Susi vs Edhy, Lord Luhut Bapak Investasi dan Harga Lobster Setara Upah Buruh Yogyakarta

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Jenis-jenis hewan laut dan salah satunya Lobster. (Ilustrasi: Istimewa)

-

AA

+

Susi vs Edhy, Lord Luhut Bapak Investasi dan Harga Lobster Setara Upah Buruh Yogyakarta

Overview | Jakarta

Kamis, 19 Desember 2019 10:42 WIB


Asal tahu saja, harga Lobster Mutiara dengan ukuran paling rendah di pasaran atau 100-200 gram adalah 480 ribu. Sedangkan Lobster Mutiara ukuran 2 kilogram dihargai lebih dari 1.300.000 rupiah. Dapat dipastikan, seorang buruh swasta di provinsi DI Yogyakarta menangis melihat harga lobster ini. Sebab, setara dengan upah minimum regional yang rendah dan masih sering diselewengkan pula. Saran saya, kembali ke pecel lele!

PERANG opini masih berlangsung panas antara mantan menteri Kementerian Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti dengan wacana kebijakan ekspor benih lobster yang diinisiasi menteri KKP saat ini, Edhy Prabowo. Hal ini, lantas membuat banyak warganet menjadi paham bagaimana penjelasan teknis mengenai pentingnya konservasi benih lobster ini.

Pasalnya, Bu Susi dengan gigih terus mencerahkan warganet di khazanah linimasa Twitter. Lantas, apa iya kebijakan ekspor benih lobster ini sebegitu primer dalam perdagangan hasil laut Indonesia? Sebab, sejauh ini rupanya wacana ini mendapat dukungan penuh dari “Bapak Investasi” Indonesia, Yth. Luhut Binsar Panjaitan.

Mungkin, beberapa kawan tak begitu akrab dengan lobster. Maklum saja, hasil laut satu itu memang tak sefamiliar tempe atau ayam. Meski Bu Susi sudah lima tahun menggaungkan kampanye “Makan Ikan” tapi tentu tak semua orang di negeri ini punya previlese untuk menikmati lobster, apalagi jenis Lobster Mutiara yang harga per ekornya setara cicilan motor itu. Lantas, kenapa sih orang-orang ini pada ribut soal ekspor benih lobster?

Pertama, saat ini lobster hanya bisa dibudidaya secara in situ, atau di dalam habitat aslinya. Sehingga, kita tidak bisa menyamakan lobster ini dengan ikan lele atau budidaya buzzer di media sosial. Sebab, proses pembibitan lobster belum bisa dilakukan secara ex situ atau di luar habitat aslinya.

Mau tak mau, benih lobster harus dikembangkan secara berkelanjutan di habitatnya hingga ukuran tertentu. Kesulitan budidaya lobster ini terletak pada proses pemberian makan dan pembersihan benih yang harus dilakukan secara manual, yaitu menyelam. Tidak bisa hanya menyebar makanan di permukaan air laut. Sekali lagi, lobster bukan lele bosque….

Kedua, benih lobster yang dibudidayakan di tambak memiliki survival rates maksimal 20 persen. Atau, dengan kata lain dari 1.000 benih, hanya akan menghasilkan 200 ekor lobster. Ini yang dibudidaya, belum yang alami. Dan tentu, dalam habitat alaminya, seekor indukan lobster bisa menghasilkan ratusan ribu telur. Tapi yang hidup hingga dewasa? Kira-kira hanya 1 persen.

Ya, lobster memang seringkih itu, tak begitu tegar dibandingkan dengan semangat Pak Luhut yang memperjuangkan hasil produksi sawit ke Uni Eropa baru-baru ini.

Ketiga, mulanya pelarangan perdagangan benih lobster melahirkan banyak pasar gelap di beberapa negara penadah. Termasuk Singapura dan Vietnam.

Nah, negara yang disebut terakhir adalah tempat di mana benih lobster banyak dibudidayakan di perairan laut. Dan, tentu negara ini menjadi saingan berat Indonesia dalam hal produksi lobster.

Lantas, kenapa mereka menadah benih lobster dari Indonesia? Ya pertama, karena berbagai jenis lobster hidup dan berkembang di perairan kita, selain juga Filipina. Dan, sayangnya konon diketahui bahwa orang-orang Vietnam memiliki etos kerja tinggi untuk budidaya lobster ini. Misalnya saja, mereka bisa betah menyelam sekian lama hanya untuk memberi makan dan membersihkan karamba di dasar laut.

Adanya larangan penjualan benih lobster atau lobster seeds inilah yang kemudian membuat harga benihnya menjadi tinggi di pasar gelap. Sekitar 50 ribu rupiah seekor. Lobster seeds ini bukan anakan lobster yang sudah nampak berbentuk lobster lho bosque.

Justru, yang diperjualbelikan adalah benih lobster yang masih bening-bening dan transparan, dengan panjang 1-3 sentimeter saja. Hal ini dipilih karena benih lobster pada tahapan transparan ini yang memungkinkan survival rates tinggi. Dibandingkan anakan lobster berukuran 100-gram, lobster seeds transparan memiliki survival rates hampir 20 persen tadi.

Dan terakhir, tentu saja wacana penghapusan larangan ekspor bibit lobster ini merugikan secara finansial. Sebab, kita pakai saja logika sederhana mengenai produksi hulu dan hilir. Jika satu ekor benih lobster seeds dijual paling mahal 50 ribu, lantas kenapa tidak menunggu saja hingga benih itu dewasa sampai 2 kilogram misalnya.

Asal tahu saja, harga Lobster Mutiara dengan ukuran paling rendah di pasaran atau 100-200 gram adalah 480 ribu. Sedangkan Lobster Mutiara ukuran 2 kilogram dihargai lebih dari 1.300.000 rupiah. Dapat dipastikan, seorang buruh swasta di provinsi DI Yogyakarta menangis melihat harga lobster ini. Sebab, setara dengan upah minimum regional yang rendah dan masih sering diselewengkan pula. Saran saya, kembali ke pecel lele!

Nah bosque, bagaimana? Sudah sedikit paham kenapa Bu Susi sampai harus terus bikin pencerahan via cuitan di Twitter dalam kurun waktu seminggu ini? Lha ya jelas lah ya, beliau yang bikin peraturan larangan ekspor lobster untuk menyejahterakan petani lobster di negeri ini. Tentu dengan harapan agar mereka dapat menjual hasil laut dengan harga tinggi di pasaran. Bukannya menjual benih lobster dengan harga rendah.

Hampir sama seperti produksi minyak sawit atau CPO (Crude Palm Oil) yang dijual mentah kel luar negeri. Dan lantas kita impor dalam bentuk produk jadi dengan surplus value tinggi. Logika ekonomi sederhananya, kalau kita bisa jual barang jadi dengan harga mahal, kenapa harus menjual barang mentah dengan harga murah.

Toh, waktu dan tenaga untuk budidaya lobster di dalam negeri juga terbayar dengan harga lobster dewasa yang cukup tinggi bukan? Meski memang lebih lama dan berisiko, tapi apa salahnya jika Kementerian Kelautan dan Perikanan ini justru membantu para pembudidaya lobster. Bukan justru mematikan usaha mereka.

Di sisi lain, wacana ekspor bibit lobster ini juga amat merugikan konservasi lobster di negeri ini. Tidak hanya masa lalu dan kenangan mantan saja yang patut dikonservasi bosque, malahan yang begini-begini lebih penting. Sebab, hasil laut Indonesia, khususnya lobster ini perlu diperkuat. Agar keuntungan Zona Ekonomi Eksklusif lautan negeri ini tidak terbuang sia-sia hingga dimanfaatkan negeri tetangga.

Enak saja, kita yang punya lautan luas, tapi hasil lautnya dijual negeri lain. Bukannya beruntung, malah buntung. Plus, mampus juga anak cucu kita nantinya. Sebab, bisa saja hasil laut negeri kita tinggal cerita dan semakin jadi barang luks bagi mereka. Tidak tega rasanya jika suatu saat justru kita habis-habisan impor hasil laut dari negeri tetangga, tapi bibitnya pernah dengan mudah didapat di lautan negeri kita sendiri. Ironis bukan?

Lantas, kenapa sih Bapak Menteri KKP yang terhormat beserta Lord Luhut “Bapak Investasi” kita begitu getol dengan wacana ekspor benih lobster ini? Apakah karena sila kelima Pancasila kiwari yang berbunyi, ”Keadilan Sosial bagi Seluruh Pemodal di Indonesia”?

Lho Mas, lha “rakyat”-nya mana?

Lah, mana saya tahu. Emangnya rakyat kita eksis?

Eksis banget dong, pas masa Pemilu doang. Setelahnya, ya maaf-maaf aje nih bosque, ngurusin rakyat kagak ada cuannya…


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja


0 Komentar