Survei LIPI: Masyarakat Masa Bodoh dengan Larangan Pemerintah Jangan Mudik
Ilustrasi pemudik di Terminal Gapura Surya Nusantara, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. (Foto: Suara)

JAKARTA, HALUAN.CO - Hasil survei yang dilakukan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan, imbauan pemerintah agar masyarakat tidak mudik, ternyata tak memberikan pengaruh yang signifikan.

Mengapa ini penting:

  • Dalam rangka mencegah penyebaran COVID-19, pemerintah meminta masyarakat untuk tidak melakukan perjalanan baik dalam maupun luar kota.
  • Imbauan pemerintah itu menimbulkan polemik di kalangan masyarakat, terlebih dekatnya momentum Idul Fitri yang identik dengan budaya mudik.

"Hasil analisis data menunjukkan secara keseluruhan latar belakang pendidikan, jenis kelamin dan kegiatan responden tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap keputusan untuk mudik ataupun tidak," demikian keterangan LIPI dilansir dari laman resminya, Jumat (17/4/2020).

Konteks:

  • Saat ini pemerintah telah membatalkan program mudik gratis: melarang ASN, pegawai BUMN, dan anggota TNI-Polri untuk mudik, juga merevisi kembali ketentuan cuti bersama Lebaran.
  • Sekjen MUI Anwar Abbas mengatakan, mudik di kala terjadi wabah virus Corona haram hukumnya, karena akan membahayakan warga di desa dan kampung halaman. Namun, pernyataan Anwar itu bukan keputusan fatwa resmi MUI.

Lembaga yang melakukan survei: Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), LIPI, BNPB, UI, UGM, ITB, IPB, Politeknik Statistika Sekolah Tinggi Ilmu Statistik, serta Jurnalis Bencana dan Krisis Indonesia melakukan survei Persepsi Masyarakat terhadap Mobilitas dan Transportasi.

Responden survei:

  • Survei ini melibatkan masyarakat umum dengan total responden sejumlah 3.853 orang, rentang usia 15–60 tahun ke atas dan persentasi jenis kelaim perempuan dan laki-laki yang berimbang.
  • 24,81 persen responden berusia 15-20 tahun; 29,92 persen berusia 21-30 tahun; 22,32 persen berusia 31-40 tahun; 14,79 persen berusia 41-50 tahun; 7,09 persen berusia 50-60 tahun; dan hanya 41 orang atau 1,06 persen responden berusia di atas 60 tahun.
  • Sebagian besar responden merupakan pekerja dan pelajar bekerja.
  • Dominasi responden berasal dari pulau Jawa.
  • Survei diikuti responden yang berpendidikan mulai dari SMP hingga pascasarjana. Sebagian besar responden berpendidikan tinggi diploma ke atas yaitu 61,39 persen (2365 orang), 37,61 persen responden berpendidikan SMA dan hanya 1,01 persen berpendidikan SMP.

Hasil survei:

  • Hasil survei, sebesar 56,22 persen responden menjawab tidak akan mudik termasuk di dalamnya 20, 98 persen masih dalam tahap berencana untuk membatalkan mudik.
  • Persentase masyarakat yang mudik masih tinggi di angka 43,78 persen. Sebagian besar responden tidak mudik disebabkan adanya kegiatan sekolah dan wirausaha.
  • 69,06 persen responden memutuskan untuk mudik terkait dengan keperluan Idul Fitri dan akan berangkat pada waktu cuti bersama Idul Fitri dan setelah Idul Fitri.
  • Pilihan moda transportasi yang utama adalah mobil pribadi (42,86 persen), pesawat (29,22 persen), dan kereta api (12,86 persen).
  • Pergerakan rencana mudik para responden menunjukkan, pergerakan terbesar berasal dari Jawa Barat (22,94 persen), DKI Jakarta (18,14 persen), Jawa Timur (10,55 persen), Jawa Tengah (10,02 persen) dan Banten (4,68 persen).
  • Di DKI Jakarta terjadi pergerakan ke hampir seluruh provinsi di Indonesia. Pergerakan terbesar menuju Jawa Tengah, yakni sebesar 24,18 persen, 16,01 persen menuju Provinsi Jawa Timur, 14,71 persen menuju Jawa Barat, 7,52 persen menuju DI Yogyakarta, dan 4,58 persen menuju Sumatera Utara.
  • 98,05 persen responden mengetahui kelompok yang rentan COVID-19 dan orang sehat dapat menjadi carrier jika melakukan mudik.
  • Hanya 32,07 persen mengaku sangat khawatir akan menularkan COVID-19.
  • Sebanyak 10,25 persen responden mengaku tidak khawatir dan tetap berencana mudik dengan alasan merasa sehat dan mengetahui kondisi kampung baik-baik saja. Mereka kebanyakan berpendidikan tinggi sarjana, pascasarjana dan SMA.

Temuan lain: Responden menyadari perlunya upaya-upaya pengurangan risiko saat mudik.

  • 37,58 persen responden yang memutuskan mudik akan melakukan tindakan mencuci tangan baik selama perjalanan maupun di kampung halaman.
  • 36,02 persen responden akan mengurangi kontak fisik seperti bersalam-salaman, dan 34,31 persen akan menjaga jarak fisik saat berkomunikasi langsung.
  • 31,82 persen responde akan memakai masker sepanjang waktu. 30,96 persen responden tidak akan mengadakan acara silahturahmi dalam skala besar saat dikampung.
  • Hanya 20,98 persen responden akan yang melakukan pembatalan rencana mudik, sebagai upaya mengurangi risiko penularan.
PSBB Tak Akan Berarti Jika Mudik Tetap Dibiarkan

Rekomendasi survei:

  • Perlunya kampanye merubah rencana masyarakat untuk tidak mudik Idul Fitri sebagai upaya mengurangi risiko penularan COVID-19.
  • Antisipasi pelaksanaan mudik harus dilakukan seperti pengaturan dan antisipasi pergerakan masyarakat dari provinsi asal menuju provinsi dan kabupaten/kota tujuan mudik.
  • Perlunya dilakukan pengaturan moda transportasi yang akan digunakan oleh masyarakat untuk mudik.

0 Komentar