WHO Belum Bisa Prediksi Akhir Epidemi Corona di China
Petugas medis di China melihat obat yang digunakan untuk mengobati pasien corona (Foto: Xinhua)

JAKARTA, HALUAN.CO - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum bisa memprediksi akhir dari epidemi virus corona di China. Kendati, dalam beberapa hari terakhir terdapat penurunan jumlah orang yang terpapar virus corona.

Dilansir dari BBC, virus corona telah membunuh lebih dari 1.100 warga China dan menginfeksi lebih dari 44.600 orang. Pemerintah China sudah melaporkan dalam dua minggu terakhir penderita harian terendah 2.015. Jumlah harian terbanyak sempat mencapai 4.000 orang.

Korban Tewas Virus Corona di China Melonjak Menjadi 1.110 Orang

Direktur Jenderal WHO Tedros Ghebreyesus menyatakan terlalu dini menyebut epidemi sudah sampai puncaknya kendati sudah terjadi penurunan jumlah penderita di China.

WHO juga yakin vaksin akan segera ditemukan. Para ilmuwan WHO terus berusaha untuk menciptakan vaksin memerangi virus corona.

"Saya pikir kita akan menemukan vaksin," kata Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan. "Itu akan memakan waktu. Vaksin tidak bisa dibuat dalam semalam."

Belum ditemukannya obat atau vaksin untuk corona baru membuat pemerintah China memanfaatkan obat-obatan tradisional. Namun sejumlah ilmuwan Barat meragukan keampuhan obat-obatan tradisonal China tersebut.

Dilaporkan DW Indonesia, Komisi Kesehatan China merekomendasikan untuk menggunakan bahan-bahan tradisional. Sementara WHO mengatakan bahwa klaim beberapa bahan seperti bawang putih dan minyak wijen dapat menawarkan perlindungan terhadap virus, belum bisa dibuktikan.

Seorang profesor di Departemen Farmakologi Universitas Oxford, Ming Lei, mengatakan memang obat tradisional China sangat diakui keampuhannya. Namun, untuk memproduksi obat secara massal dalam kondisi terdesak menjadi tidak realistis

"Komponen-komponennya bisa jadi bermanfaat, tetapi butuh waktu lama untuk mengembangkannya," ujar Ming Lei.