Teori Konspirasi Konflik Turki - Suriah

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Tentara Free Syrian Army (FSA). (Foto: Istimewa)

-

AA

+

Teori Konspirasi Konflik Turki - Suriah

Hipotesa | Jakarta

Selasa, 28 April 2020 12:58 WIB


Keterlibatan Turki tentu bukan tanpa alasan, sebagaimana pernyataan Presiden Recep Tayyip Erdogan yaitu “Presiden Assad telah melakukan kejahatan perang di wilayah yang berbatasan dengan Turki ini.”

KEKERASAN di Idlib dan Aleppo, Suriah Barat Laut belum juga berakhir. Wilayah tersebut masih terus dilanda perang senjata yang melibatkan setidaknya empat kelompok besar dalam konflik ini. Keempat kelompok tersebut adalah rezim Suriah yang dipimpin Presiden Bashar al-Assad, kemudian Rusia dan Iran yang mendukung Assad. Dan satu kelompok lagi adalah Turki yang menjadi pendukung massa anti Assad.

Turki sebenarnya termasuk kelompok yang terlibat dalam perang sipil di Suriah sejak 2011 dan mendukung Free Syrian Army, yang menjadi lawan Assad.

Melalui Organisasi Intelijen Nasional-nya (MIT), Turki melatih khusus tentara FSA dengan tujuan untuk memerangi tentara Assad dan memerangi ISIS yang ketika merupakan musuh bersama di seluruh dunia.

Keterlibatan Turki tentu bukan tanpa alasan, sebagaimana pernyataan Presiden Recep Tayyip Erdogan yaitu “Presiden Assad telah melakukan kejahatan perang di wilayah yang berbatasan dengan Turki ini.”

Namun, sebenarnya masalah tersebut sudah dimulai sejak tahun 1999 lalu. Ketika ayah Assad yang memimpin Suriah kala itu mendukung suku Kurdi untuk masuk dalam pemerintahannya. Sejak saat itu, kedua negara tersebut (Turki dan Suriah) mulai panas. Bahkan pada tahun 2003, Turki menolak untuk bekerja sama dengan koalisi menentang Saddam Hussein, karena Suriah terlibat di dalamnya.

Mengenai masalah Turki dan Kurdi sebagai dikutip dari Politico, suku kurdi merupakan etnis terbesar di wilayah Timur Tengah. Namun, setelah Perang Dunia I, Etnis Kurdi tidak bisa memiliki negara sendiri sehingga kelompok ini harus tersebar di Turki, Suriah, Irak, dan Iran.

Sebagai kelompok minoritas di Turki, suku Kurdi selalu menghadapi represi. Pada akhirnya, kelompok ini meminta kemerdekaan dari Turki dengan sokongan dari grup milisi Partiya Karkerên Kurdistan (PKK) atau Partai Pekerja Kurdistan.

Tahun tahun 1980, kekerasan terjadi antara pemerintah Turki dan kelompok PKK. Setidaknya 10.000 warga tewas saat itu. PKK dianggap sebagai biang keladi dan disebut sebagai organisasi teroris, baik oleh Turki, AS, dan Uni Eropa.

Saat perang Suriah terjadi pada tahun 2011, pemerintah Suriah yang diyakini oleh Turki terafiliasi dengan PKK melalui Unit Proteksi Rakyat Suriah berhasil mengontrol Suriah Barat Laut, tepatnya di kawasan Idlib dan Aleppo berada. Kedua wilayah tersebut cukup dekat dengan perbatasan Turki.

Sejak saat itu, ketegangan antara Turki dan Suriah kembali berlanjut. Dalam siaran pers Turki, Angkatan Perang Turki mengklaim telah menghancurkan sistem pertahanan udara milik Suriah, menghancurkan lebih dari 100 tank, dan menghancurkan dua pesawat milik tentara Suriah. Turki melakukan serangan tersebut sebagai upaya balasan atas serangan udara dari Suriah yang menewaskan puluhan tentara Turki pada tanggal 27 Februari 2020 lalu.

Sebagaimana dilansir dari Reuters, ketegangan di wilayah Idlib, Barat Laut Suriah masih terus terjadi sejak perebutan wilayah antara pasukan anti Al-Assad yang didukung oleh Turki dan pasukan pemerintah Suriah-Rusia.

Upaya diplomatik Ankara dan Moskow untuk meredakan ketegangan selalu menghadapi jalan buntu. Wilayah Idlib masih menjadi tempat pertempuran dan pasukan Pemberontak Free Syria Army (FSA) masih menjadikan wilayah tersebut sebagai benteng terakhir setelah sembilan tahun perang saudara.

Namun, dibalik konflik tersebut ada sebuah teori konspirasi yaitu rencana pembangunan pipa gas.

Dikutip dari ANSA, kantor berita Italia, ada rencana untuk membangun jaringan pipa gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dari Qatar yang tersambung langsung sampai ke Benua Eropa. Pipa tersebut akan membentang melalui beberapa negara timur tengah seperti Arab Saudi, Kuwait, dan Irak.

Sebagai telah diketahui bahwa Qatar adalah eksportir LNG terbesar di dunia. Pada tahun 2018, ekspor LNG dari Qatar mencapai 104,8 miliar meter kubik.

Sebagaimana dikutip dari Anda, Fetix Imonti, seorang pengamat energi mengungkapkan “Pipa sudah siap di Turki untuk menerima pasokan gas tersebut. Namun, ada penghalang yang bernama Al-Assad. Pada tahun 2009, Al-Assad menolak proposal dari Qatar untuk jalur pipa tersebut karena menjaga kepentingan dengan sekutunya, yaitu Rusia,"

Sebagaimana data dari Eurostat, Rusia adalah pemasok gas utama di Benua Biru, sekitar 37 persen pasokan gas. Qatar dan Turki yang sudah bersiap membangun jaringan gas terpaksa harus gigit jari. Maka dari itu, Al-Assad harus segera disingkirkan.


0 Komentar