Uda Taufiq Ismail, dalam Usia 84 Tahun Masih Lantang
Arief Rahman Hakim yang tewas ditembak Cakrabirawa (Foto: Haluan.co/Yayat R Cipasang)

JAKARTA, HALUAN.CO - Sastrawan yang paling menonjol pada Angkatan 66 tak ada yang menyangkal lagi pasti dialamatkan kepada Taufiq Ismail. Mantan Menteri Perindustrian yang juga tokoh aksi demonstrasi pada tahun 1966 Fahmi Idris memanggilnya Uda Taufiq.

Sebutan itu juga diucapkan Fahmi Idris yang kini menjadi Ketua Majelis Tinggi Laskar Ampera Arief Rahman Hakim Angkatan 66 menyapa Taufiq yang hadir dan membacakan dua puisi dalam ulang tahun ke-54 Tritura di Kompleks Cikini, akhir pekan lalu.

Peringati ke-54 Tritura, Laskar Angkatan 66 Ajukan 5 Butir Aspirasi kepada Jokowi

Puisi-puisi Taufiq merekam heroisme mahasiawa pada tahun 1966 dalam buku Tirani dan Benteng.

"Usia saya sekarang 84 tahun dan Tritura sudah 54 tahun," kata Taufiq dengan suara bergetar.

Taufiq suaranya sangat lembut dan halus. Bahkan bicaranya hati-hati dan berjeda. Tetapi ketika membacakan puisi suaranya sangat berkarakter khas. Suara Taufiq masih tidak berubah.

Taufiq bercerita ketika aksi demonstrasi besar-besar yang puncaknya mengajukan tiga tuntutan rakyat (Tritura)-- bubarkan PKI, retul kabinet dan turunkan harga--saat itu baru lulus sebagai dokter hewan dari Institut Pertanian Bogor.

Taufiq yang saat itu baru lulus sering nongkrong di asrama mahasiswa UI tak jauh dari Salemba. Hampir tiap hari, seorang mahasiswa lewat di depan asrama menuju Fakultas Kedokteran UI.

Belakangan dari teman-temannya Taufiq mengetahui mahasiswa yang sering lewat itu adalah Arief Rahman Hakim, mahasiswa yang tewas dan jaket kuningnya berlumuran darah ditembak pasukan Cakrabirawa.

"Saya menyesal tidak sempat berkenalan," ujar Taufiq.

Karangan Bunga

Tiga anak kecil..

Dalam langkah malu-malu..

Datang ke salemba..

Sore itu…

Ini dari kami bertiga..

Pita hitam pada karangan bunga..

Sebab kami ikut berduka..

Bagi kakak yang ditembak mati..

Siang tadi…

Puisi Taufiq Ismail yang sangat populer ketika aksi demonstrasi reformaasi 1998 termasuk menjadi pembicaraan dan menjadi simbol perlawanan. Puisi itu selain kocak juga menjadi penyulut semangat mahasiswa.

Takut '66 Takut '98

Mahasiswa takut pada dosen

Dosen takut pada dekan

Dekan takut pada rektor

Rektor takut pada menteri

Menteri takut pada presiden

Presiden takut pada mahasiswa.

Taufiq sampai saat ini terus aktif membesarkan Rumah Puisi dan keluar masuk sekolah untuk memperkenalkan sastra kepada pelajar. Juga masih setia mengasuh majalah sastra Horison yang ia dirikan bersama Arief Budiman (So Hok Djin) dan Mochtar Lubis.

Anggota DPR Fadli Zon yang juga keponakannya juga menjadi salah satu redakturnya dan juga penyandang dana yang setia.