Terapi Alternatif dan Komplementer: Solusi untuk Semua Penyakit?

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kumpulan Herbal yang Digunakan Dalam Terapi Alternatif dan Komplementer (Foto: BP Lawyers)

Seberapa banyak dari Anda yang pernah mendapat pesan berantai untuk merebus 1 daun sirih, 1 bawang putih, 1 jahe, gula merah dan kemiri dan meminum secara hangat selama 30 menit untuk “menyembuhkan” darah tinggi?

TERAPI alternatif dan komplementer atau disebut dalam bahasa Inggris complementary and alternative medicine merupakan sebuah kelompok besar dari metode-metode pengobatan yang tidak dapat diintegrasikan ke dalam model kesehatan yang konvensional karena perbedaan budaya dan kepercayaan.

Terapi ini masih mendapat popularitas yang tinggi di kalangan masyarakat Indonesia karena harganya yang lebih murah, bahan-bahan yang lebih familiar dengan rakyat serta memberikan harapan bagi mereka yang belum dapat menerima berita buruk seperti pasien dengan kanker stadium 4 atau pasien dengan diabetes mellitus (kencing manis) yang harus selalu mengkonsumsi obat-obatan tanpa ada harapan sembuh total.

Mengapa masih banyak sekali terapi alternatif dan komplementer yang belum dapat digunakan di dunia medis? Alasannya adalah belum terdapat eksperimen yang cukup dan berkualitas untuk memastikan efektifitas dan keamanan dari terapi ini. Menurut World Health Organization (WHO), obat-obatan alternatif yang dapat digunakan sebagai obat adalah sebagai berikut:


  • Artemeter untuk malaria berat
  • Ginkgo biloba untuk penyakit arteri perifer (lebih efektif dari plasebo)
  • Kava kava untuk ansietas (lebih efektif dari plasebo)
  • St. John’s wort untuk depresi ringan (lebih efektif dari plasebo)
  • Saw palmetto untuk pembesaran kelenjar prostat (mengurangi gejala)
  • Glukosamin sulfat untuk osteoartritis (mengurangi nyeri)
  • Horse chestnut seed extract untuk insufisiensi vena kronik

Pertanyaan berikutnya yang muncul adalah apabila belum terdapat penelitian yang dapat mendukung terapi alternatif dan komplementer, apakah boleh tetap digunakan? Jawabannya adalah tergantung dari keputusan dokter Anda.

Apabila dokter Anda menganggap tidak ada interaksi yang berarti antara obat yang Anda konsumsi dan terapi alternatif tersebut maka dokter Anda tidak akan melarang pengunaan terapi alternatif karena mempertimbangkan sisi spiritual dan emosional.

Namun, apabila terdapat interaksi yang mengancam jiwa (seperti gingko biloba dan warfarin) maka dokter akan menyarankan dengan keras untuk tidak menggunakan terapi alternatif tersebut.


Terapi alternatif dan komplementer bukanlah musuh para dokter namun juga bukan jawaban atas semua penyakit.

Konsultasikanlah dengan dokter Anda tentang terapi alternatif yang ingin anda gunakan dan yang paling penting adalah anda tetap mengkonsumsi obat-obatan Anda secara rutin dan tidak mengganti sendiri obat Anda dengan terapi alternatif tersebut.

Penulis : Gilbert Sterling Octavius

Instagram : @NeuronChannel; @gilbertsterling

Youtube : Neuron Channel


0 Komentar