WHO Minta Pemerintah di Seluruh Dunia Tidak Keluarkan Sertifikat Bebas Corona
Ilustrasi COVID-19 (Foto: Istimewa)

JENEWA, HALUAN.CO - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan kepada pemerintah di seluruh dunia agar tidak mengeluarkan "paspor imunitas" atau sertifikat bebas infeksi virus corona (COVID-19). 

Mengapa ini penting: Menurut WHO, tidak ada bukti bahwa seseorang yang telah sembuh tidak dapat tertular virus Corona (COVID-19) lagi.

Konteks:

⦁ Beberapa penderita COVID-19 yang sudah sembuh di beberapa negara seperti Jepang dan China, terinfeksi kembali virus Corona.

⦁ Pemerintah di seluruh dunia, termasuk di Indonesia memberikan sertifikat sembuh dari COVID-19 dan bebas virus Corona.

Apa katanya: "Saat ini tidak ada bukti bahwa orang yang telah pulih dari COVID-19 dan memiliki antibodi dilindungi dari infeksi kedua," kata WHO dalam sebuah pernyataan, dilansir BBC.

Peringatan WHO: WHO memperingatkan, paspor imunitas justru dapat meningkatkan penularan virus. Karena, mereka yang sudah sembuh menganggap dirinya tidak mungkin tertular lagi sehingga mengabaikan tindakan pencegahan.

⦁ Sebagian besar penelitian yang dilakukan sejauh ini menunjukkan bahwa, orang yang pulih dari infeksi korona memiliki antibodi dalam darah mereka.

⦁ Tetapi beberapa dari mereka memiliki tingkat antibodi yang sangat rendah.

Kemenkes Minta Warga Waspadai Malaria Saat Pandemi COVID-19

Pendapat lain: WHO mengatakan, tidak ada penelitian yang mengevaluasi apakah keberadaan antibodi terhadap virus tersebut memberikan kekebalan terhadap infeksi selanjutnya pada manusia.

"Pada titik ini dalam pandemi, tidak ada cukup bukti tentang efektivitas kekebalan yang dimediasi antibodi untuk menjamin keakuratan 'paspor imunitas' atau 'sertifikat bebas risiko'," kata pernyataan WHO.

Bagaimana selanjutnya: Pemerintah di sejumlah negara telah mempertimbangkan untuk mengizinkan orang yang telah pulih untuk bepergian atau kembali bekerja. Pemberlakuan lockdown telah melumpuhkan perekonomian di seluruh dunia.

"Tes laboratorium untuk mendeteksi antibodi memerlukan validasi lebih lanjut untuk menentukan keakuratannya, dan juga perlu membedakan antara infeksi sebelumnya," kata WHO dalam pernyataannya.


0 Komentar