Social Distancing: Memutus Mata Rantai Penularan Pandemi
Pejabat menjelaskan tentang penanganan wabah Covid-19. (Ilustrasi: Haluan)

Proses social distancing memang diperlukan sebagai langkah preventif dalam mengurangi dampak pandemi penyakit atau virus menular. Hal ini bisa dilakukan dengan mengurangi kontak dengan kerumunan manusia dan juga kontak dengan orang lain yang berasal dari wilayah lain dengan dampak infeksi signifikan.

PANDEMI global Covid-19 nampaknya menjadi kabar ironis bagi kaum rebahan dan insan introver di Indonesia. Betapa tidak, pandemi ini kemudian memaksa kita untuk melakukan isolasi mandiri dan social distancing, sebuah cara untuk mencegah menyebarnya virus.

Bagi insan introver yang umumnya akrab dengan kesunyian, hal ini bisa saja jadi hal sepele. Tapi tentu tak semua orang begitu bukan? Social distancing yang diartikan sebagai pembatasan interaksi sosial antarindividu memang mengajak kita memutus mata rantai penularan virus.

Namun, hal ini tak mudah dilakukan. Terutama, karena manusia adalah makhluk sosial. Dan betapa pun introvernya Anda, tetap butuh satu atau lebih orang lain dalam kehidupan. Pentingnya social distancing dalam efisiensi menahan laju pandemi dapat disimak dalam video berikut ini.

Di dalam masa-masa kalut seperti ini, geliat asa relasi sosial antar individu tetap menjadi kebutuhan utama manusia. Hal ini terbukti dari bagaimana warga Italia yang saling bernyanyi dan memainkan alat musik dalam isolasi mereka karena negara tersebut melakukan sistem lockdown.

Upaya saling terikat antarasatu manusia dengan manusia lainnya dapat menimbulkan harapan. Setidaknya, hal itu nampak dalam video beberapa warga Italia dengan nyanyian mereka di atas balkon yang tersebar di berbagai media sosial.

Proses social distancing memang diperlukan sebagai langkah preventif dalam mengurangi dampak pandemi penyakit atau virus menular. Hal ini bisa dilakukan dengan mengurangi kontak dengan kerumunan manusia dan juga kontak dengan orang lain yang berasal dari wilayah lain dengan dampak infeksi signifikan.

Memberi jarak antarindividu bukan berarti membebaskan manusia dari tanggung jawab lahiriahnya untuk menjadi makhluk sosial. Lebih daripada itu, hal ini justru merupakan tindakan yang amat “sosial” untuk menyelamatkan populasi dalam jumlah besar.

Selain isolasi diri, social distancing dianggap mampu secara efektif menahan laju berkembangnya penularan virus dari satu tempat ke tempat lain. Sebab, tak sedikit orang yang tak tahu bahwa dirinya membawa virus atau tidak. Hal ini dapat diibaratkan sebagai deretan korek api kayu yang terbakar dan ada satu batang yang kemudian dijauhkan dari deretan tersebut.

View this post on Instagram

Salah satu yang di lakukan pemerintah agar tidak teruntuk menjaga social distance, dan pengecekan suhu tubuh di Jakarta.
. . Beberapa shelter transportasi umum di kawasan Jabodetabek, sudah menerapkan pengecekan suhu tubuh dan social distance, jika hendak menggunakan fasilitas umum tersebut.
. .
Namun apa yang terjadi ? . . Source : Twitter/tiralubis15 .
. . #suspectcorona #viruscorona #penyakit #covid #trendingtopic #info #videoviral #beritahariini #berita #dirumahaja #beritaterkini #indonesia #viral #news #trendingtopic #videotrending #haluaninfo #haluandotco #lockdown #dunia #infodunia #socialdistancing #socialdistance #transjakarta #mrt #lrt #transportasiumum #jakarta #coronalockdown #penyakit #terbaru #viral #updatecoronaterbaru

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Nyala api akan padam dan tidak merembet ke deretan berikutnya, di sinilah letak efisiensi social distancing. Namun, dalam ranah praktik manusia, hal ini masih susah didapat atau dilakukan.

Salah satu penghambatnya adalah kebijakan. Hal ini menjadi penting karena kebijakan yang kurang tepat dapat menyebabkan proses social distancing menjadi kacau. Semisal, yang terbaru adalah Senin pagi 16 Maret 2020 ketika antrean mengular di halte Bus TransJakarta akibat dampak pengurangan armada yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta.

Sedangkan di sisi lain, kebijakan ini bertabrakan dengan kebijakan KDR (Kerja Dari Rumah) atau work from home yang belum dilaksanakan secara menyeluruh. Beberapa kawan yang berkantor di Jakarta dan belum mendapat anjuran bekerja dari rumah nampak kerepotan karena harus mengantre dan berdesak-desakan dalam angkutan umum pada senin pagi.

Memang, kebijakan soal pandemi ini amat sulit dilakukan mengingat tumpang tindihnya kepentingan. Baik dari segi kesehatan, ekonomi, hingga sosial masyarakat. Di sisi lain, para pekerja di sektor swasta dan pekerja harian nampak kesusahan jika situasi harus berakhir lockdown. Dan juga, tak semua pekerjaan dapat dilakukan secara mandiri di rumah.

Begitu pula fenomena-fenomena sosial lain di mana ada kecenderungan masyarakat untuk pulang kampung ketika ditetapkan libur untuk tujuan isolasi diri. Padahal, kegiatan pulang kampung ini justru menimbulkan potensi penyebaran virus makin masif ke daerah-daerah.

Untuk menanggapi hal itu, ada sebuah kampanye bertajuk Diam di Rumah Cuk yang mengajak kita menahan laju mobilitas di tengah situasi pandemi Covid-19 di tanah air. Kampanye ini penting karena kita tak bisa terus menunggu kebijakan pemerintah soal tindakan preventif. Kita harus mandiri, sebab virus tersebut juga bekerja secara mandiri dan klandestin.

Kita tidak pernah tahu siapa-siapa saja yang membawa virus itu di sekitar kita. Bahkan, belum ada kebijakan resmi dari pemerintah pusat menyoal pembiayaan tes dalam skala masif untuk screening virus ini. Korea Selatan melakukannya dalam beberapa bulan terakhir, tapi tentu dengan jumlah total warga yang lebih sedikit dari total keseluruhan warga Indonesia.

Pun, di sisi lain negara kita memiliki kesenjangan sarana dan prasarana kesehatan antar satu daerah dengan daerah lain. Hal ini tentu dapat menjadi hambatan serius jika masyarakat kita tak bergerak secara mandiri dalam mengurangi interaksi sosial dengan banyak orang.

Dalam hal ini tindakan isolasi mandiri dan social distancing menjadi penting untuk dilakukan. Kumpulkan banyak buku bacaan, film kesukaan, beberapa bungkus camilan, dan siapkan diri anda menghadapi kessendirian yang hakiki!

Dalam kasus ini, mengasingkan diri bukan berarti ansos atau antisosial, tetapi lebih daripada mendukung langkah preventif sembari menunggu kebijakan pemerintah soal penanganan pandemi ini secara luas. Sebab, baru Kota Surakarta dan Banten yang sampai detik ini sudah melakukan sistem penutupan akses dan segala kegiatan keramaian melalui status KLB (Kejadian Luar Biasa).

Padahal, negara ini memiliki acuan konstitusi dalam menghadapi kondisi pandemi penyakit semacam ini. Hal itu diatur dalam UU No. 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Untuk kebijakan karantina wilayah diatur dalam pasal 53 dengan ketentuan bahwa anggota masyarakat di wilayah karantina tidak boleh keluar masuk dari wilayah tersebut.

Sedangkan dalam menangani urusan hidup, diatur dalam pasal 55 yang menyatakan bahwa selama dalam Karantina Wilayah, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak yang berada di wilayah karantina menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat.

Sedangkan, untuk kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar diatur dalam pasal 59 yang berisi di antaranya kebijakan untuk meliburkan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan dan pembatasan kegiatan di tempat umum.

Pembatasan sosial skala besar ini pun harus dikoordinasikan dengan berbagai pihak, baik di pusat maupun daerah. Baik dari instansi pendidikan, tempat kerja, hingga fasilitas umum. Hal ini menjadi pilihan terakhir untuk menahan laju perkembangan pandemi jika terjadi amat masif di tanah air.

Melalui UU No. 6 tahun 2018 tersebut diharapkan pemerintah pusat dan pemerintah daerah saling bersinergi dalam mengurangi dampak pandemi Covid-19. Bukannya justru bersaing secara politis melalui kebijakan-kebijakan yang tumpang tindih. Hal ini nampak melalui beberapa keputusan yang saling silang antara pemerintah pusat dan daerah.

View this post on Instagram

Proses social distancing memang diperlukan sebagai langkah preventif dalam mengurangi dampak pandemi penyakit atau virus menular. Hal ini bisa dilakukan dengan mengurangi kontak dengan kerumunan manusia dan juga kontak dengan orang lain yang berasal dari wilayah lain dengan dampak infeksi signifikan. . Selain isolasi diri, social distancing dianggap mampu secara efektif menahan laju berkembangnya penularan virus dari satu tempat ke tempat lain. Sebab, tak sedikit orang yang tak tahu bahwa dirinya membawa virus atau tidak. . Namun, dalam praktik manusia, hal ini masih susah didapat atau dilakukan. Salah satu penghambatnya adalah kebijakan. Hal ini menjadi penting karena kebijakan yang kurang tepat dapat menyebabkan proses social distancing menjadi kacau. . Berita selengkapnya di haluandotco/klik link di bio . Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitikcom | @teknologi_id | @row.id | @neuronchannel | @hipotesamedia . . #haluanmediagroup #beritadunia #pojok #haluandotco #haluan #infoupdate #viral #lagiviral #trendingtopic #trending #infotrending #pojokhaluan #dirumahaja #haluanupdatecorona #janganpanikhadapicorona #bersatucekalcorona

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Beberapa wilayah seperti DKI Jakarta memiliki keputusannya sendiri menyebabkan tertumpuknya calon penumpang TransJakarta hingga mengantre panjang. Hal ini secara langsung menggagalkan kampanye social distancing. Di sisi lain, DI Yogyakarta hingga hari ini pun masih belum bertindak secara signifikan untuk menahan laju mobiltas warganya.

Di tempat lain, Kota Surabaya bekerja sama dengan Universitas Airlangga siap mendukung alat tes Covid-19 secara gratis. Ide ini menanggapi mampatnya uji tes primer Covid-19 yang selama ini mengandalkan laboratorium milik Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kemenkes di Jakarta.

Pelaporan sampel uji dari berbagai rumah sakit di Indonesia selama ini hanya terpusat di Balitbangkes, dan tentu hal ini tak efektif secara waktu dan tenaga. Untuk itulah, proses penanganan Covid-19 ini tak bisa dibebankan secara tunggal ke pemerintah pusat, tetapi perlu berkoordinasi secara menyeluruh dengan daerah.

Pun, secara geografis Indonesia memiliki kelebihan karena akses dari pulau ke pulau, hal ini harusnya bisa menghambat laju penyebaran. Namun, mengingat belum adanya pelarangan mobilitas antar pulau menggunakan pesawat atau kapal laut, maka kecenderungan menyebar masih ada.

Akhirnya, memang tepat bahwa masyarakat harus mulai menyadari pentingnya langkah preventif secara mandiri. Tanpa menunggu carut-marut kebijakan pemerintah yang tumpang tindih. Caranya adalah melalui social distancing dan isolasi diri secara mandiri di rumah atau kamar kos masing-masing.

Ini Fatwa MUI Terkait Ibadah di Tengah Wabah Corona

Isolasi diri bagi mereka yang baru saja bermobilitas dari suatu wilayah dengan kasus positif Covid-19 tinggi. Dan social distancing bagi siapa pun yang tidak tahu bahwa dirinya membawa virus atau tidak.

Langkah kecil ini laiknya ibadah Nyepi di Bali, kita perlu berhenti sejenak dari sibuknya hubungan antarpersonal. Perlu memberi ruang untuk bumi menyembuhkan dirinya dari segala beban yang dihasillkan umat manusia.

Dan yang terpenting adalah memutus rantai penyebaran Covid-19. Gerakan Social Distancing ini bisa dianggap juga semacam puasa dari ingar-bingar tuntutan sosial yang tak kunjung henti. Sambil menahan diri, juga menyelamatkan orang lain dari penyebaran virus.

Mari kita perbanyak rebahan, nonton drama Korea, maraton film atau seri, bikin komik, menulis buku, menanam tomat di kebun, budidaya lebah, bermain Hago, ngerjain skripsi, atau siapa tahu ketika mengisolasi diri bisa menemukan teori-teori Fisika.

Atau, bisa juga nih para dosen dan asisten laboratorium yang sedang melakukan kuliah jarak jauh belajar daring sambil main cacing sama mahasiswanya. Kali aja bisa akur ye kan?