Studi: Hasil Tes Negatif Virus Corona Bisa Berubah Positif
Alat canggih di laboratorium rumah sakit di Wuhan, China (Foto: Xinhua)

JAKARTA, HALUAN.CO – Sebuah studi mengungkap bahwa seseorang yang sebelumnya dinyatakan negatif terinfeksi virus corona, ternyata bisa berubah positif. Sebelum dipastikan menjadi pasien positif virus corona atau COVID-19, para suspek yang menunjukkan berbagai gejala diisolasi dan menjalani tes atau uji lab.

Hal tersebut dilakukan untuk memastikan ada atau tidaknya virus corona di dalam tubuh. Hasilnya, ada beberapa negara yang pasiennya sudah menjalani tes sebanyak 6 kali dan dinyatakan negatif. Tapi, setelahnya malah didiagnosa mengidap COVID-19, dikutip dari BBC.

Dalam menguji sampel dari suspek, pihak pusat endemi di Provinsi Hubei, China, menggunakan tes Reverse Transcriptase-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Ini adalah tes standar yang digunakan untuk mendeteksi penyakit akibat virus, seperti HIV dan influenza.

“Mereka (suspek) dites akurat secara umum dengan RT-PCR, yang tingkat false-positive rendah dan false-negative rendah,” kata dr Nathalie MacDermott dari King's College London.

Sebuah studi dalam jurnal Radiology menunjukkan 5 dari 167 pasien yang negatif dengan kondisi paru-paru yang sakit, malah dinyatakan positif saat dites kembali. Bahkan dengan adanya penemuan ini, dr Nancy Messonnier dari Centers for Disease and Prevention mengatakan hasil tes uji tersebut tidak meyakinkan.

Duh, 1 716 Tenaga Medis di China Terpapar Virus Corona

“Gejala COVID-19 ini mirip dengan penyakit pernapasan lainnya. Mungkin saat pertama diuji, mereka tidak terinfeksi, tapi seiring berjalan waktu mungkin mereka terinfeksi, dites kemudian positif. Itu kemungkinan,” kata dr MacDermott.

“Pada kasus Ebola, kami selalu menunggu sampai 72 jam setelah hasil negatif keluar. Ini untuk memastikan virus tersebut benar-benar tidak ada di dalam tubuh manusia,” imbuhnya.

Dokter MacDermott juga memperkirakan bisa saja dokter yang mengujinya mengambil sampel yang salah dan hasilnya negatif. Agar lebih akurat, ia menyarankan untuk mendapatkan kode genetik virus yang tepat dulu sebelum menjalani tes.

“Selain itu, para petugas medis juga harus terus menguji atau tes lagi para pasien, selama mereka masih memiliki gejala untuk memastikan secara akurat,” harapnya.


Penulis: Neni Isnaeni