Warga Jabar Diminta Waspada Penyebaran Antraks
Bakteri antraks dilihat dari mikroskop dii dalam daging ternak (Foto: Daily Mail)

BANDUNG, HALUAN.CO - Kementerian Kesehatan RI sudah memperingatkan Jawa Tengah (Jateng), Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Timur (Jatim) soal potensi penyebaran bakteri antraks. Bahkan, Ditjen Pencegahan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI menyebut antraks sudah masuk Kejadian Luar Biasa di Jateng.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat (Jabar) hingga saat ini belum menemukan kasus antraks pada hewan ternak maupun manusia. Namun, menurut Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat Berli Hamdani, pihaknya meminta masyarakat Jabar untuk tetap waspada.

"Sejauh ini belum ada hewan yang terdeteksi mengidap antraks, mudah-mudahan tidak ada, terhadap manusianya juga tidak ada, tapi kita harus tetap waspada," ujat Berli seperti dilansir laman Republika.co.id, Sabtu (8/1/2020).

Untuk mencegah penyebaran penyakit antraks, menurut Berli, Dinkes Jabar tengah melakukan sejumlah upaya. Salah satunya adalah berkoordinasi dengan Dinas Perternakan, serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk memeriksa kesehatan hewan ternak, khususnya sapi, sebelum masuk pasar.

"Antisipasi kami berkoordinasi dengan Dinas peternakan dan Disperindag, kami ingin pastikan hewan ternak, khususnya sapi, tak terpapar bakteri antraks," kata Berli.

Gunungkidul KLB Antraks

Kemudian, kata Berli, pihaknya akan melakukan operasi pasar. Nantinya, Dinkes Jabar bakal melakukan sampel pada daging, terutama sapi, di pasar. Jika ada sampel yang mengandung bakteri antraks, pihaknya akan menarik daging tersebut dari pasar.

"Kita kunjungi pasar-pasar terutama yang menjual daging sapi, kemudian kita lakukan uji tes daging yang dijual ke masyarakat," katanya.

Selain itu, menurut Berli, Dinkes Jabar akan fokus pada peningkatan kualitas kesehatan dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan pada 2020. Langkahnya melalui program pemetaan yang sudah selesai di 2019 ini untuk mengetahui permasalahan kesehatan apa saja yang terjadi di Jabar.

"Setelah itu kita membangun sistem, mulai dari penggunaan pelayanan berbasis 4.0 dan mobile. Termasuk penanganan pencegahan stunting, penyakit menular, depresi dan sebagainya," papar Berli.