Tipu Muslihat Cina Sang Juru Selamat
Bendera Cina (Ilustrasi: Total Politik)

CIna mengirim bantuan medis ke Italia dan Serbia, sementara Uni Eropa terkesan berpangku tangan. Apakah ini akhir dari integrasi Eropa?

ALEKSANDAR Vučić berdiri tegap. Tangan kiri Presiden Serbia itu memegang mic, gemetar. Matanya sembab. Tonton videonya dan Anda akan segera menyadari bahwa apa yang ia lakukan berikutnya sama sekali bukan hal yang enteng.

“Tidak ada itu yang namanya solidaritas Eropa. Itu cuma dongeng diatas kertas,” kata Vučić.

Sang presiden, tentunya, merujuk pada bantuan dari Uni Eropa terkait penanganan wabah Corona. Terdapat lebih dari 2.500 pasien COVID-19 di Serbia, dan 65 warganya telah meregang nyawa karena wabah. Serbia, ternyata, juga calon anggota Uni Eropa. Status itu sudah diembannya sejak 2012, tapi ketegangan dengan negeri tetangga Kosovo merintangi upaya negeri itu untuk menjadi anggota UE dengan sepenuhnya.

Tapi negeri itu, nampaknya, masih memperjuangkan integrasi Eropa dengan antusias. Luka-luka lama toh akan menutup dengan sendirinya. Bukankah negeri jiran Makedonia – kini Makedonia Utara – sampai rela berganti nama asal diizinkan masuk klub bangsa-bangsa Eropa? Apalah arti sebuah nama, jika dibandingkan dengan akses ke pasar (dan turis) Eropa Raya?

Saya telah mengirim surat khusus, klaimnya, karena kita berharap banyak kepada satu-satunya pihak yang dapat membantu kita dalam situasi sulit ini...

Vucic menghela nafas.

“Yaitu Republik Rakyat Cina”

Bendera Uni Eropa dan Serbia bergantung lesu di pojok ruangan. Presiden Vučić nyata-nyatanya menentang raksasa-raksasa Eropa.

Tapi, ia tidak bergeming. “Presiden Xi”, lanjutnya, merujuk pada Presiden RRC Xi Jinping, “bukan hanya sahabat dekat, tapi juga saudara saya”. “Bukan hanya untuk diriku sendiri,” tegasnya. Lalu, ia melanjutkan, “melainkan sahabat dan saudara dari bangsa ini”.

“Ursula von der Leyen”, ucapnya. Suaranya meninggi yang tak kasat mata, tapi kentara.

“Mengatakan bahwa kita tidak bisa mengimpor peralatan medis dari Uni Eropa. Katanya stok yang ada tidak cukup untuk diri mereka sendiri”.

“Dan ini adalah orang-orang yang sama yang melarang kita membeli barang dari Cina! Yang gila saja!” umpatnya.

“Saya percaya pada saudara dan sahabat saya, Xi Jinping, dan saya percaya pada bantuan Cina” ucap Vučić. Nada suaranya kembali rendah, mengancam.

“Satu-satunya negara yang bisa membantu kita adalah Cina”, ia berucap lagi, bagai mengulang mantra “Kami haturkan terimakasih yang sedalam-dalamnya untuk mereka”.

“Dan buat yang lain? Pegang kata-kata saya: Akan saya balas.”

Sejarah mencatat bahwa kekejian Serbia bualan belaka.

Arahkan pandangan Anda ke seberang Laut Adriatik dan adegan yang sama sedang diulang di Italia.

Pada tanggal 17 Maret, tim medis dari Cina tiba di wilayah Lombardia sekitar Milan yang terdampak parah oleh wabah. Bersama mereka tiba peralatan medis yang teramat diperlukan Italia.

“Sumbangan kecil dari rakyat Cina,” seru suatu spanduk yang terbentang di landasan pacu bandara.

Media, terutama media Cina, seperti biasa menyambutnya dengan gegap gempita. Tapi, tidak ada yang memperhatikan bahwa berbarengan dengan “sumbangan” dari Palang Merah Cina, pemerintah Italia membeli sebagian besar peralatan medis yang dikirimkan Cina.

Tidak ada yang cuma-cuma.

Luigi di Maio adalah Ketua Movimiento 5 Stelle (M5S), partai terbesar dalam koalisi pemerintahan Giuseppe Conte.

“Mereka yang meremehkan keterlibatan kita dalam Belt and Road Initiative – lebih akrab dikenal sebagai proyek OBOR – harus mengakui bahwa kemitraan kita dengan Cina menyelamatkan banyak jiwa di Italia,” kata Di Maio dalam suatu wawancara dengan media.

Agak lucu, sebenarnya. COVID-19 adalah virus Cina, dan persebarannya adalah tanggung jawab pemerintah Cina yang memilih untuk menutup-nutupi adanya wabah daripada memperingatkan bangsa-bangsa lainnya.

Jurus Mengatasi Krisis Ekonomi saat Corona

Toh, Cina kurang ajar juga. Sebagai bagian dari strategi disinformasinya, akun-akun yang berafiliasi dengan alat propaganda rezim PKC menuduh bahwa virus itu berasal dari Italia Utara. Caranya? Mereka mengutip seorang dokter Italia dengan keliru dan membagikan potongan videonya secara masif di media sosial – terutama Weibo. Di lain kesempatan, Cina malah menuduh bahwa virus itu didatangkan kontingen olahraga militer Amerika Serikat dalam kunjungan mereka ke kota Wuhan.

Upaya-upaya ini bagian dari strategi yang disengaja. Dengan dibantu politisi-politisi populis di seantero Dunia Barat, Cina – dengan dibantu Rusia, yang tidak kalah oportunis dalam peluang-peluang untuk melemahkan “Atlantisisme” – memupuk kecurigaan dalam masyarakat terhadap demokrasi liberal dan institusi-institusinya.

Uni Eropa, benteng demokrasi liberal itu, secara berkebetulan sedang ragu-ragu. Integritasnya sebagai suatu lembaga supranasional bergantung pada situasi politik domestik negara-negara, bahkan yang paling kecil, miskin, dan insignifikan, yang terhimpun dalam dirinya.

Lagipula, gejolak populis masih merajalela. Eropa tidak kekurangan politisi yang rela menyabot kinerja UE supaya Xi Jinping bisa datang dengan mengibarkan bendera merah itu, sebagai sang juru selamat.

Ronde 1 ini dimenangkan oleh Cina. Hanya Uni Eropa yang lebih asertif – atau bahkan agresif dan bertenaga – yang bisa menghadangnya. (GA)


0 Komentar