Wishnutama Unggah Video Menlu soal Klaim Natuna, Warganet: Maling kok Diajak Diskusi
Semangat dan nasionalisme bangkit ketika wilayah Indonesia dicaplok negara lain (Ilustrasi: Haluan.co)

JAKARTA, HALUAN.CO - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Msnparekraf) RI, Wishnutama Kusubandio menggunggah video KRI Tjiptadi-381 yang beroperasi di bawah kendali Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I menghalau kapal Coast Guard China saat melakukan patroli di Laut Natuna Utara, Kepulauan Riau.

KRI Tjiptadi-381 menghalau kapal Coast Guard China untuk menjaga kedaulatan wilayah dan keamanan di kawasan sekaligus menjaga stabilitas di wilayah perbatasaan

Video tersebut diunggah Wishnutama melalui akun instagram pribadinya, @wishnutama, dikutip Minggu (5/12/2020). Terlihat Wishnutama tidak memberikan keterangan panjang lebar untuk video tersebut.

Namun, dari tulisan Wishnutama tersebut bisa disimpulkan bahwa dia ikut mendukung sikap Kementerian Luar Negeri dalam menyikapi aksi kapal Coast Guard China yang memasuki secara ilegal perairan Natuna yang merupakan wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) NKRI.

Dimana telah ditetapkan melalui Konvensi Peserikatan Bangsa-Bangsa Tentang Hukum Laut pada tahun 1982 atau The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS 1982).

"Kedaulatan RI. Pemerintah Republik Indonesia sangat tegas dalam mempertahankan kedaulatan RI," begitu tulis Wishnutama pada captionnya.

Pantauan Haluan.co, video tersebut telah disaksikan 248 ribu kali oleh warganet dalam waktu 13 jam setelah diunggah.

Dalam video tersebut Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi berkata "Telah terjadi pelanggaran yang dilakukan kapal-kapal China di wilayah Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di perairan Natuna, Kepulauan Riau," kata Menlu

Retno terlihat memakai baju abu-abu dan celana berwarna hitam. Didampingi sejumlah menteri, Retno melanjutkan ucapannya.

"Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia itu telah ditetapkan oleh United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982. Oleh karenanya, China mematuhi aturan tersebut karena bagian dari UNCLOS 1982," kata Retno.

Retno juga berkata Tiongkok merupakan salah satu part dari UNCLOS 1982. Oleh sebab itu merupakan kewajiban bagi Tiongkok untuk menghormati UNCLOS 1982.

"Indonesia tidak akan pernah mengakui 9 dash line atau klaim sepihak yang dilakukan China, karena tidak memiliki dasar hukum internasional yang jelas, terutama UNCLOS 1982," tutup Retno dalam video yang diunggah Wishnutama.

Ada 680 komentar yang diberikan warganet untuk video tersebut. Salah satu warganet mempertanyakan keberadaan Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan lantaran tak terlihat saat kegiatan tersebut.

Seperti komentar akun @dwi*** , "Luhut kok gak nongol pak, apa beliau bingung mau belain siapa," tulisnya.

Sementara warganet lain meminta pemerintah mengambil sikap tegas dalam menyelesaikan persoalan Natuna. Tak sedikit pula menyarankan agar meniru sikap mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang berani menenggelamkan kapal-kapal China.

"Sama Cina gak usah takut, Indonesia darahnya petarung," kata akun @revantoadji.

"Jangan karena hanya mereka telah banyak berinvestasi atau memberi hutang. Maka mereka mau semena-mena masuk ke wilayah Indonesia tanpa izin. Hey bung, ada apa, kenapa, mengapa?," komentar @bay***.

"Ujian pertama pak prabowo dan pak jokowi," ucap @adiyusro.

"Kalai sama buk susi langsung ditenggelamkan, maling kok diajak diskusi," kata @mrs***.


Penulis: Milna Miana


0 Komentar