Taman Ismail Marzuki: Riwayatmu Kini
Taman Ismail Marzuki dibongkar untuk revitalisasi yang sarat problematis (Foto: geraibukujakarta)

Adanya ketentuan bahwa PT Jakpro akan menjadi pengelola TIM secara tunggal tentu dapat membuka adanya potensi tak tersalurkannya kebebasan berekspresi bagi para seniman terkait.

AWAL musim hujan 2014 menjadi perjumpaan pertama saya dengan Taman Ismail Marzuki, kawah candradimuka bagi seniman-seniman ibukota. Baik seniman muda hingga seniman kawakan macam Seno Gumira, Jose Rizal Manua, hingga Noorca Massardi menjadikan tempat ini sebagai tongkrongan mereka.

Terlebih, kompleks kesenian ini juga menjadi ruang ekspresi bagi para mahasiswa Institut Kesenian Jakarta. Pun, beberapa seniman daerah yang kerap bertandang ke TIM.

Tempat ini sedikit banyak memberi memori bagi saya kala itu. Sebab, sebagai mahasiswa yang tinggal dan juga berkesenian di Jogja, rasa-rasanya menginjakkan kaki di TIM cukup memberi semangat untuk berkarya. Menyendiri di bawah beringin depan gedung teater besar TIM menjadi skena eskapisme bagi saya ketika bertandang ke Jakarta.

Sebab bagaimanapun, berjubelnya kehidupan urban perlu diimbangi dengan kebebasan berekspresi, dalam hal ini kesenian. Dan TIM adalah salah satu tempat nyaman untuk sekadar mengenang, merenung, menyaksikan hingga melakukan pertunjukan di tengah riuh ibukota.

Saya ingin menjadikan ibu kota Jakarta sebagai kota budaya, di mana kesenian Indonesia dapat muncul di Jakarta -Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta saat peresmian TIM, 10 November 1968

Semangat Bang Ali tersebut kemudian terwujud dalam geliat seni ibukota yang diwadahi para seniman yang bercokol di Dewan Kesenian Jakarta. Dan Taman Ismail Marzuki menjadi markas besar kebudayaan di kota nan penuh dengan ingar-bingar pembangunan itu. Cikini Raya 73 mulanya berupa Taman Raden Saleh, sebuah taman rakyat dan kebun binatang, sebelum nantinya dipindah ke Ragunan.

Pembangunan TIM pun saat itu direncanakan dengan matang tanpa menyudahi nasib pepohonan rindang di Taman Raden Saleh. Salah satu dari beberapa pohon tua itu adalah beringin teduh di depan gedung teater besar yang menjadi titik favorit saya di TIM tadi.

Selan delapan tahun sejak TIM diresmikan, lantas Bang Ali pun mendirikan LPKJ atau Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta yang diresmikan tahun 1976. Lembaga ini kelak menjadi cikal bakal Institut Kesenian Jakarta yang menjadi nama barunya sejak tahun 1981. Dari tempat inilah nama-nama tenar seperti Mira Lesmana, Garin Nugroho, Slamet Rahardjo hingga grup musik Naif menjalani proses kreatif mereka.

Belum lagi, beberapa tokoh seni dan budaya yang melakukan pameran atau pementasan di beberapa gedung di kompleks Taman Ismail Marzuki. Berjejalnya nama-nama seniman dalam mengekspresikan karyanya di TIM menjadi bukti tercapainya keinginan Ali Sadikin. TIM benar-benar menjadi tempat di mana insan-insan muda ditempa demi terwujudnya kehidupan kesenian dan kebudayaan di Jakarta. Dan lebih daripada itu, TIM telah menjadi ruang ekspresi bagi berbagai seniman nusantara dan mancanegara dalam memperkaya khazanah seni masyarakat.

Namun, kemudian muncul wacana revitalisasi TIM pada era Djarot Saiful Hidayat menjadi gubernur DKI Jakarta. Gedung Graha Bakti Budaya menjadi fokus revitalisasi era Djarot tahun 2017 itu. Selain itu, penataan situs web, buku-buku, hingga revitalisasi pertokoan menjadi pokok kegiatan di tahun itu. Hingga akhirnya, pada tahun 2019 revitalisasi kembali diwacanakan oleh Gubernur Anies Baswedan dengan memugar penuh Gedung Graha Bakti Budaya dan Galeri Cipta I, keduanya masuk dalam Tahap II revitalisasi.

Pemugaran penuh ini pun menelan korban yang patut disayangkan, yaitu gedung bioskop XXI TIM. Gedung bioskop dengan tiket harga mahasiswa. Tempat di mana terakhir kali saya menonton film “Kucumbu Tubuh Indahku” besutan Garin Nugroho yang menggondol Piala Citra 2019 sebagai film terbaik.

Dirobohkannya gedung GBB dan juga bioskop TIM tentu tak diikuti oleh robohnya memori beberapa insan yang kerap menjadikan kedua tempat itu sebagai ruang tongkrongan. Pun setiap memori para seniman yang pernah memamerkan karya seninya di GBB.

Namun, permasalahan revitalisasi TIM justru muncul ketika adanya wacana pembangunan hotel di kawasan itu. Hal ini lantas ditolak oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai wadah bagi para seniman ibukota yang juga bermarkas di TIM. Hal ini ditambah lagi adanya Pergub DKI Jakarta No. 63 tahun 2019 tentang penugasan PT Jakpro untuk Revitalisasi Pusat Kesenian Jakarta TIM. Problem muncul pada pasal 7 peraturan gubernur yang menegaskan bahwa PT Jakpro melakukan pengelolaan prasarana dan sarana Pusat Kesenian Jakarta TIM dalam jangka waktu 28 tahun sejak Pergub tersebut diundangkan.

Hal itu tentu saja membuat Akademi Jakarta dan Dewan Kesenian Jakarta meradang. Betapa tidak, sebab isi pasal 7 itu berarti dalam 28 ke depan TIM akan dikelola secara sepihak oleh PT Jakpro. Banyak seniman merasa tidak terwakili oleh adanya keputusan revitalisasi ini, beserta ketentuan perundangan yang tertuang dalam Pergub DKI Jakarta 63/2019 tersebut.

Padahal, sebelumnya TIM dikelola secara kooperatif oleh DKJ dan Pusat Kesenian Jakarta TIM dalam setiap konten kegiatan. Hal itu juga didukung oleh berbagai komunitas seni budaya. Adanya ketentuan bahwa PT Jakpro akan menjadi pengelola TIM secara tunggal tentu dapat membuka adanya potensi tak tersalurkannya kebebasan berekspresi bagi para seniman terkait.

Beberapa seniman menilai revitalisasi fisik memang dibutuhkan oleh Taman Simail Marzuki. Namun, hal itu jangan sampai kebablasan dengan menjadikan TIM sebagai tempat mencari uang, atau komersialisasi bagi PT Jakpro maupun Pemda DKI. Hal ini dianggap mengangkangi marwah seni budaya dan kebebasan berkespresi masyarakat. Sehingga, keinginan Ali Sadikin di masa lampau bisa saja lambat laun pudar karena kepentingan komersil semata. Dan tentu, hal semacam ini bukan ruang berekspresi yang ideal bagi seni budaya.

Taman Ismail Marzuki riwayatmu kini. Dibangun pada mulanya demi menjadi pusat kebudayaan. Lantas kini menjadi proyeksi komersil. Tempat di mana setiap angan pernah tertuang menjadi goresan kanvas, puisi, lagu, balada, pentas tater, atau semata ide liar para seniman muda hingga tua.

Tempat di mana insan muda Jakarta yang tak mampu membeli tiket bioskop dengan harga selangit bermuara dalam parkiranmu nan remang. Dalam riuhnya kawanan muda-mudi bercengkerama dengan pedagang kaki lima di depan pelataran Tugu Cipta tepian Cikini Raya.

Kawah Candradimuka itu kini berdebu dan menjadi tempat bermain bagi alat-alat berat. Beserta kepenntingan-kepentingan lain yang nantinya bakal mengikuti tumbuhnya pembangunan. Sebab, seni dan kebudayaan bisa tumbuh di mana saja. Tapi bukan pada tiap-tiap deru mesin ekskavator. Atau, tidak juga dalam peraturan perundangan yang entah, dasarnya dan tujuannya apa.