Ternyata Pindad Bisa Bikin Ventilator dengan Harga Jauh di Bawah Impor
Dirut PT Pindad Abraham Mose menjelaskan cara pengoperasian ventilator yang diproduksi kepada Ketua DPD RI AA Lanyalla Mahmud Mattalitti. (Foto: Humas DPD RI).

JAKARTA, HALUAN.CO - Ternyata PT Pindad sanggup memproduksi massal alat bantu pernafasan atau ventilator dengan bahan 100 lokal dan harganya pun jauh di bawah harga impor.

Hal itu diungkapkan lansung Direktur Utama PT Pindad Abraham Mose dan Direktur Utama PT Pindad Enjiniring Indonesia, Sena Maulana kepada Ketua DPD RI AA Lanyalla Mahmud Mattalitti ketika mengunjungi perusahaan itu, Senin (20/4/2020).

Mengapa ini penting:

• Saat ini Indonesia sangat membutuhkan alkes tersebut di tengah wabah virus corona dalam menangani pasien COVID-19.

• Kemudian juga ada tuding Menteri BUMN BUMN Erick Thohir yang menyebutkan ada mafia dalam mengimpor alkes dan obat-obatan. Impor alat kesehatan ke Indonesia masih sangat besar, yaitu mencapai 90 persen.

Apa katanya: “Harga yang ditawarkan Pindad jauh di bawah harga produk impor dan omponen bahan bakunya 100 persen lokal. Bayangkan harga produk impor sekarang bisa mencapai Rp900 juta hingga Rp 1 miliar," ungkap Lanyalla.

Pindad bisa memproduksi dari harga yang paling sederhana di angka Rp10 juta hingga yang paling mahal Rp100 juta.

Pindad telah siapkan dua produk ventilator:

• Ventilator Resusitator Manual (VRM) dan serta dua type Ventilator Covent-20 yaitu type CPAP (oksigen terapi) dan type CMV (pasien gagal nafas).

• Untuk VRM dipatok dengan harga Rp10 juta. Sedangkan Covent-20 CPAP di kisaran Rp 60 juta dan Covent-20 CMV di angka Rp100 juta.

• Untuk type VRM murni hasil kreasi Pindad. Sedangkan Covent-20, hasil kerjasama PT Pindad dengan Universitas Indonesia.

• Untuk type Covent-20 cocok digunakan untuk pra-rumah sakit, intra-rumah sakit, antar-rumah sakit dan transportasi atau mobile.

Kepada ketua dan anggota DPD RI, Abraham Mose juga menitipkan aspirasi terkait ketahanan sektor kesehatan perlu dipikirkan penguatan di sektor industri hulu. Seperti tabung oksigen untuk rumah sakit yang spesifikasinya berbeda dengan tabung LPG.

“Kita bisa memproduksi, tetapi bahan baku platnya yang ternyata harus impor. Ini kami titipkan aspirasi dari kami,” pesan Abraham Lanyalla yang turut didampingi Senator dari daerah pemilihan Jawa Barat, Oni Suwarman dan Eni Sumarni.

Pandangan Lanyalla:

• Kalau pemerintah serius menanggulangi COVID-19, segera tugaskan Pindad untuk produksi massal dan distribusikan ke rumah sakit di 34 provinsi di Indonesia.

• Sejumlah negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Filipina, Malaysia dan Thailand yang sangat serius dan bergerak cepat menanggulangi wabah ini.

• Bahkan Kongres Filipina menyetujui kewenangan lebih besar dan cepat kepada pemerintah untuk memperkuat ketahanan di sektor kesehatan dengan memberi wewenang untuk secara paksa menggunakan sejumlah fasilitas dan utilitas publik untuk penanganan pandemi COVID-19.

Mafia Mengeruk Keuntungan di Tengah Wabah COVID-19

"Ada tiga ketahanan nasional negara. Selain ketahanan pangan dan energi, adalah ketahanan kesehatan. Hari ini kita harus cepat dan serius melakukan semua upaya untuk mempertahankan ketahanan di sektor kesehatan ini tanpa melupakan penanganan dampaknya, Sseperti jaring pengaman sosial dan ekonomi,” kata Lanyalla.


0 Komentar