Tak Lagi Jabat Ketua MPR, Zulkifli Masih Tempati Rumah Dinas dan Ruang Ketua MPR
Wakil Ketua MPR Zulkifli Hasan (Foto: Humas MPR)

JAKARTA, HALUAN.CO - Sudah tiga bulan pimpinan MPR periode 2019-2024 dilantik. Zulkifli Hasan yang semula menjadi Ketua MPR digantikan oleh Bambang Soesatyo (Bamsoet), sementara Zulkifli Hasan kini menjadi Wakil Ketua MPR.

Padahal perolehan kursi PAN, partai pengusung Zulkifli Hasan terpaut jauh dari PDIP, Partai Golkar, Partai Gerindra, Partai Nasdem, PKB, Partai Demokrat dan PKS. Perolehan kursi PAN hanya unggul dari PPP.

Namun, ruang kerja Ketua MPR belum juga diserahkan Zulkifli Hasan kepada Bamsoet. Sementara Bamsoet-sapaan Bambang Soesatyo harus mengalah dengan menempati ruang kerja bekas Wakil Ketua MPR dari unsur DPD Oesman Sapta Odang (OSO).

"Belum berubah. Pak Zulhas masih di tempat yang dulu (saat menjabat Ketua MPR)," kata salah satu petugas yang enggan disebutkan namanya di lantai 5 Nusantara III DPR, MPR, DPD, kemarin.

Biasanya, siapapun Ketua MPR-nya, dia menempati ruang kerja Ketua MPR dengan segala fasilitasnya. Ruang kerja Ketua MPR didesign berdekatan dengan ruang rapat pimpinan. Hanya disekat partisi dan pintu penghubung antara ruang kerja dengan ruang rapat.

Bambang Soesatyo Terpilih sebagai Ketua MPR Periode 2019 2024

Jadi, bila pimpinan MPR menggelar rapat, Ketua MPR hanya melangkah ke ruang rapat tanpa harus meninggalkan ruang kerjanya.

Tapi sekarang, bila pimpinan MPR akan melakukan rapat, Bambang harus keluar ruangannya terlebih dahulu dan berjalan di lorong lantai 9 Nusantara III sekitar 20 meter menuju ruang rapat.

"Iya, kalau ada rapat harus keluar dulu dari ruang kerjanya dan berjalan lewati lorong dulu," katanya.

Tak hanya itu, Ketua Umum PAN periode 2014-2019 itu juga masih menempati rumah dinas Ketua MPR di Widya Chandra IV nomor 16, Jakarta Selatan. Meski tak ada yang dilanggar, Namun Zulkifli Hasan dianggap bermasalah secara moral dan tidak beretika.

"Tidak melanggar aturan. Tapi secara etika bermasalah," kata Direktur Eksekutif Indonesia Politicak Review (IPR) Ujang Komarudin.