Trah Cuomo Menuju Gedung Putih di Tengah Wabah
Gubernur New York Andrew Cuomo (Ilustrasi: Total Politik)

Gubernur New York Andrew Cuomo banyak dipuji karena langkahnya yang sigap dalam menangani wabah COVID-19. Apa implikasinya untuk November nanti?

TIDAK setiap hari kita bisa menonton dua pria paruh baya, yang masing-masing bisa dianggap tokoh terpandang dalam masyarakat, saling meledek di stasiun televisi nasional.

Oke. Sedikit revisi: mungkin fenomena ini merupakan kebiasaan baru di Zaman Trump. Tapi tetap saja, melihat pria yang lebih muda mengejek lawan bicaranya “tangan pisang” itu tontonan yang cukup wow.

Apalagi setelah kita mengetahui bahwa kedua pria itu bersaudara. Sang adik, Christopher Charles Cuomo alias “Chris” adalah penyiar berita di CNN. Pria yang lebih tua adalah kakaknya, Andrew Cuomo, Gubernur Negara Bagian New York. Ya, New York, episentrum sampar di Amerika Serikat. Hari ini lebih dari seribu orang tewas karena COVID-19 di negara bagian itu.


Tadinya, segmen CNN itu membahas upaya Gubernur Cuomo untuk menanggulangi wabah di negara bagiannya. Wawancara belum ada setengah jalan ketika perangai Chris yang agresif memicu spaneng Gubernur Cuomo.

Tapi tenang saja. Segmen itu penuh dengan canda – bahkan kita patut curiga bahwa yang berbalas ejekan itu sesungguhnya terencana. Tapi “aksi” itu semakin mendongkrak nama sang gubernur. Selain disorot sebagai garis depan pertahanan Amerika terhadap wabah, Gubernur Cuomo bisa menunjukkan pribadinya yang lebih hangat dan bersahabat.

CNN juga tidak malu-malu menyiram bensin ke bara. “Puji Tuhan untuk Andrew Cuomo” tulis seorang kontributor di situs beritanya. Chris Cuomo, yang baru saja didiagnosa dengan virus Corona, kembali mengadakan wawancara dengan kakaknya lewat telewicara.

Tapi siapa mereka?

Keluarga Cuomo adalah salah satu dinasti politik New York yang paling terkemuka. Patriark dinasti itu, Mario Matthew Cuomo, lahir di tahun 1932 dari pasangan imigran dari Campania, Italia, dan tumbuh besar di Queens, New York. Mario, yang merupakan sarjana hukum dari St John’s University, sempat menjadi pengacara sebelum menjadi gubernur Negara Bagian New York di tahun 1982. Ia akan terpilih kembali di tahun 1986 dan 1990, tapi gagal menjabat untuk keempat kalinya setelah kalah di pemilihan umum 1994.

Selain dari keberhasilannya menggolkan agenda progresif di Negara Bagian New York, Mario Cuomo akan selamanya dikenang karena pidato yang ia sampaikan pada Konvensi Nasional Partai Demokrat di San Fransisco pada tahun 1984. Gubernur yang terbilang masih baru itu menyerang rekam jejak presiden saat itu, Ronald Reagan. Di Konvensi San Fransisco Mario Cuomo ditahbiskan sebagai tokoh nasional, yang pengaruhnya menjanjikan masa depan politik yang gemilang bagi dirinya (maupun anak-anaknya).

Trump dan Nama-nama Pemberian untuk Lawannya

Namanya kembali mencuat di tahun 1988, ketika Partai Demokrat kelabakan mencari calon yang bisa mengalahkan Presiden Reagan, dan tahun 1992, ketika calon presiden Bill Clinton mempertimbangkan untuk menunjuknya sebagai calon wakil presiden. Dalam kedua kesempatan itu Mario Cuomo menolak untuk dicalonkan, dan memilih untuk membangun mesin politiknya di New York. Putranya yang paling tua, Andrew Cuomo, akan mewarisi mesin ini dan menggunakannya dengan penuh kegemilangan.

“Profil nasional” dinasti ini kian kentara ketika Andrew Cuomo menikahi Kerry Kennedy, dari dinasti Kennedy yang terkenal, putri dari calon presiden yang terbunuh Robert F. Kennedy. Pernikahan itu bertahan selama 15 tahun sebelum tekanan kerja dan ambisi Cuomo, menurut beberapa sumber, mengakhirinya dengan perceraian. Tapi Cuomo secara langsung ataupun tidak langsung memanfaatkan nama Kennedy sepanjang karier politiknya.

Sebagaimana ayahnya, Mario, Andrew tidak selalu berhasil memenangkan jabatan publik. Profil nasional sang ayah sempat menolongnya dalam penunjukkannya sebagai wakil menteri di Departemen Perumahan Umum dan Pembangunan Urban di tahun 1993, di bawah Clinton. Empat tahun kemudian, kasus korupsi yang menjerat atasannya membuka jalan baginya untuk menjadi menteri dari departemen yang sama.

Masa jabatannya bisa dibilang kontroversial. Andrew Cuomo dituduh menggunakan anggaran departemen untuk membagi-bagikan pekerjaan bodong yang pada hakikatnya merupakan selubung bagi patronase dan nepotisme. Lebih parah lagi, Cuomo juga mendorong FNMC dan FHLMC, selaku pengelola dan penjamin hipotek di Amerika Serikat, untuk membeli lebih banyak – termasuk dari yang terancam gagal bayar. Lawan-lawan politiknya akan terus mengungkit hal itu ketika Krisis Finansial melanda di tahun 2008.

Seusai masa jabatannya, Cuomo mencoba untuk merebut kembali jabatan lama ayahnya – dan kalah telak. Tapi si Comeback Kid sukses memenangkan kursi gubernur di tahun 2010, dan mempertahankannya di tahun 2014 dan 2018. Kini ia harus menghadapi wabah yang telah mengakibatkan 75.795 kasus positif di Negara Bagian New York.

Keputusannya untuk sesegera mungkin membatasi pergerakan warganya memang membantu memperlambat penyebaran, dan patut dipuji.

Mengikuti contoh Cuomo Senior, Andrew piawai mengelola citra; terutama kapan ia harus tampil di media dan siapa yang perlu ia salahkan. Presiden Trump, yang memilih untuk meringkuk di Florida dan mengeluarkan pernyataan-pernyataan nirfaedah, menjadi sasaran cacian dan kemarahan. Apalagi muncul indikasi bahwa Trump sengaja menahan pembagian ventilator ke New York dan malah mengarahkannya ke pemerintah-pemerintah negara bagian yang secara kentara mendukungnya.

Cuomo, nampaknya, memiliki bakat untuk menaiki panggung yang tepat. Melihat kondisi bakal calon terkuat Partai Demokrat, Joe Biden, yang kesehatan dan kemampuan kognitifnya terus menurun, kemungkinan Andrew Mark Cuomo untuk menjadi calon presiden mereka semakin kuat setiap harinya. Mungkin, setelah penantian tiga puluh tahun, seorang Cuomo di Gedung Putih? (GA)


0 Komentar