Sosrokartono: Poliglot Pertama dan Tokoh Intelektual Indonesia

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Sosrokartono dengan pakaian adat Jawa (Foto: Istimewa)

-

AA

+

Sosrokartono: Poliglot Pertama dan Tokoh Intelektual Indonesia

Overview | Jakarta

Jumat, 07 Februari 2020 15:24 WIB


Di Leiden University, beliau banyak mengeksplorasi diri di bidang sastra seperti yang ia minati dari awal. Salah satunya dengan mengikuti lembaga penelitian yang fokus pada riset kebudayaan suku bangsa nusantara.

Sugeh tanpo Bondo, Digdaya tanpo Aji

Trimo Mawi Pasrah, Sepi Pamrih Tebih Ajrih

Langgeng... tanpo Susah, tanpo Seneng

Anteng Mantheng, Sugeng Jeneng


BEGITULAH sepenggal syair yang sering dilantunkan oleh seorang budayawan, Sujiwo Tejo. Sebuah syair yang tidak hanya sekadar lahir agar nikmat di dengar, melainkan sebuah nasihat dan prinsip hidup dalam bahasa Jawa yang sangat mendalam.

Sebelum membahas mahasiswa pertama yang menghabiskan waktu 11 tahun untuk kuliah dalam tulisan ini, kiranya pembaca perlu tahu bahwa bait indah sebagai preambule di atas merupakan prinsip perjuangan lahir dari seorang Raden Mas Panji Sosrokartono.

Beliau yang lebih dikenal dengan Sosrokartono (tanpa gelar) merupakan kakak kandung dari salah seorang pejuang emansipasi wanita di Indonesia, R.A. Kartini. Tidak banyak yang mengenal beliau, apalagi generasi milenial bahkan generasi Z pada umumnya.

Tidak seterkenal jika dibandingkan dengan sosok pahlawan kemerdekaan atau tokoh nasional lain di eranya, bahkan adiknya sendiri. Namun jika harus memberikan pandangan penulis sebagai mukadimah, alhasil beliau adalah sosok yang patut di teladani. Baik segi pendidikan, pergerakan nasional, pengabdian, terlebih lagi dalam prinsip hakekat beliau: memanusiakan manusia.

Sosrokartono adalah anak laki-laki ketiga dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Nyai Ajeng Ngasirah. Beliau lahir di daerah Mayong, Jepara 10 April 1877. Status Ayahanda yang kemudian menjadi Bupati Jepara dan merupakan keluarga ningrat tersebut lantas tidak membuat beliau ansos (antisosial).

Sosrokartono tumbuh menjadi seorang yang dekat dengan kehidupan sosial masyarakat menengah ke bawah saat itu. Alih-alih sekadar berfoya-foya dengan gelimang harta yang dimiliki ayahanda, beliau menunjukan jati dirinya sebagai pengabdi kawulo selama perjalanan hidupnya.

Banyak referensi yang mengatakan bahwa beliau tidak pernah memandang status sosial. Beliau bergaul dengan siapa saja yang ada di sekitarnya. Tidak memandang ras, latar belakang keluarga, hingga keyakinan atau agama.Sosok ini juga lebih gemar dipanggil “Sos” atau Sosrokartono saja, tanpa gelarnya.

Tak heran di kemudian hari, tak sedikit orang menilai bahwa yang dilakukan beliau merupakan “bunuh diri” kelas. Namun semua itu bukanlah arti bagi sosok jenius ini. Lebih lagi, beliau sudah terkenal cinta dengan ilmu pengetahuan dan budaya sejak belia.

Memang, status sosial saat itu membuat Sosrokartono mampu mendapatkan akses pendidikan yang lebih dari bumiputera lainnya. Namun, oleh Sosrokartono yang juga memiliki (banyak) nama pena ini, kesempatan tersebut tidak di sia-siakan begitu saja apalagi hanya untuk pamrih.

Alhasil, segudang prestasi telah beliau torehkan semasa menempuh pendidikan dan dalam perjalanan hidupnya.

Dalam segmen kali ini, penulis ingin menceritakan sedikit tentang perjalanan Sosrokartono sebagai tokoh intelektual Indonesia. Beliau merupakan bumiputera pertama yang mengenyam pendidikan di bangku perkuliahan. Kejeniusannya pun diakui oleh dunia internasional saat itu.

Sedikitnya, 24 bahasa asing dan 10 bahasa lokal di Nusantara yang beliau pahami. Itulah mengapa Sosrokartono disebut sebagai manusia polygot pertama di Indonesia. Selanjutnya, beliau merupakan mahasiswa Indonesia pertama yang mengambil beberapa jurusan dalam studinya dan masing-masing diantaranya sangat tidak linear.

Dimulai dari jurusan teknik sipil, sastra timur, dan psikometri-psikoteknik atau yang lebih dikenal dalam rumpun ilmu kedokteran. Suatu pengalaman perkuliahan yang cukup langka bila dilakukan oleh seorang mahasiswa saat ini. Namun, semua beliau gilas di benua biru tersebut. Baik dalam format kelas formal, informal, hingga lulus, dan berakhir tanpa ijazah/gelar.

Perjalanan pendidikan Sosrokartono dimulai dari keluarganya. Dari masa belia, Ayahanda Sosrokartono juga memanggil guru privat dan guru ngaji untuk memberikan pelajaran ilmu Agama Islam, Bahasa Belanda, dan Budaya Jawa.

Dalam ranah formal, Sosrokartono mengawali bangku sekolah di Europse Lagress School (ELS) Jepara saat menginjak umur 8 tahun. Pasca itu dilanjutkan di Hogere Burger School (HBS) Semarang.

Kedua sekolah tersebut merupakan sekolah milik Belanda dan hanya anak-turun negeri kolonial tersebut serta anak bangsawan/ningrat dari bumiputera saja yang boleh menjadi muridnya. Meskipun menjadi pribumi yang mengenyam bangku sekolah bersama dengan anak kompeni, Sosrokartono membuktikan bahwa dapat bersaing dan berprestasi.

Prestasi luar biasa beliau torehkan di penghujung kelulusan dari HBS Semarang, karya tulis beliau dalam bahasa Jerman muncul menjadi yang terbaik diantara murid lainnya. Selanjutnya karya tersebut dijadikan percontohan dan dibacakan hingga HBS pusat (setingkat SMA kalau sekarang) yang ada di Batavia.

Kecintaannya tehadap dunia sastra telah terlihat sejak belia. Di umur yang masih terbilang muda, Sosrokartono suka dan mudah memahami jenis sastra Jawa seperti Wulang Reh dan Serat Centhini. Sostrokartono kecil juga sangat menyukai pertunjukan wayang dan budaya tradisional Jawa lainnya. Begitulah kebiasaan sosok yang gemar membaca dan sangat mencintai budayanya tersebut.

Dalam konteks budaya, Beliau pernah menyampaikan pesan bahwasannya kita haruslah pandai dalam bahasa asing, tertarik mempelajari budaya luar, namun yang terpenting jangan sampai lupa dengan budaya-tradisi leluhur kita sendiri. Karena ketika kita bias akan budaya barat tersebut maka hilanglah sudah jati diri kita sebagai suatu bangsa yang berbudaya.

Pada tahun 1897, momentum baru perjalanan studi Sosrokartono dimulai. Negeri Belanda yang saat itu masih menjadi penjajah bangsanya sendiri dipilih sebagai tempat berlabuh untuk menimba ilmu. Beliau mengawali studinya dengan menjadi mahasiswa Teknik Sipil di Polytechnische School yang sekarang bernama Delft University of Technology.

Di sini, Sosrokartono hanya menimba ilmu selama 2 tahun. Alasan utama untuk tidak melanjutkan dilansir karena Beliau lebih berminat dan menyukai filsafat dan kesusastraan timur. Akhirnya, Delft pun beliau tinggalkan untuk hijrah ke Leiden dan masuk ke Fakultas Sastra Timur (Facultiet der En Wijbegertee), Leiden University.

Di Leiden University, beliau banyak mengeksplorasi diri di bidang sastra seperti yang ia minati dari awal. Salah satunya dengan mengikuti lembaga penelitian yang fokus pada riset kebudayaan suku bangsa nusantara. Tidak hanya itu, eksplorasi diri juga dilakukan dengan bergabung dalam surat kabar “Bintang Hindia” yang kemudian berubah nama menjadi “Indonesia Merdeka”.

Surat kabar tersebut merupakan platform untuk menyuarakan semangat nasionalisme Indonesia melawan kolonial Belanda oleh beberapa tokoh dalam generasi Sosrokartono saat itu. Beliau juga mampu menyelesaikan studinya sebagai sarjana muda hanya dalam waktu relatif singkat, yakni 2 tahun.

Kesaksian dari Prof. Kern, yang merupakan salah satu profesor sekaligus dosen yang paling akrab dengan Sosrokartono saat itu menyebutkan bahwa dirinya pernah mempunyai mahasiswa asal Jawa yang sangat cerdas. Meskipun tidak secara eksplisit menyebutkan nama Sosrokartono, namun satu-satunya mahasiswa di fakultas tersebut dan berasal dari Jawa adalah Sosrokartono.

Singkat cerita, pada 08 Maret 1908, mahasiswa pertama asal Indonesia tersebut berhasil menyabet gelar Doktorandus (Drs.). Selama kurang lebih 11 tahun pasca kelulusan dari HBS dan memlih untuk merantau telah Beliau lalui untuk menimba ilmu di negeri kincir angin tersebut.

Sebelum akhirnya mendapatkan kelulusan pertamanya sebagai seorang doktorandus. Sebuah gelar yang mungkin untuk saat ini kira-kira setara dengan Strata-Satu (S-1).

Durasi masa studi yang sudah tidak kontekstual lagi apabila dibandingkan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Umumnya, mahasiswa dituntut untuk menyelesaikan studinya dalam waktu 4-5 tahun. Jika tidak, maka banyak konsekuensi yang akan diterima.

Mulai dari pertanyaan orang tua, calon mertua, dan tidak terlewatkan dari diri sendiri, “Kapan lulus?”, “Habis lulus ngapain?”. Namun hal ini bukanlah indikator mutlak “Quarter Life Crisis”, semuanya kembali pada bagaimana kita (mahasiswa) menyikapi dan menjalani proses yang ada. Tetep, teteg, antep, lan mantep kalau kata simbah, Ki Hadjar Dewantoro.

Seorang Jurnalis Perang

Kembali ke Sosrokartono. Setelah lulus dengan gelar doktorandus, kariernya semakin cemerlang dan masih menjamah daratan Eropa. Perjalanan karirn beliaupun sangatlah luar biasa.

Dimulai dari menjadi jurnalis perang di The New York Herald Tribune pada perang dunia pertama (PD-1), ahli bahasa di Liga Bangsa-Bangsa (LBB) atau yang saat ini lebih dikenal dengan United Nation (PBB), ahli bahasa di kedutaan besar Perancis di Den Haag, dan sempat mengikuti perkuliahan (informal) di Jurusan Psikometri dan Psikoteknik, di Sorbone University, Perancis.

Setelah melalang-buana dengan karir, prestasi, rekor, dan pendapatan yang luar biasa di era itu, sosok poliglot pertama Indonesia tersebut akhirnya memilih kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kehidupan yang penuh kesederhanaan dengan mengabdi kepada masyarakat dan meninggalkan segala kekuasaan, jabatan, dan kekayaan yang dimiliki.

Masih banyak kiranya kisah menarik yang dapat kita petik dan tauladani dari sosok Sosrokartono. Tentang bagaimana hubungan beliau dengan keluarga. Pengalaman beliau dikala merantau guna menimba ilmu dan diantaranya bersamaan dengan kepergian adik serta ayahanda tercinta menuju ke-abadi-an.

Tentang bagaimana sumbangsih ide beliau dalam pergerakan nasional, karir yang luar biasa di kancah internasional, hingga ketika memilih meninggalkan Eropa untuk mengabdi serta menjalankan amalan-tirakat beliau di Tanah Air.

Semua akan penulis sampaikan dalam artikel-artikel singkat selanjutnya. Semoga kita dapat berjumpa lagi baik dalam tulisan, meja diskusi, atau entah apapun itu kawah-candradimukanya, tentunya masih membahas sosok inspiratif nan tauladan ini.


Penulis: Selasar Network


0 Komentar