Wacana Pemulangan WNI Eks ISIS Sudah Ganggu Iklim Investasi di Indonesia
Brigade Al-Khansa kelompok perempuan ISIS di Raqqa. (Foto:Mirror)

JAKARTA, HALUAN.CO - Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, wacana pemulangan warga negara Indonesia (WNI) eks kombatan ISIS telah menggangu iklim usaha dan investasi di Tanah Air.

"Pemerintah harus ekstra hati-hati menyikapi dan memutuskan wacana tersebut. Itu karena wacana itu memiliki dampak yang sangat besar terhadap masa depan ekonomi kita," kata Sarman dalam keterangannya, Sabtu (8/2/2020).

Pemerintah Diminta Perhatikan Nasib Anak-anak WNI Eks ISIS, Mereka Korban!

Sarman menjelaskan, bagi pelaku usaha, mendengar ISIS identik dengan bom dan kekerasan. Apalagi, dunia usaha dan investor itu butuh jaminan kenyamanan dan keamanan.

"Untuk menarik investor masuk ke Indonesia disamping kita memberikan kemudahan melalui regulasi dan insentif,tidak kalah penting adalah kita juga harus mampu memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan," ucapnya.

Selain itu, Sarman juga menganggap, program Omnibus Law Cipta Lapangan Kerja akan sia-sia kalau wacana pemulangan WNI eks ISIS terus bergulir.

Karena, para investor akan ragu dan berpikir ulang menanamkan modal di Indonesia.

"Kita harus belajar dari apa yang kita alami, trauma yang sudah pernah kita rasakan bagaimana kita bekerja keras untuk meyakinkan pasar dan investor ketika terjadi ledakan bom di tanah air," papar Sarman.

Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) ini juga meminta pemerintah menjaga psikologi pasar dan pelaku usaha termasuk investor jika ingin memulangkan WNI eks ISIS.

Ia mengingatkan, pemerintah untuk tetap fokus mempertahakan pertumbuhan ekonomi dalam situasi seperti sekarang ini.

"Jangan sampai turun diangka 5 persen. Konsumsi rumah tangga harus terjaga dengan baik melalui stabilisasi harga pokok pangan karena hampir 60 persen pertumbuhan ekonomi kita ditopang oleh konsumsi rumah tangga atau daya beli masyarakat," tukasnya.