Waduh! 267 Juta Data Telpon Pengguna Facebook Bocor Lagi
Ilustrasi pencurian data Facebook. (Foto: Quartz)

JAKARTA, HALUAN.CO - Isu kebocoran data pengguna Facebook memang selalu menjadi pembicaraan yang hangat. Kali ini, kembali terkuat, sebanyak sebanyak 267 juta data pengguna Facebook beredar di dunia maya. Database yang bocor itu berisi user ID, nomor telepon, dan nama lengkap.

Penemu data tersebut adalah Bob Diachenko dari Elasticsearch, namun menurutnya data yang bocor tersebut kebanyakan milik pengguna Facebook di Amerika Serikat (AS). Apakah ada juga data bocor milik pengguna Indonesia?

Pakar keamanan perangkat dan siber dari Vaksincom, Alfons Tanujaya mengatakan tidak menutup kemungkinan ada korban yang berasal dari Indonesia, Meski presentasenya mungkin cukup kecil.

"Ada (kemungkinan), mungkin di bawah 5% (yang berasal dari Indonesia) tapi ya tetap besar juga ya," ujar Alfons, seperti dikutip dari CNBC Indonesia, Sabtu 21 Desember 2019.

Untuk diketahui, menurut Statista, hingga April 2019 lalu Facebook mempunyai pengguna aktif mencapai 2,38 miliar. Pengguna terbanyak berasal dari India (260 juta), Amerika Serikat (190 juta), Brazil (120 juta), dan Indonesia (120 juta).

Data bocor tersebut dianggap tidak terlalu krusial karena tidak ada password. Dan dari data tersebut bagana yang paling penting adalah nomad telepon dan nama lengkap.

"Datanya sih tidak terlalu krusial. Dalam kasus ini nomor telepon yang menjadi data yang bernilai dan bisa menjadi sarana SPAM," katanya.

Bocornya nomor telepon bisa menyebabkan nomor telepon tersebut menerima spam SMS atau telepon dari telemarketer. Namun ada juga kemungkinan kalau korbannya bisa menjadi sasaran phishing.

"Bisa saja orang mendapatkan data ini lalu melakukan broadcast ke nomor2 HP tersebut dan melakukan trik phishing agar korbannya login ke situs palsu sehingga mendapatkan kredensial korbannya," ujar Alfons.

Ia menghimbau pengguna agar berhati-hati menerima SMS atau email yang mengaku dari Facebook, dan meminta pengguna untuk mengganti passwordnya.

"Dan aktifkan TFA (Two Factor Authentication) supaya terhindar dari ancaman phishing," tutup Alfons.

Penulis: Sutrisno Z