha.

Toh, seleksi SNMPTN atau jalur undangan ini pun tak ada yang tahu pasti kriterianya. Salah satu situs edukasi menyebut bahwa kriteria penerimaan terkait dengan faktor kualifikasi siswa, faktor indeks sekolah, dan faktor pemerataan daerah.

Faktor kualifikasi siswa ini meliputi konsistensi nilai rapor dan prestasi siswa di berbagai tingkat. Konsistensi nilai rapor adalah hal yang paling santer terdengar ketika sekolah dulu. Mulai dari guru-guru hingga alumni menuntut hal serupa. Tapi bagaimana bisa seorang siswa mempersiapkan progres konsisten dari nilai rapor mereka. Apa mereka tak butuh bermain, mengembangkan hobi, atau sekadar memupuk kisah kasih picisan di sekolah? Mustahil.


Tak mungkin ada seorang anak masuk SMA dengan proyeksi konsisten dan taklid sampai akhir. Pasti di tengah jalan mereka juga bertemu kawan-kawan dengan sifat dan sikap beragam.

Bisa jadi niat membentuk konsistensi nilai rapor tadi tumbang karena kawan-kawannya lebih suka mengajak balap liar, daripada belajar. Atau terpaksa jadi budak cinta alias bucin karena berpadu kasih. Romansa SMA itu gila bosque. Bahkan kawan saya yang kuliah di Princeton saja bucin. Apa tidak stres seseorang hanya taklid pada nilai rapor?

Faktor kedua adalah soal indeks sekolah. Dan tentu, ranah ini jarang diketahui siswa. Sebab pihak sekolah lebih tahu kapasitas mereka jika dibandingkan dengan beberapa sekolah lain dalam satu wilayah. Lantas, sebagai seorang siswa, bagaimana bisa mereka punya kans lolos jalur undangan jika sekolah mereka juga dianggap hanya semenjana saja?

Faktor terakhir adalah harapan yang lebih nyata, yaitu pemerataan daerah. Di mana kini tak jarang dijumpai mahasiswa-mahasiswa PTN yang berasal daerah-daerah dengan nama asing. Bahkan dari sekolah-sekolah di luar SMA negeri dengan nomor-nomor kecil. Pemerataan daerah ini bisa jadi salah satu hal yang lebih memungkinkan terbukanya potensi penerimaan mahasiswa melalui SNMPTN. Sehingga, bisa dikatakan bahwa privilise anak-anak perkotaan untuk masuk PTN tak membuat gentar para siswa-siswa di daerah terpencil sekalipun. Tapi tentu saja, hal ini juga tergantung kualitas nilai-nilai rapor siswa tersebut.

Dari ketiga faktor ini nampaknya kriteria penerimaan SNMPTN bisa sedikit dibedah. Namun tetap gelap alias hanya bisa diterka. Sebab sekali lagi, Tuhan pun nampaknya tak tahu-menahu soal takdir seseorang yang diterima lewat jalur undangan ini. Berbeda dengan jalur SBMPTN yang dilakukan dengan tes tulis dan memiliki kriteria nilai tertentu. SNMPTN nampak lebih wild dan amat misterius.


Masuk Kuliah Jalur Influencer, Biar Apa?

Namun, SNMPTN tetap tak menjamin masa depan Anda. Jalur ini perlu faktor keberuntungan yang amat tinggi. Toh, jalur undangan ini pun tak serta-merta membuat Anda jadi masyhur ketika kuliah. Sebab jalur ini tak melulu soal tingkat kualitas personal yang mumpuni, tetapi lebih daripada uang kuliah yang lebih manusiawi saja.

Meski tak manusiawi-manusiawi amat. Seorang yang masuk kuliah lewat jalur undangan pun memiliki tekanan berat karena dianggap beruntung, sehingga perlu mempertanggung jawabkan keberuntungannya. Termasuk keharusan-keharusan tak tertulis lainnya seperti lulus tepat waktu, indeks prestasi di atas 3,00 dan beberapa hal lain. Dan jika anda tak kuat, bukan tak mungkin kalau anda bakal terseok lulus di menit-menit akhir.

Pada akhirnya juga sama saja. Ketika kuliah nanti, pertanyaan mengenai “Eh lu masuk pakai jalur apa?” hanya berlaku di semester pertama saja. Selanjutnya, tak ada yang peduli Anda masuk pakai jalur undangan, SBMPTN, jalur mandiri, atau bahkan jalur belakang pun tak ada soal. Persoalannya murni pada kapasitas individu Anda saat kuliah.

Jadi, tak perlu merenungi nasib dan bersedih jika Anda tak diterima SNPMTN tahun 2020 ini. Sebab masih ada beberapa jalan lain yang terbuka. Dan tak ada salahnya jika Anda belajar lagi untuk tes tulis yang lebih nampak nyata perjuangannya. Jalur undangan itu hanya ibarat kasih tak sampai, namun belum tentu tak ada jalan lain untuk menemui kampus impian Anda.


0 Komentar