TVRI: Media Pemersatu Bangsa yang Gagal Mempersatukan Niat Internalnya

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
TVRI tengah diguncang masalah internal (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

TVRI: Media Pemersatu Bangsa yang Gagal Mempersatukan Niat Internalnya

Overview | Jakarta

Jumat, 24 Januari 2020 18:00 WIB


TVRI membangun fondasi kuat saat mulai mengarungi wajah barunya. Hal ini ditunjukkan dengan menggaet para caster atau penyiar berita dari milenial, agar tak membosankan. Ditambah, menggaet komentator-komentator bulutangkis terakreditasi A. 

TERPAMPANG sangat jelas, “Pemersatu Bangsa”. Itulah tagline Televisi Republik Indonesia, saluran televisi milik negara yang legendaris. Para boomers mengenal TVRI dengan siaran khasnya “Dunia Dalam Berita”.

Namun, sebagai bocah kemarin sore yang lahir ketika televisi swasta merajai layar kaca, saya baru benar-benar menonton TVRI pada pertengahan tahun lalu. Alasannya? Mudah saja, karena TVRI memiliki saluran TVRI Sports yang menyiarkan petualangan Garuda Selection alias anak-anak muda punggawa timnas junior sepak bola Indonesia.

Di samping itu, hadirnya pertandingan-pertandingan bulutangkis pada rangkaian BWF World Tour juga menjadi alasan utama televisi nasional itu “kembali” digemari anak muda. Untungnya, gelaran bulutangkis dunia itu juga disiarkan secara umum di saluran TVRI reguler.

Ya, daripada bosan lihat prestasi sepak bola Indonesia yang isinya cuma baku hantam, beberapa orang beralih ke bulutangkis. Tentu saja hal ini dikarenakan hampir tiap minggunya gelaran bulutangkis dunia ini memberi gelar bagi Indonesia. Tentu saja melalui tangan-tangan atlet kita di cabang bulutangkis yang tak banyak kelahi itu.

Selain kedua hal itu, konon TVRI kembali digemari oleh anak muda karena membeli hak siar Liga Inggris. Kompetisi sepak bola paling tak bisa ditebak sepanjang masa. Meski sekarang sudah bisa ditebak bahwa fans Manchester United mulai berpikir untuk pindah haluan ke Liga Dangdut.

Liga Inggris menjadi magnet utama bagi TVRI yang mulai dipimpin Helmy Yahya sejak dua tahun lalu. Setidaknya dimulai dengan rebranding logo, dari logo klasik membosankan menjadi logo minimalis nan elegan. Sebab umumnya, lembaga pemerintah cukup kolot untuk masalah logo ini.

Beberapa kawan desainer berujar bahwa para staf pelat merah itu kekurangan anak desain yang kreatif. Sebab ya, belum banyak masyarakat kita yang paham bahwa desain dan kreativitas ide dalam membentuk identitas lembaga itu sangat diperlukan.

Oleh sebab itu, rebranding TVRI saat itu menjadi sebuah lompatan besar bagi Helmy Yahya dan kawan-kawan. Hal ini tentu berpengaruh pada proses pemasaran. Sebab, brand yang nampak elegan akan memancing mata orang untuk bertanya-tanya,”Perubahan apa sih yang ada di TVRI?”

Perubahan logo menjadi langkah krusial dalam proses pengenalan produk. Untuk itulah jurusan Desain Komunikasi Visual menjadi lebih menjual di era ini, dibanding jurusan Kehutanan misalnya. Eh kan presiden kita dari Kehutanan? Ya kebetulan saja itu. Kalau tidak ikut parpol ya berakhir di persemaian booousss….

Dewas TVRI Pecat Helmy Yahya lantaran Liga Inggris dan Buaya di Afrika, What?

Kembali ke TVRI. Langkah berani Helmy Yahya tentang branding kemudian menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Dan syukurlah, pembicaraan ini umumnya diisi oleh anak-anak muda yang penasaran. Sebab, seperti kita tahu bahwa beberapa tahun lalu Jogja pernah gagal melakukan branding dengan logo baru yang justru mirip tulisan “TOGUA”.

Saat itu, anak-anak muda pula lah yang menginisiasi protes dengan lelucon-lelucon miring. Sebab menurut mereka, anak muda kreatif dengan ide desain modern sangat banyak. Negara kita bahkan cukup SDM untuk hal ini. Namun sayang, saat itu Jogja gagal.

Tapi, di TVRI, hal itu cukup berhasil. Meski mulanya logo baru TVRI disamakan dengan logo kanal berita milik pemerintah Jerman, Deutsche Welle.

Langkah branding TVRI terbilang cukup sukses. Tentu saja jika dilihat dari sisi testimonial konsumen. Langkah lain yang kemudian muncul adalah pembaharuan tampilan visual siarannya.

Kalau dulu, TVRI cenderung terasosoiasi dengan siaran hitam putih, buram, dan membosankan. Namun, di tangan praktisi televisi seperti Helmy Yahya, Apni Jaya, dan lain-lain, TVRI berbalik arah mengejar ketertinggalan. Menjemput pemirsa, dan mereka sadar kalau anak-anak muda lebih aktif di media, daripada emak-emak dengan sinetron dan acara setingan di televisi swasta.

TVRI membangun fondasi kuat saat mulai mengarungi wajah barunya. Hal ini ditunjukkan dengan menggaet para caster atau penyiar berita dari milenial, agar tak membosankan. Ditambah, menggaet komentator-komentator bulutangkis terakreditasi A.

Tercatat ada Ricky Subagja dan Yuni Kartika, mantan atlet bulutangkis dunia yang menjadi komentator. Dan juga, Bung Daryadi, salah satu komentator bulutangkis yang cukup senior di negara ini, setelah Bung Broto tentunya.

Pemilihan komentator ini sangat krusial, sebab pada ajang multi-event Asian Games 2018 lalu cabor bulutangkis dikomentatori oleh seorang komentator sepak bola. “Kita lihat Anthony Sinisuka Ginting melakukan smash tajaaaaaam, jebreeeett… dapat dikembalikan oleh Kento Momota, kali ini smash datar jebreet… jebreeet…jebreeettt aaaaa sayang sekali sodara-sodara tipis saja bola melewati garis lapangan”.

Banyak BLovers atau pecinta badminton mengapresiasi TVRI untuk pemilihan komentator pada ajang BWF World Tour. Sebab, bulutangkis adalah olahraga yang fokus pada gerakan pemain, bukan keseruan tingkat suporter bola.

Sebelumnya, para pecinta bulutangkis hanya bisa saling berbagi alamat laman streaming untuk menonton para atlet Indonesia berlaga. Semenjak ada TVRI, bisa dipastikan para pecinta bulutangkis mengalihkan VPN Singapore mereka ke layar televisi. Lumayan kan, hemat kuota.

Sayangnya, kegembiraan mengenai progresivitas TVRI ini terancam mandeg karena kasus pemcetana Helmy Yahya dari jabatan direktur utama. Siapa yang memecat? Sebutannya sih Dewan Pengawas, tapi gatau ya mereka ini punya kepentingan apa. Lha wong KPK aja bisa dijegal oleh Dewas-nya sendiri, apalagi TVRI?

Btw, para anggota Dewan Pengawas ini lantas siapa yang mengawasi? Malaikat Munkar dan Nakir?

Ya, Helmy Yahya si Bapak Kuis Indonesia itu dipecat dengan alasan pembebanan anggaran akibat membeli siaran Liga Inggris dan BWF World Tour. Ditambah, ada pernyataan dari Dewas bahwa Helmy tak bisa menjelaskan kenapa utang TVRI begitu besar untuk “hanya” membeli hak siar dua event top global tersebut.

Selain alasan di atas, Dewas juga berujar bahwa siaran TVRI selepas perombakan direksi nampak tidak menunjukkan jati diri bangsa. Alias, banyak siaran Barat. Hal ini dikarenakan TVRI juga menggandeng Discovery Channel untuk beberapa konten siarannya.

Para anggota Dewan Pengawas yang terhormat tidak bisa menerima kalau TVRI ini semakin maju dan disukai pemirsa karena kualitas siarannya. Karena, ya bagi Dewan Pengawas, mungkin TVRI harusnya hanya menyiarkan berita, acara keagamaan, kebudayaan daerah, dan juga siaran TVRI daerah yang seringkali memotong acara TVRI Nasional itu.

Atau barangkali, anggaran TVRI sebagai Lembaga Penyiaran Publik yang berkedudukan langsung di bawah presiden itu tak boleh membengkak. Atau minimal ya cukup untuk bikin konten siaran semenjana saja. Alias, tak peduli keuntungan dan bisnis, yang penting gitu-gitu aja.

Karena, jika bicara bisnis dan utang, memang harusnya seperti itulah perusahaan media bekerja. Memperbaiki konten dengan pinjaman modal, dan kemudian menghasilkan profit bagi negara dengan hasil impresi publik terhadap kualitas siaran yang dihasilkan.

Masa iya Dewan Pengawas TVRI tega melihat televisi swasta yang berisi sinetron-sinetron azab itu lebih banyak dapat profit dari iklan daripada TVRI. Hal ini tentunya berguna bagi kondisi keuangan lembaga dan berimbas pada ketersediaan sumber daya untuk membangun konten siaran yang mumpuni.

Ya, meski Dewas beralasan ada pembatasan iklan dan besaran profit, tapi apa salahnya sih bikin kualitas TVRI makin baik. Padahal kan Media Pemersatu Bangsa, lha kok malah konflik internal?

Atau begini saja, para Anggota Dewan Pengawas TVRI yang terhormat, coba cek bagaimana lembaga penyiaran publik milik negara-negara maju. Lihat bedanya, banyak yang cukup sederhana dalam membuat konten siaran. Tapi tentu, mereka berorientasi pada kepuasan pemirsa. Bukan kepuasan anggota Dewas.


Penulis: Algonz Dimas B. Raharja


0 Komentar