Trump dan Nama-nama Pemberian untuk Lawannya
Trump dan Nama-namanya (Ilustrasi: Total Politik)

Trump banyak memberi julukan untuk lawan politiknya. Apa saja?

KONON Michael Rubens Bloomberg, eks-bakal calon Presiden AS dari Partai Demokrat dan Donald John Trump bertetangga di New York, kampung halaman mereka. Bloomberg, seorang miliarder yang memperoleh kekayaannya dengan merancang sistem komputer di Wall Street dan media, menghadiri lingkaran-lingkaran pergaulan yang sama dengan Trump.

Pun sebagaimana Trump, Bloomberg memiliki rekor loncat partai yang unik: Bloomberg memenangkan kursi walikota New York di tahun 2002 sebagai seorang Republikan setelah lama menjadi anggota Partai Demokrat. Ia akan terpilih dua kali lagi.

Dan sebagaimana pula Trump, Bloomberg tidak asing dengan tuduhan rasisme dan seksisme. Bedanya, ia menuangkan itu dalam kebijakan: di bawah kepemimpinannya, New York meningkatkan intensitas stop and frisk, dimana polisi bisa menghentikan warga kota (terutama yang berkulit hitam) kapan saja ketika mereka berkendara.

Seorang pengamat politik berkelakar bahwa jika Bloomberg memenangkan nominasi Partai Demokrat, warga Amerika harus memilih di antara “dua orang miliarder tua bangka yang seksis dan rasis dari New York”.

Tapi dua insan ini memiliki satu perbedaan. Trump menjulang di atas Bloomberg dengan tingginya yang mencapai 190 cm. Bloomberg? “Hanya” 172 cm.

Trump langsung menelurkan satu lagi nama buat lawan politiknya itu: Mini Mike.

Tawa pemirsa pecah. Sang presiden sukses mengabadikan ejekan itu.

Tidak hanya Bloomberg, “nama-nama Trump” telah menjadi pembahasan klasik dalam jagat politik Amerika Serikat. Tekad Trump untuk menyerang figur-figur politik (selain dirinya sendiri, tentunya) dan kenekatannya untuk menggunakan kursi kepresidenan sebagai platform untuk melempar ejekan-ejekan itu memang menerabas rambu-rambu dan norma budaya Amerika.

Tapi para pendukungnya menyukainya, dan Trump bergeming.

Sebut saja “Crooked” Hillary, panggilan Trump untuk mantan menteri luar negeri dan ibu negara Amerika Serikat Hillary Clinton. Nama yang tidak elok, tapi orang-orang akan selalu mengasosiasikan Clinton dengan interpelasi yang dilakukan Kongres terhadap dirinya selaku kapasitasnya sebagai menteri luar negeri ketika kompleks diplomatik Amerika Serikat di Libya diserang teroris.

Di Pemilu 2016, kata “Benghazi” dan “Crooked Hillary” akan terus menerus digunakan untuk menyerang Clinton, dengan efek yang luar biasa.

Atau yang lebih politis: Nasty Nancy, Crazy Nancy, atau MS-13 Lover Nancy. Merujuk pada Ketua Kongres Nancy Pelosi dari San Fransisco, Trump menggambarkan figur ini sebagai “pecinta” MS-13 – Mara Salvatrucha, sebuah geng kriminal di Amerika Serikat yang berasal dari El Salvador.

Penolakan Pelosi terhadap pembatasan imigrasi yang diajukan Trump (terutama tembok Meksiko-Amerika yang terkenal itu) dibingkai sebagai langkah yang kondusif terhadap keberlangsungan geng-geng seperti MS-13, yang kebanyakan anggotanya merupakan imigran ilegal dan beroperasi di Amerika Serikat maupun El Salvador.

Ada juga James Comey. Untuk tokoh yang satu ini Trump punya banyak nama panggilan. Pada faktanya, dari figur-figur politik, bisnis, dan pemerintahan di atas, Comey-lah, selaku mantan direktur FBI, yang memiliki peran paling banyak dalam memperlancar proses pemakzulan Trump.

Buttgieg dan Paradoks Politisi Milenial

“Slimeball James Comey” “Shady James Comey” “Slippery James Comey” dan “Sanctimonious James Comey” seakan menjadi indikasi sebetapa kesal – atau mungkin takutnya – Trump terhadap James Comey si direktur FBI.

Tapi nama-nama ini tidak bisa dianggap sebagai ungkapan spontan semata. Tengok saja panggilan Trump untuk Rafael Edward “Ted” Cruz, mantan senator dari Texas dan pesaingnya dalam konvensi Partai Republik.

Awalnya ia adalah Lyin’ Ted, Ted si pembohong, merujuk pada pembawaannya yang tertatih-tatih saat debat. Tapi setelah Cruz mengundurkan diri dari pencalonan dan mendukung Trump ia menjadi Texas Ted, merujuk ke tanah kelahirannya, dan lalu Beautiful Ted. Yang terakhir ini lebih ke hinaan daripada pujian, menegaskan bahwa Trump telah “menang”.

Lebih sedih lagi nasib para mantan sekutu dan orang terdekat Trump. Steve Bannon, yang sedari awal mendukung Trump dan mendongkrak namanya lewat perusahaan medianya Breitbart, kini menjadi Sloppy Steve setelah dipecat dari posisinya sebagai National Security Advisor.

Jefferson “Jeff” Beauregard Sessions III, mantan Jaksa Agung dan senator dari Alabama, mendapat julukan yang lebih sedih lagi; the Dumb Southerner, si orang Selatan yang dungu. Bedanya Trump menyangkal yang terakhir ini, walau julukan Mr. Magoo – tokoh kartun bermata minus – juga pernah ia lontarkan buat Sessions.

Sepuluh tahun lalu sulit untuk membayangkan bahwa seorang presiden negara adikuasa bisa berlaku selayaknya tukang rundung di taman kanak-kanak. Sepuluh tahun yang lalu sulit menyangka bahwa ada saat ketika kita tidak lagi bisa merujuk kepada Amerika Serikat sebagai kiblat bagi demokrasi dan budaya politik “cerdas”.

Tapi ini sudah 2020, Bung! Bahwa Amerika akan jadi apa kedepannya, akan ditentukan November nanti. (GA)