Wabah yang Mengubah Tatanan Politik Dunia

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Corona

-

AA

+

Wabah yang Mengubah Tatanan Politik Dunia

Total Politik | Jakarta

Sabtu, 18 April 2020 11:06 WIB


Corona bukan pagebluk asal Cina pertama yang merajalela di Dunia. Di paruh akhir Abad ke-19, sebuah pandemi lama turut diekspor oleh Cina. Bagaimana dampaknya?

HARI ini, Provinsi Yunnan di Republik Rakyat Cina lebih dikenal sebagai tanah asal kuliner-kuliner yang lezat nan pedas. Dari guoqiao mixian, bihun yang kaya lauk dan rempah, hingga bebek Yiliang dan teh pu’er, Yunnan menjadi wilayah Cina dengan keberagaman kuliner yang unik dan khas. Besar kemungkinan, hal ini disebabkan oleh topografi Yunnan yang ekstrem.

Di negeri itu, pegunungan berpuncak salju disela oleh sungai-sungai raksasa, menciptakan suatu lanskap yang terdiri dari lembah dan ngarai yang terjal. Letaknya yang disebrangi garis balik utara menghasilkan suatu iklim yang lebih tropis dari Cina Daratan pada umumnya, dan membuatnya mirip dengan tetangga-tetangga Asia Tenggaranya di selatan.

Keseluruhan faktor-faktor ini memberkati provinsi itu dengan keberagaman hewan dan tumbuhan yang dicerminkan dalam kuliner-kuliner khas sana.

Akan tetapi, hutan-hutan tropis yang memenuhi wilayah Yunnan itu tampaknya menyimpan banyak rahasia. Wabah pes yang melanda dunia pada Abad ke-14 menemukan rumah di sana, dan berhasil bertahan jauh sesudah wabah itu mereda di bagian dunia lainnya.

Lama tak terusik di habitat barunya, ditemukannya emas di Yunnan pada tahun 1850-an memicu kedatangan imigran Hui dan Han dari provinsi-provinsi Cina lainnya.

Seiring dengan kedatangan mereka, jalan-jalan dan mode transportasi baru diperkenalkan ke Yunnan. Mobilitas yang tinggi turut berkontribusi dalam persebaran kutu yang merupakan vektor wabah pes. Dari habitat asli mereka, wabah menyebar ke bagian-bagian lain Cina, lalu ke dunia.

Pemicu sesungguhnya dari apa yang akan dikenang sebagai “Pandemi Pes Ketiga” adalah perang.

Ya, perang.

Umat Muslim Hui di Yunnan, yang adat istiadat dan bahasanya tidak berbeda dengan warga Cina pada umumnya, mulai terdesak oleh kedatangan imigran-imigran Han. Persaingan antara kedua kelompok ini berujung pada pembantaian orang Hui oleh Han yang direstui penguasa Cina ketika itu, Bangsa Qing.

Dampaknya luar biasa. Selama 17 tahun, kaum Hui mendirikan dan mempertahankan kesultanan mereka dari serbuan orang Han dan Qing.

Selama itu pula, pasukan Qing yang dikirim untuk memadamkan pemberontakan mereka membawa penyakit pes dari pedalaman Yunnan ke kota-kota pelabuhan di Cina. Dari situ, wabah pes menyebar ke seluruh dunia, termasuk Hindia Belanda (Indonesia).

Wabah pes baru tiba di Hindia Belanda pada tahun 1905, di Bandar Deli, Sumatera Utara. Pemberontakan orang-orang Hui memang padam pada tahun 1876, tapi wabah yang diakibatkan perang itu tidak akan benar-benar enyah dari berbagai belahan dunia.

“Peperangan terus membinasakan ibukota dan daerah sekitarnya; wabah pes terus merajalela dan masa paceklik telah dimulai... bala tentara Kekaisaran telah mundur, sementara orang-orang Muslim memperoleh kemajuan setiap hari” tulis Fenouil, seorang misionaris asal Prancis yang berdiam di Kota Kunming.

Mengenal Budidaya Kina, Obat yang Diyakini Mengatasi Corona

Wabah juga tiba di Hong Kong pada tahun 1894. Pulau yang baru saja diserahkan Kaisar Qing ke Britania Raya itu kehilangan sepertiga penduduknya, yang diikuti dengan tewasnya 20 ribu orang setiap tahunnya untuk 30 tahun sesudahnya.

Sementara itu, wabah pes menewaskan 12,5 juta orang di India. Implikasi politik dari wabah pes di jajahan-jajahan Inggris terbilang luar biasa.

Di India saja, upaya Inggris untuk menanggulangi wabah justru memicu gerakan nasionalis di sana. Hal ini disebabkan oleh upaya-upaya karantina Inggris yang dianggap menyinggung adat-istiadat India.

Di Pune, Maharashtra, sekelompok nasionalis India menembak mati seorang pamong praja Inggris dan pengawalnya, ketika mereka akan mengambil sensus dan memetakan persebaran virus di sana.

Tapi, dampak yang paling kentara tetap di Cina. Wabah pes yang dipicu pemberontakan itu balik memicu pemberontakan lainnya, yakni pemberontakan Kerajaan Surga Taiping di bagian selatan Cina.

Digempur wabah dan kelaparan, suku Hakka di Guangdong mengangkat senjata untuk melawan Kekaisaran Qing. Wabah dianggap sebagai pengejawantahan dari kemurkaan Surga terhadap Qing.

Dengan kata lain, Pandemi Pes Ketiga bertanggung jawab atas perubahan-perubahan politik di paruh akhir Abad ke-19, yang di kemudian hari akan berujung pada berakhirnya kolonialisme dan bergulirnya tatanan dunia.

Wabah Covid-19 yang juga berasal dari Cina kali ini dapat saja melangsungkan hal yang sama. Tidak sedikit yang memperkirakan bahwa dunia pasca-corona akan “sama sekali berbeda”. Pertanyaannya: Akan seperti apa? (GA)


0 Komentar