So Hok Gie, Anggota DPR dan Antek Partai

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Seorang perempuan di makam So Hoek Gie. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Ketika berbicara tentang anggota DPR yang terhormat, ingatan saya kembali melayang kepada So Hok Gie, yang hari ini bertepatan dengan hari lahirnya tokoh muda pergerakan di zaman Orde Lama ini.

Ketika teman-teman seangkatannya berebut jabatan dan menikmati kesejahteraan dari rezim Orde Baru. So Hok Gie memilih berlari ke gunung, bercengkrama dengan hutan dan berdiskusi dengan angin atau menulis catatan harian dan artikel lepas di meda massa.

So Hok Gie dikenal sebagai penulis produktif di beberapa media massa, misalnya Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Sekira 35 karya artikelnya sudah dibukukan dan diterbitkan dengan judul Zaman Peralihan (Bentang, 1995).

Juga skripsi sarjana mudanya perihal Sarekat Islam Semarang, tahun 1999 diterbitkan Yayasan Bentang dengan judul Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya, skripsi S1-nya yang mengulas soal pemberontakan PKI di Madiun, juga sudah dibukukan dengan judul Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan.

Selain pemikir muda, So Hok Gie juga dikenal sebagai pencinta alam dan salah satu pendiri Mapala UI. Gunung sahabat sejatinya sekaligus yang menyebabkannya mati muda di puncak Gunung Semeru pada usia 26 tahun.

Nah, hari ini pun saya berada di Gedung Wakil Rakyat di Senayan nan megah. Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan menyebut Kompleks DPR sangat luas dibandingkan Capitol Hill di Amerika Serikat.

Saat kembali masuk ke Kompleks Parlemen itu saya kembali tergelitik dengan pertanyaan sarkastis yang ditulis almarhum aktivis 66 Soe Hok Gie yang dikutip dari buku So Hok Gie, Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya.

"Siapakah kamu?" tanya So Hok Gie kepada rekan aktivis dan mantan tokoh mahasiswa yang memilih menjadi anggota parlemen.

"Saya adalah antek partai saya. Kebenaran ditentukan oleh DPP partai," jawab mereka, sangat lantang.

Lalu bagaimana dengan kondisi pemerintahan kiwari? Semoga saja dalam setahun berjalan tidak ada isu reshuffle yang akan bikin gaduh. Atau sebaliknya karena tak ada reshuffle maka gaduh negeri ini. Negeri serba salah.

Karena sejak zaman Presiden Soekarno isu reshuflle selalu bikin gaduh. Misalnya situasi ketika pemerintahan Orde Lama menjelang reshuffle Kabinet Dwikora. Ini tergambar dari yel-yel mahasiswa dan demontrans saat itu.

Blok, goblok, goblok, goblok, kita ganyang menteri goblok atau ada juga win, kawin, kawin, kawin menteri-menteri tukang kawin (irama tek, kotek, kotek).

Semoga tidak terjadi dengan Pemerintahan Jokowi ini!


0 Komentar