Survei Kementerian PPPA: Mayoritas Anak Tak Suka Belajar di Rumah
Ilustrasi anak belajar dari rumah. (Foto: shutterstock)

JAKARTA, HALUAN.CO - Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) mengakui bahwa mayoritas anak tak mau belajar di rumah. 

Hal itu diketahui berdasarkan hasil survei Ada Apa Dengan COVID-19 (AADC-19) yang dilakukan Kementerian PPPA untuk mengetahui persepsi, kondisi dan pengetahuan anak tentang COVID-19.

Mengapa ini penting: Selama pandemi COVID-19, pemerintah tidak meliburkan kegiatan belajar mengajar, namun menggantikannya dengan belajar dari rumah.

"Berdasarkan hasil survei, khususnya terkait persepsi anak tentang belajar di rumah, sebanyak 58 persen anak merasa tidak senang saat menjalani proses tersebut," kata Sekretaris Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA, Eko Novi Ariyanti, dalam pernyataan persnya, Sabtu, (11/4/2020).

Konteks:

  • Survei Kementeria KPPPA dilakukan selama 4 hari, mulai 26 sampai 29 Maret 2020.
  • Pengumpulan survei dilakukan dengan responden anak berusia di bawah 18 tahun dengan 69 persen responden anak perempuan dan 31 persen responden anak laki-laki.
  • Sepekan diberlakukannya sistem belajar dari rumah, KPAI sudah mendapat 51 aduan tentang beratnya tugas dan PR yang di terima siswa.

Penyebab murid tak suka belajar dari rumah:

  • Sulit berinteraksi dengan teman-temannya.
  • 38 persen anak menyatakan bahwa sekolah belum memiliki program yang baik dalam penerapan belajar di rumah.
  • Anak ingin tugas belajar di rumah dilakukan lebih interaktif.
  • Anak-anak kesulitan menangkap pelajaran jika hanya sekedar diberi tugas oleh sekolah.

Harapan anak-anak: Para siswa-siswi berharap sekolah tidak memberikan tugas terlalu banyak, tapi lebih menerapkan pola belajar dengan komunikasi dua arah dengan guru dan melaksanakan pembelajaran yang efektif.

Setelah UN Ditiadakan, Nilai Rapor akan Tentukan Kelulusan, Sekolah Bisa Memilih Dua Opsi!

Apa lagi hasil surveinya: Imbas wabah corona telah berdampak terhadap pola kebiasaan anak.

  • 98 persen anak merasa bahwa COVID-19 berpengaruh terhadap kebiasaan dan pola hidup mereka yang bersih dan sehat.
  • 74 persen anak melihat masih banyak orang yang keluar rumah meski virus corona sudah mewabah.

0 Komentar