Via Dolorosa: Jalan Sengsara Menuju Paskah

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Perayaan Jumat Agung yang diperingati sebagai hari wafatnya Isa Almasih kini dirayakan di tengah pandemi. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Via Dolorosa: Jalan Sengsara Menuju Paskah

Overview | Jakarta

Jumat, 10 April 2020 21:22 WIB


Via Dolorosa atau jalan kesengsaraan terletak di Kota Yerusalem, di mana tiga agama samawi berkembang mula-mula. Di Yerusalem, Via Dolorosa atau Jalan Kesengsaraan terdiri dari 14 perhentian yang bermula dengan pengadilan terhadap Yesus oleh penguasa Romawi di Yerusalem saat itu, Pontius Pilatus. Tempat di mana Yesus diadili kini berupa bangunan gereja dengan nama Gereja Ecce Homo di Yerusalem.

Tampaknya umat Kristiani tak pernah menduga bahwa mereka akan menyambut Paskah di tengah wabah. Selepas wabah Maut Hitam dan Flu Spanyol pada abad pertengahan, prosesi menuju Paskah selalu semarak. Tapi tahun ini berbeda. Jalan menuju Paskah tahun ini adalah jalan kesengsaraan umat manusia. Tiga hari lagi, setelah Jumat Agung.

Masa Prapaskah secara umum dimaknai sebagai masa pertobatan, sedangkan Hari Raya Paskah sendiri adalah sebuah titik balik umat dari sebuah penebusan. Sebagai sebuah ritus berulang, Paskah menjadi titik sentral dari tahun liturgi dalam gereja Kristen, khususnya Katolik Roma. Sebab selepasnya, denominasi gereja Protestan membuat tafsir terhadap Paskah menjadi beragam. Namun, Paskah dalam liturgi gereja Katolik menjadi hal terpenting dalam satu tahun kalender liturgi yang memengaruhi tata peribadatan mereka.

Perjalanan menuju Paskah dimulai dari perayaan Rabu Abu dengan dogma pertobatan. Manusia berasal dari debu dan akan menjadi debu adalah salah satu diktat utama dari perayaan ini. Di samping itu, frasa lain yang dipakai adalah “bertobatlah dan percayalah pada Injil”. Frasa terakhir ini dibisikkan seorang imam dalam misa perayaan Rabu Abu yang memulai 40 hari masa pantang dan puasa bagi umat Katolik. Dengan kata lain, Rabu Abu adalah awal masa Prapaskah.

Pemaknaan pertobatan, seperti pada umumnya agama samawi seringkali dipertegas dengan ritus puasa. Sama halnya dengan Masa Prapaskah, hanya saja dengan tambahan pantang sebagai bagian dari pembatasan nafsu duniawi. Pantangan umum yang diwajibkan adalah daging. Meski dalam perkembangannya bisa ditambah dengan pantang garam dan gula serta habitus negatif tiap individu umat. Puasa diwajibkan bagi mereka yang telah berusia 18 tahun ke atas hingga usia 60 tahun. Ritusnya pun sedikit longgar karena dari 40 hari hanya ada dua hari wajib puasa yaitu pada Rabu Abu dan Jumat Agung. Sedangkan untuk pantang diwajibkan bagi 14 tahun ke atas dengan hari wajib pantang pada Rabu Abu, Jumat Agung, ditambah setiap hari Jumat selama masa Prapaskah.

Proses pertobatan lain selama masa ini juga umum dilakukannya prosesi Jalan Salib pada setiap Jumat tiap minggunya. Jalan Salib ini dilakukan untuk mengenang proses perjalanan Yesus menuju Golgota, tempat Ia disalib. Jalan ini kini dikenal sebagai Via Dolorosa, terletak di Kota Yerusalem, di mana tiga agama samawi berkembang mula-mula. Di Yerusalem, Via Dolorosa atau Jalan Kesengsaraan terdiri dari 14 perhentian yang bermula dengan pengadilan terhadap Yesus oleh penguasa Romawi di Yerusalem saat itu, Pontius Pilatus. Tempat di mana Yesus diadili kini berupa bangunan gereja dengan nama Gereja Ecce Homo di Yerusalem. Nama sebelumnya adalah Gabbatha, dan kemudian bangunan itu diganti dengan kalimat terkenal dari Pontius Pilatus yang berarti “Lihatlah manusia itu!”. Kalimat Ecce Homo sendiri kemudian menginspirasi banyak pelukis, mulai dari Antonello da Messina hingga Elias Garcia Martinez. Jalan kesengsaraan ini kemudian berakhir dengan pemakaman Yesus setelah sebelumnya diturunkan dari salib yang tertancap di Bukit Golgota, di luar kota Yerusalem kuno.

Selama masa Prapaskah itu, liturgi misa pada gereja Katolik menutup seluruh patung terutama patung Yesus yang tersalib dengan kain warna ungu. Dalam simbol warna-warna liturgi, ungu diartikan sebagai duka. Sehingga dalam 40 hari setelah Rabu Abu itu warna ungu menjadi warna dominan dalam misa mingguan dan harian pada umat Katolik. Warna ungu menjadi simbol kedukaan dan mengenang sosok yang telah wafat.

Jumat Agung merupakan titik di mana warna ungu lantas terganti menjadi merah. Warna merah dalam liturgi dikonotasikan sebagai warna untuk pemakaman dan turunnya roh kudus. Warna merah juga dipakai saat ibadah Minggu Palma, seminggu sebelum paskah, atau minggu terakhir sebelum Jumat Agung. Minggu Palma dirayakan sebagai proses awal sengsara Yesus ketika kembali ke Yerusalem tepat lima hari sebelum ia disalibkan. Minggu Palma digambarkan sebagai drama ironis dari seorang yang disambut habis-habisan dan kemudian dilupakan dalam waktu singkat.

Minggu Palma memakai simbol daun pohon palem sebagai salah satu hal yang dikaitkan secara historis dengan kejadian Yesus memasuki gerbang kota Yerusalem. Kala itu dikisahkan bahwa penduduk kota Yerusalem menyambut Yesus dengan daun palem di tangan, mengelu-elukan dia sebagai sosok penting bagi mereka.

Namun kisah itu seakan berputar terbalik ketika memasuki hari Jumat, di mana kemudian dikonotasikan sebagai hari berkabung untuk mengenang sengsara Yesus. Secara penuh, mulai Jumat dini hari hingga sore hari adalah masa di mana Yesus mulai menapaki jalan sengsara di kota yang sama. Sampai saat ini, jalan bernama Via Dolorosa di Yerusalem tetap ada untuk mengenang perjalanan sengsara ini.

Hal yang khusus dalam babak akhir sebelum Paskah adalah Tri Hari Suci atau Triduum. Dimulai dengan Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Ketiganya saling berkaitan secara langsung dalam liturgi, sebab tiga hari ini berpatokan pada proses realtime dari perjalanan terakhir Yesus menjelang kebangkitan.

Kamis Putih secara singkat dikonotasikan dengan proses pengampunan. Hal ini berkaitan dengan gambaran Yesus membasuh kaki para muridnya. Prosesi serupa masih dilakukan dalam gereja Katolik masa kini di mana seorang imam membasuh dua belas orang tertentu. Paus sebagai pemimpin Tahta Vatikan juga melakukan hal serupa, yang umumnya menempatkan dua belas orang dari kalangan marjinal untuk dibasuh kakinya. Baik narapidana, kaum papa, dan lainnya.

Malam selepas Kamis Putih adalah malam tuguran menuju Jumat Agung. Dan beberapa orang seringkali memahami Jumat Agung sebagai hari Paskah. Tentu saja ini tak tepat, sebab Jumat Agung adalah hari wafatnya Yesus, sedangkan Paskah adalah hari kebagkitannya yang secara diktat terjadi tiga hari setelah Yesus wafat.

Jumat Agung adalah puncak dari jalan sengsara atau via dolorosa yang ditempuh Yesus. Kemudian digaungkan sebagai masa berduka bagi umat yang telah menjalani masa refleksi batin selama Prapaskah. Proses puasa dan pantang yang dijalani selama masa Prapaskah bermuara pada Jumat Agung. Di mana penyaliban Yesus menjadi simbol penebusan atas segala dosa manusia. Dan sepanjang perjalanan sengsara itulah, secara imanen umat Kristiani diajak untuk merenungkan segala dosanya.

Perjalanan melalui via dolorosa berujung pada penyaliban Yesus di hari Jumat. Begitu pula umat menyalibkan segala dosa mereka pada hari Jumat Agung. Dengan pakaian dominan warna gelap, umat memasuki lorong-lorong sunyi penantian akan kebangkitan. Menyemai duka sebagai puncak pertobatan yang telah dijalani selama 40 hari belakangan. Menuju Paskah yang hadir kemudian.



0 Komentar