Tribalisme Menjadi Tantangan Masyarakat Muslim di Amerika
Pengurus Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Amerika Serikat. (Foto: Muhammadiyah.or.id)

CHICAGO, HALUAN.CO - Muktamar Indonesian Muslim Societies of America (IMSA) yang berlangsung pada tanggal 24-28 Desember 2019 di Kota Oak Brook, Chicago dihadiri 1200 peserta.

Dalam kegiatan itu, hadir dua orang kader Muhammadiyah yang menjadi pembicara, yaitu Imam Shamsi Ali (Penasehat PCIM dan Imam Jamaica Center di New York) dan Ustaz Dr. Saiful Bahri (Dosen Universitas Muhammadiyah Jakarta dan Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah).

Imam Shamsi Ali dalam ceramahnya menjelaskan mengenai tantangan masyarakat muslim di Amerika Serikat.

"Diantara antangan tersebut adalah tribalisme. Dimana muslim lebih suka berkumpul sesama etnisnya ketimbang melebur bersama komunitas yang lain," kata Imam Shamsi Ali dikutip dari laman Muhammadiyah.or.id.

Kemudian lanjut dia ada kebingungan membedakan antara agama dan budaya, pemahaman agama yang tidak kontekstual, ketidakdewasaan dalam menyikapi permasalahan khilafiyah, dan metode pendidikan agama bagi generasi milineal yang terlalu kaku.

Imam Shamsi Ali juga menyoroti problem materialisme (hub al-dunya), yang bukan hanya umum di kalangan masyarakat Barat, tetapi juga di masyarakat muslim.


Dia juga menyoroti problem pemimpin negara-negara Islam yang cenderung berkonflik satu sama lain dan tidak memiliki visi amal yang bersifat global.

Kemudian dia mengingatkan para pemimpin muslim untuk berpegang teguh pada nilai-nilai al-Quran.

Sedangkan Saiful Bahri dalam sesi ceramahnya menjelaskan tentang makna berhijrah, baik bagi konteks masyarakat muslim di zaman Nabi, juga bagi masyarakat muslim di zaman sekarang.

Dia menjelaskan kiat-kiat untuk tetap istiqamah dalam berhijrah. Dalam sesi yang lain beliau juga menjelaskan pentingnya iman, ilmu, dan amal bagi muslim yang tinggal di negara Amerika Serikat.