Terdampak COVID-19, Pelaku Usaha Pariwisata Dapat Insentif
Salah satu usaha ekonomi kreatif yang terdampak COVID-19. (FOTO:Istimewa)

JAKARTA, HALUAN.CO - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus menindaklanjuti dan mengawal berbagai insentif untuk para pelaku di sektor pariwisata ekonomi kreatif agar tetap berjalan dengan baik dan tepat sasaran. 

Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menekan dampak pandemi COVID-19 yang membuat pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif terpuruk.

Mengapa ini penting:

  • Sektor pariwisata menjadi salah satu yang paling terpuruk terkena dampak COVID-19. Bahkan, beberapa usaha pariwisata dan ekonomi kreatif gulung tikar akibat dampak dari virus tersebut.
  • Salah satu pelaku usaha pariwisata yang terkena dampak itu adalah hotel dan restoran. Ada ratusan hotel yang tutup sementara dalam satu bulan terakhir ini. Ribuan karyawan pun dirumahkan.
  • Berdasarkan data dari Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) per 1 April 2020, ada sekitar 698 hotel di seluruh Indonesia terpaksa tutup lantaran makin meluasnya ancaman COVID-19. Hotel-hotel yang tutup itu berada di berbagai wilayah, di antaranya Bali, Jawa Barat, DKI Jakarta, Manado, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan yang lainnya.
  • Untuk itu, insentif dari pemerintah dibutuhkan untuk menyelamatkan para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif tersebut.

“Kami terus mengawal, agar para pelaku parekraf bisa menerima insentif. Sehingga dapat meringankan beban dan biaya operasional para pelaku usaha sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Arahnya kemudian dapat mengurangi kemungkinan PHK karyawan di sektor tersebut,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Wishnutama Kusubandio, Kamis (9/4/2020).

Konteks: Kemenparekraf telah mengirimkan surat kepada Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian BUMN untuk menindaklanjuti kebijakan insentif dari pemerintah kepada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Penjelasan Wishnutama:

  • Insentif yang diberikan pemerintah tersebut berupa pajak hingga kebijakan sektor keuangan oleh Industri Keuangan Bank (IKB) dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) bagi para debitur industri pariwisata dan ekonomi kreatif. Kemudian ada juga relaksasi kebijakan pemerintah daerah untuk wajib pajak di sektor pariwisata, relaksasi tarif listrik, dan penghapusan iuran BPJS Tenaga Kerja hingga 3 bulan setelah masa tanggap darurat dicabut.
  • Kehadiran Kemenparekraf juga dirasakan oleh industri perhotelan dan transportasi. Kemenparekraf menggandeng pelaku usaha hotel dan transportasi untuk menyediakan layanannya demi membantu para tenaga kesehatan yang saat ini sedang berjuang di garda terdepan menghadapi COVID-19.
Ada 698 Hotel Tutup Gegara Corona, Ribuan Karyawan Dirumahkan

Saling bantu lawan COVID-19: Wishnutama mengajak para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif untuk saling membantu dalam menghadapi kondisi yang tidak mudah ini. Khusus untuk para pelaku sektor ekonomi kreatif, seperti televisi, film, rumah produksi, konten kreator, radio, animasi, desain grafis, artis, seniman, juga berbagai komunitas dan jejaring kreatif di berbagai daerah, agar aktif terlibat dalam membantu pemerintah menyosialisasikan edukasi hidup sehat kepada masyarakat dalam menghadapi COVID-19.


0 Komentar