Tips Menjaga Kesehatan Jiwa Saat Pandemi Covid-19

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Nova Riyanti Yusuf, Psikiater. (Foto: Instagram)

JAKARTA, HALUAN.CO - Pandemi COVID-19 memuat guncangan sosial dimana-mana. Ekonomi yang terpuruk, hubungan sosial yang merenggang, stigmatisasi dan persoalan lainnya yang bisa membuat stres setiap orang. Karena itu, perlu diperhatikan hal-hal yang bisa memuat seseorang tidak semakin tertekan. 

Psikiater DR. Nova Rianti Yusuf, PhD memberikan tips untuk tetap menjaga kesehatan jiwa di tengah pandemi covid-19 saat ini seperti diunggah di akun instagramnya @true_noriyu, Senin ((7/4/2020). Tips tersebut diberikannya saat diskusi online bareng Sandiaga Uno, Ricky Harun dan aktor yang positif COVID-19, Detri Warmanto.

Berikut tipsnya:

  • Sebagaimana saran WHO, jangan mendengar berita tentang covid-19 secara berlebihan. Cukup mencari informasi yang faktual saja supaya tidak ketinggalan berita dan untuk menyusun rencana keselamatan diri dan keluarga. Walaupun begitu banyak berita kesedihan tentang covid-19, tapi itu terlalu banyak jika terus dikonsumsi. Sementara, potensi pandemi diperkirakan masih panjang, entah sampai kapan.
  • Perasaan-perasaan tidak nyaman saat ini adalah sesuatu yang wajar. Bercerita ke teman, meditasi, relaksasi, yoga dan sejenisnya bisa membantu kondisi. Bagi yang beragama Islam, bisa bisa bercerita kepada Allah SWT saat bersimpuh usai shalat.
  • Mulai beradaptasi pada normalitas baru kita, seperti melakukan physical distancing. Jika gagal menghadapi stresor eksternal bernama COVID-19 dan beradaptasi dalam kehidupan yang baru, berarti mempunyai respon maladaptif sehingga berpotensi mengalami gangguan penyesuaian (putus asa sampai keinginan bunuh diri).
  • Pentingnya membuat keseharian menjadi lebih terstruktur dengan fokus di sini dan saat ini. Jangan berpikir terlalu jauh untuk hal-hal yang di luar kendali kita.
  • Jangan memberikan stigma terhadap ODP (Orang Dalam Pemantauan), PDP (Pasien Dalam Pengawasan), dan positif COVID-19, tapi sebisa mungkin memberi dukungan. Salah satunya bisa dilakukan dengan mengirim pesan whatsapp.
  • Donasi sekecil apapun. "Pay it forward," ujarnya.
  • Sekarang bukan zamannya kompetisi, tetapi survivality alias bertahan. Sepertinya, saat ini sedang terjadi seleksi alam. Janjilah kepada diri sendiri bahwa jika diberikan kesempatan hidup dalam dunia post-covid akan menjadi manusia yang seperti apa?
  • Filsuf dan penulis eksistensialis lahir dari kesusahan hidup, siapa tau post-COVID terlahir karya yang hebat.
  • Pasien yang berhasil sembuh dari covid-19 bisa memberikan edukasi dan reassurance tentang bisa sembuhnya penyakit infeksi COVID-19. Penjelasan dari penyintas covid-19 yang berhasil sembuh itu bisa memberikan harapan kepada pasien dan PDP.
  • Jika hal-hal di atas belum membantu, ada banyak pendampingan psikososial yang bisa diperoleh. Di antaranya ke IG (instagram) para dokter jiwa (psikiater).

View this post on Instagram

Simpulan versi saya untuk Zoom saya dengan pak Sandiaga Uno, Ricky Harun, dan Detri Warmanto. 1. Perasaan-perasaan tidak nyaman adalah wajar saat ini. Acknowldge that feeling. Cerita ke teman yang dipercaya atau bagi yang beragama Islam saat sholat bersimpuh di sajadah dapat bercerita kepada Allah SWT. Meditasi, relaksasi yll, yoga juga mengisi spiritualitas kita. 2. Adaptasi pada normalitas baru kita yang harus physical distancing. Jika gagal menghadapi stresor eksternal bernama COVID-19 dan beradaptasi dalam kehidupan yang baru berarti mempunyai respon maladaptif sehingga berpotensi mengalami gangguan penyesuaian (putus asa sampai keinginan bunuh diri) 3. Pentingnya membuat keseharian menjadi lebih terstruktur dengan fokus Here and Now. Jangan pikir terlalu jauh untuk hal-hal yang di luar kendali kita. 4. Jangan stigma ODP, PDP, dan positif COVID-19 tapi sebisa mungkin kita beri dukungan dengan kirim wa. 5. Donasi sekecil apa pun. Pay it forward.. 6. Ini bukan jamannya kompetisi, tetapi survivality. Sepertinya saat ini sedang terjadi seleksi alam. Janjilah kepada diri sendiri bahwa jika diberikan kesempatan hidup dalam dunia post-covid akan menjadi manusia yang seperti apa? 7. Filsuf dan penulis eksistensialis lahir dari kesusahan hidup, siapa tau post-COVID terlahir karya hebat. 8. Detri sebagai penyintas COVID-19 (sekarang hasilnya sudah negatif), dapat menjadi BUDDY SUPPORT yang dibutuhkan masyarakat. Edukasi dan reassurance tentang bisa sembuhnya penyakit infeksi COVID-19 perlu dilakukan oleh Detri dkk penyintas lainnya. To give a sense of hope 🙏🙏🙏 9. Ada banyak pendampingan psikososial, diantaranya ke IG para dokter jiwa (psikiater) @pkdsji_indonesia dan @pdskjijaya #mentalhealthduringcovid #mentalhealthmatters #mentalhealthawarenesa

A post shared by NoRiYu, MD, PhD (Psychiatrist) (@true_noriyu) on


0 Komentar