WHO Prihatin 10 Persen Tenaga Medis Terpapar Virus Corona

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus. (Foto: Antara)

-

AA

+

WHO Prihatin 10 Persen Tenaga Medis Terpapar Virus Corona

Health | Jakarta

Minggu, 12 April 2020 16:43 WIB


JAKARTA, HALUAN.CO - Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus merasa prihatin dengan banyak tenaga medis yang terinfeksi virus corona atau COVID-19.

Ungkapan keprihatinan Tedros Adhanom Ghebreyesus disampaikan pada briefing media tentang COVID-19, Jumat (10/4/2020) yang dikutip dari laman who.int.

Mengapa ini penting: Tedros Adhanom Ghebreyesus menyebut bahwa ini adalah tren yang mengkhawatirkan. Harus dipahami mengapa ini terjadi dan apa yang dapat dilakukan untuk mereka.

Konteks: Berdasarkan laporan dari beberapa negara yang disampailan ke WHO, lebih dari 10 persen pekerja kesehatan atau tenaga medis yang terinfeksi virus asal Wuhan, China itu.

Mengapa itu terjadi:

• Berapa petugas kesehatan sebenarnya terinfeksi di luar fasilitas kesehatan, di rumah atau di lingkungan masyarakat.

• Dalam fasilitas kesehatan, masalah umum adalah keterlambatan pengenalan COVID-19 atau kurangnya pelatihan atau pengalaman dalam menangani patogen pernapasan.

• Banyak petugas kesehatan juga terpapar dari sejumlah besar pasien dalam waktu yang lama dengan periode istirahat yang tidak memadai.

• Bukti juga menunjukkan bahwa ketika petugas kesehatan memakai alat pelindung diri dengan cara yang benar, infeksi dapat dicegah.

Upaya dilakukan WHO:

• Mempermudah bagi petugas kesehatan untuk dapat mengakses topeng atau masker, sarung tangan, gaun dan alat pelindung diri atau APD lain yang mereka butuhkan untuk melakukan pekerjaan dengan aman dan efektif.

• WHO telah meluncurkan tiga alat untuk membantu manajer dan perencana menghitung tenaga kesehatan, persediaan dan peralatan yang akan dibutuhkan untuk peningkatan pasien COVID-19.

• Telah memerintahkan Satuan Tugas Rantai Suplai PBB untuk mengoordinasikan dan meningkatkan pengadaan dan distribusi peralatan perlindungan pribadi, diagnostik laboratorium, dan oksigen ke negara-negara yang paling membutuhkannya.

• Inisiatif ini akan dikoordinasikan oleh WHO dan Program Pangan Dunia, membangun kolaborasi yang ada antara banyak mitra dari dalam dan luar PBB.

• WHO memperkirakan rantai pasokan ini mungkin perlu mencakup lebih dari 30 persen dari kebutuhan dunia dalam fase pandemi akut.

• Setiap bulan, WHO perlu mengirimkan setidaknya 100 juta masker dan sarung tangan medis hingga 25 juta N95 respirator, gaun dan pelindung wajah, 2,5 juta tes diagnostik dan sejumlah besar konsentrator oksigen dan peralatan lainnya untuk perawatan klinis untuk memindahkan pasokan ini ke seluruh dunia.

Bagaimana di Indonesia:

Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan Reformasi (FSP FARKES/R) mencatat, ada 44 tenaga medis meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona. Rinciannya, 32 dokter dan 12 perawat.

Imbas Lockdown, KDRT di Luar Negeri Meningkat Tajam

FSP FARKES/R mendesak pemerintah untuk lebih memperhatikan keselamatan petugas kesehatan yang menangani pandemi corona. “Caranya, dengan menyediakan Alat Pelindung Diri (APD) yang memenuhi standar dengan jumlah yang mencukupi,” kata Ketua Umum FSP FARKES/R Idris Idham dalam siaran pers, Minggu (12/4/2020).


0 Komentar