Syekh Puji dan Bahaya Nikah Siri

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Syekh Puji sekali lagi membuat geger karena diduga menikahi anak di bawah umur. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Syekh Puji dan Bahaya Nikah Siri

Overview | Jakarta

Sabtu, 04 April 2020 17:59 WIB


Bisa dipastikan, jika tuntutan Komnas Perlindungan Anak ini terpenuhi maka hasil persidangan terhadap Syekh Puji akan menjadi catatan yang tegas bagi pelaku pedofilia di negeri ini.

NAMA Pujiono Cahyo Widianto mulai santer terkenal dari mulut ke mulut sejak tahun 2008. Setidaknya, saat itu nama Syekh Puji menjadi sosok yang sering disebut-sebut oleh seorang kawan saya semasa SMP untuk menakuti kawan perempuan. Dan sejak saat itu, nama Syekh Puji sukses membikin geger dunia persilatan lidah antaranak remaja.

“Hayo, ngkok dirabi Syekh Puji kon”, ujar kawan SMP saya di Jawa Timur.

Awas nanti dinikahi Syekh Puji!

Kalimat itu terlontar bukan tanpa sebab. Terlebih karena pada Agustus 2008 nama Syekh Puji, seorang pemuka agama dari Bedono, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah mengaku telah menikahi seorang gadis berumur dua belas tahun. Saat itu, gadis tersebut baru lulus sekolah dasar. Dan pernikahan itu sendiri dilakukan secara siri dengan dalih mengajak gadis tersebut umrah ke Tanah Suci.

Di waktu yang hampir bersamaan, nama Syekh Puji tenar pula karena memberi zakat pada masyarakat di sekitar Ponpes Miftahul Jannah sebesar RP1,3 miliar. Alangkah dermawannya beliau ini.

Eits, tapi kedermawanan dan kekayaan Syekh Puji tentu tak bisa menutupi tindak-tanduknya yang menikahi siri seorang anak di bawah umur. Terlebih lagi, dia adalah pemuka agama dan pemilik pondok pesantren. Malaikat Roqib dan Atid pasti kebingungan mencatat amal Syekh Puji.

Mengingat lagi kisah Syekh Puji kala itu adalah suatu fenomena gunung es tentang perkawinan di bawah umur di Indonesia. Meski yang tenar hanya kasus itu, tapi hal ini tentu masih banyak dijumpai di berbagai daerah dengan kualitas serta akses pendidikan terbatas. Terlebih, dalam wawancaranya yang dimuat Detik pada Agustus 2008, Syekh Puji mengaku bahwa dirinya memang suka anak kecil. Dengan kata lain, dia menasbihkan dirinya sendiri sebagai seorang pedofilia.

Sialnya, hampir dua belas tahun sejak kasus pernikahan sirinya dengan anak berusia belasan tahun itu, Syekh Puji kembali bikin geger. Bahkan, geger ini muncul di tengah wabah COVID-19 di Indonesia. Ya, pemuka agama yang akrab dengan jenggot, berkalung tasbih, dan pakaian serba putih itu diduga kembali menikahi seorang anak berusia tujuh tahun. Tujuh tahun pemirsa!

Bahkan, Komnas Perlindungan Anak telah melaporkan Syekh Puji kepada Polda Jawa Tengah sejak 21 Februari 2020 lalu. Jika ditarik lagi pada tahun 2008, kasus Syekh Puji saat itu ditangani oleh Pengadilan Negeri Kab. Semarang yang menjatuhkan hukuman enam tahun penjara dan denda sebesar 60 juta rupiah pada sosok Syekh Puji.

Saat itu, Syekh Puji terbukti melakukan serangkaian kebohongan, atau bujuk rayu untuk melakukan persetubuhan sebagaimana diatur dalam Pasal 81 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Namun di kasus terbaru, Syekh Puji nampaknya bakal menerima tuntutan lebih dari Komnas Perlindungan Anak. Hal ini disinyalir dari adanya catatan hukum serupa pada tahun 2008. Bahkan, Komnas PA berasumsi bahwa memang Syekh Puji memiliki kelainan seksual sebagai pedofilia.

Untuk hal ini, Syekh Puji dapat terancam hukuman maksimal 20 tahun dan kebiri secara kimia. Hal itu sesuai dengan Pasal 76D juncto 76E juncto Pasal 81 ayat 1 juncto Pasal 82 ayat 1 dan 2 UU No.23/2002 yang diperbarui dengan UU No.35/2014 tentang Perlindungan Anak. Selain itu, terduga juga disangkakan UU No.17/2016 tentang Penerapan Perpu No.1/2016 tentang Perubahan Kedua atas UU No.23/2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-Undang.

Bisa dipastikan, jika tuntutan Komnas Perlindungan Anak ini terpenuhi maka hasil persidangan terhadap Syekh Puji akan menjadi catatan yang tegas bagi pelaku pedofilia di negeri ini. Dan nampaknya, kita perlu yang semacam ini.

Sebab, dengan menikahi anak di bawah umur juga Syekh Puji melanggar UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan pasal 7 ayat 1 (satu). Ayat itu berbunyi secara jelas bahwa Perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak wanita sudah mencapai umur 16 (enam belas) tahun.

Tentu, Syekh Puji memenuhi syarat pertama sebab sudah tentu ia berumur lebih dari 19. Tetapi masalahnya adalah pada pihak wanita di mana ia masih berusia tujuh tahun. Sekali lagi saudara-saudara, tujuh tahun. Apa yang Anda lakukan pada usia tujuh tahun? Oh tentu, jangan sampai dinikahi Syekh Puji, apapun alasannya.

Dan catatan lain yang penting untuk disoroti adalah soal pernikahan di bawah umur ini dilakukan secara siri. Pernikahan siri atau pernikahan di bawah tangan hanya sah secara agama atau adat, tetapi tidak tercatat secara resmi oleh negara. Sehingga tidak memiliki kekuatan hukum sama sekali. Erni Ratnaningsih dalam tulisannya “Perkawinan di Bawah Tangan (Nikah Siri) dan Akibat Hukumnya” menyatakan bahwa secara hukum pernikahan jenis ini merugikan pihak ibu dan anak nantinya.

Erni mencatat bahwa seorang istri dari pernikahan siri ini tidak berhak atas harta gono-gini jika nantinya terjadi perceraian. Dan juga, dalam kasus suami siri meninggal, seorang istri dan anaknya tidak berhak atas hak waris karena keberadaan mereka tidak sah secara hukum negara. Hal ini tentu amat berat bagi seorang istri dan anak yang hidup di balik tirai pernikahan siri. Hak anak lain yang tak dimiliki adalah kepemilikan dokumen akta kelahiran secara resmi dengan ayah dan ibu biologisnya.

Namun, sejak keluar Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010 hal ini telah ditetapkan bahwa seorang anak yang lahir dari pernikahan tidak sah dapat memiliki akta kelahiran dengan nama ibu saja. Sehingga hal ini nampak masih timpang karena seorang ayah akan kehilangan kewajibannya sebagai ayah secara biologis.

View this post on Instagram

Nama Pujiono Cahyo Widianto, biasa dijuluki Syekh Puji, kembali heboh diperbincangkan. Setelah sebelumnya Puji sempat dipenjarakan akibat menikahi anak perempuan berumur 12 tahun pada 2008 silam. Setelah bebas dari hukuman empat tahun penjara dan denda 60 juta, namun baru-baru ini Puji kembali lagi membuat ulah. . Pada 2016 lalu Puji kembali menikahi anak di bawah umur. Bocah yang berumur 7 tahun itu dia nikahi secara siri. Mengetahui hal tersebut, Komnas Perlindungan Anak (PA) Jateng, melaporkan perbuatan pelaku ke polda Jateng pada 18 Desember 2019. . Selain tentang kasus pernikahannya dengan anak dibawah umur, Puji juga pernah dilaporkan ke polisi pada September 1998, sewaktu ia menjadi kepala desa Bedono, karena menggunduli paksa sejumlah karyawan/karyawati perusahaan yang dipimpinnya. . . Follow @haluandotco | @haluantv | @totalpolitik_ | @teknologi_id | @row.id | | @neuronchannel | @hipotesamedia . . #haluanmediagroup #beritadunia #beritahariini #haluandotco #haluan #infoupdate #viral #lagiviral #trendingtopic #trending #infotrending #infoterkini #heboh

A post shared by Haluan Media (@haluandotco) on

Edi Gunawan dalam tulisannya yang berjudul “Nikah Siri Dan Akibat Hukumnya Menurut UU Perkawinan” juga menjelaskan bahwa secara hukum nikah siri tidak memiliki acuan perlindungan terhadap istri. Sebab, dalam kasus pernikahan siri ini seorang suami hampir tidak bisa tersentuh hukum. Termasuk keleluasaan untuk berkelit dari tanggung jawabnya, menikah lagi tanpa persetujuan, dan tidak merasa punya kewajiban membagi harta gono-gini dan waris. Jadi, secara khusus memang pernikahan siri sama sekali tidak berprinsip keadilan tanpa memiliki keterikatan hukum yang mengikat.

Kasus pernikahan siri ini tetap ada di masyarakat kita karena berbagai macam alasan. Termasuk salah satunya ekonomi. Dan hal ini yang terutama memungkinkan pernikahan siri tetap dilangsungkan. Sepertinya, kasus-kasus pernikahan di bawah umur yang dilakukan Syekh Puji memiliki relasi kuat terhadap hal ini.

Dan sayangnya, selain diduga memiliki kelainan seksual pedofilia, Syekh Puji juga melanggar hal-hal lain seperti menikahi anak di bawah umur dan juga nikah siri. Di mana, tidak ada kewajiban mengikat yang membuat Syekh Puji harus menempatkan orang-orang yang dinikahinya secara siri sebagai istri sah.

Sehingga, selain kerentanan anak dalam kasus perkawinan di bawah umur, ia juga memiliki kerentanan sebagai istri karena pernikahan siri. Dalam kasus ini, memang sudah selayaknya praktik-praktik semacam ini dapat ditekan dengan pemberian hukuman yang tegas. Sebab hak anak adalah mendapat pendidikan dan masa depan layak. Bukan digadai untuk dinikahkan atau dilepas orang tuanya untuk menikah dengan dalih ekonomi atau apapun.


0 Komentar