Tiga Potensi Ancaman Bencana di Selat Sunda

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dan Sestama BNPB Harmensyah. (Foto: Humas BNPB)

JAKARTA, HALUAN.CO - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati menyebutkan tiga potensi ancaman bencana yang ada di wilayah Selat Sunda.

"Melihat potensi ancaman bencana yang ada di wilayah Selat Sunda, BMKG menggaris bawahi tiga jenis ancaman yang bisa terjadi," kata Dwikorita dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Potensi Bahaya di Kawasan Selat Sunda, di Graha BNPB, Jakarta, Kamis (19/12/2019).

Ketiga potensi ancaman bencana di Selat Sunda itu, pertama Zona Megathurst di Selat Sunda yang berpotensi gempa dengan kekuatan Magnitudo 8,7. Kedua potensi flank collapse & erupsi anak krakatau dan ketiga Zona Wrenching Selat Sunda (Graben, Landslide).

"Melihat dari catatan potensi tersebut, BMKG tidak mau 'kecolongan' seperti yang terjadi pada 22 Desember 2018 lalu. Dimana tsunami senyap yang dipicu oleh longsoran bawah laut Anak Gunung Krakatau menyapu pesisir pantai di wilayah Banten dan Lampung dengan total korban jiwa mencapai 426 meninggal dunia, 7.202 luka-luka dan 23 dinyatakan hilang," kata Dwikorita.

BACA JUGA: 462 Orang Meninggal Akibat Bencana Alam Sepanjang Januari hingga November 2019

Oleh karena itu, kata dia, saat ini BMKG telah menjalin kerjasama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Pusat Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT) dan Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk memantau dan menganalisa gejala vulkanologi dan pasang surut air laut dengan sejumlah alat pendeteksi yang ditanam di beberapa tempat di sekitar zona merah.

Berdasarkan prediksi dari potensi bencana yang dipicu oleh faktor cuaca, BMKG juga memperkirakan adanya pertumbuhan awan cukup tinggi terjadi di wilayah Selat Sunda, baik dari Jawa bagian barat maupun wilayah Lampung.

Potensi hujan dengan intensitas tinggi diprediksi akan terjadi sejak tanggal 19 sampai 24 Desember 2019.

Dia juga menekankan pentingnya upaya penguatan kapasitas melalui kesiapsiagaan pra-bencana yang mana hal tersebut murni untuk menghadapi potensi ancaman bencana dan bukan berarti mengharap sesuatu yang buruk terjadi ke depannya.

"Yang kita lakukan bukan mengharap hal buruk akan terjadi. Akan tetapi bagaimana kita bersiap diri dari sesuatu yang bisa saja terjadi," ungkap Dwikorita.

Kepala BMKG menganalogikan kesiapsiagaan tersebut seperti ketika pengendara membutuhkan helm sebagai pelindung kepala saat berkendara sepeda motor di jalan raya, atau mengenakan sabuk pengaman saat mengengendarai mobil.

Kesiapsiagaan diharapkan bisa menjadi budaya untuk mengurangi risiko dari potensi ancaman bencana yang harus dilakukan meski belum tentu akan terjadi sesuatu hal yang buruk.

Sestama BNPB Harmensyah yang membuka Rakor mengatakan bahwa tujuan utama diselenggarakan pertemuan forum tersebut adalah untuk memastikan rasa aman masyarakat saat Natal dan Tahun Baru serta meminimalisir jatuhnya korban apabila terjadi bencana.

Selain itu, BNPB sebagai koordinator juga sekaligus mengharap kepastian sinergi dari Kementerian/Lembaga serta unsur terkait agar dapat berjalan beriringan dalam memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi ancaman bencana.

Rapat tersebut juga digelar untuk memastikan dan mengecek alat pendeteksi dini apakah bekerja dengan baik melalui laporan langsung dari Kementerian/Lembaga yang terkait.

"Tujuannya agar tidak ada korban dan semua warga bisa selamat dari ancaman potensi bencana," kata Harmensyah.

Terkait dengan itu potensi bencana, dia menghimbau agar Pemerintah Daerah setempat bisa mengambil tindakan pencegahan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi ancaman bencana yang berpotensi terjadi pada musim liburan Natal dan Tahun Baru dengan membentuk posko siaga bencana dan pengendalian operasi 24 jam 7 hari.

"Buatlah posko dan apel siaga bersama komponen terkait, sehingga jika ada permasalahan bisa segera diatasi," kata Sestama BNPB Harmensyah.


0 Komentar