WNI Sukses Ciptakan Alat Tes Corona, Tapi Belum dapat Lisensi dari RI

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Rapid test COVID-19 buatan Sensing Self, produsen alat kesehatan yang salah satu pendirinya adalah WNI bernama Santo Purnama. (Foto: Dok. Sensing Self)

JAKARTA, HALUAN.CO - Seorang pengusaha asal Indonesia yang kini tinggal di California, Amerika Serika, Santo Purnama, berhasil mengembangkan alat tes cepat untuk mendeteksi virus corona (Covid-19) digunakan secara mandiri.

Alat rapid test yang dikembangkan di Singapura melalui perusahaan Sensing Self ini memungkinkan masyarakat untuk dapat melakukan pengecekan secara mandiri di rumah dan hanya membutuhkan waktu 10 menit mendeteksi Covid-19 di tubuh seseorang dengan tingkat akurasi mencapai 92 persen.

Sejak Februari, alat rapid test ini resmi diproduksi dan telah mendapatkan lisensi edar dari pasar Eropa (CE), India (National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research), dan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA).

Santo menjelaskan, alat ini akan dijual sesuai harga produksi yang cukup terjangkau sekitar Rp 160 ribu per unit. Alasannya, ini merupakan misi sosial untuk menyelamatkan nyawa manusia.

Santo mengklaim, alat rapid test ciptaanya memiliki keunggulan yang terletak pada enzim alat tersebut.

"Teknologi yang kita miliki bukan terletak pada kertasnya, tapi ada di enzimnya. Enzim itu kalau tidak diperhatikan, misalnya waktu ditaruh tidak dijaga suhunya atau segala macam, enzim itu bisa rusak,” kata Santo dilansir dari Teknologi.id, jaringan Haluan.co, Jumat (3/4/2020).

Lihat postingan ini di Instagram

Seorang warga negara Indonesia yang kini tinggal di California, AS, bernama Santo Purnama, berhasil menciptakan alat tes cepat atau rapid test mandiri untuk mendeteksi COVID-19. . Alat rapid test yang dikembangkan di Singapura melalui perusahaan Sensing Self ini memungkinkan masyarakat untuk dapat melakukan pengecekan secara mandiri di rumah dan hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk bisa mendeteksi COVID-19 di tubuh seseorang dengan tingkat akurasi mencapai 92 persen. . Alat rapid test ini resmi diproduksi sejak bulan Februari dan telah mendapatkan lisensi edar dari pasar Eropa (CE), India (National Institute of Virology dan Indian Council of Medical Research), dan Amerika Serikat (Food and Drug Administration/FDA). . Santo menyebut alat ini akan dijual sesuai harga produksi yang cukup terjangkau sekitar Rp 160 ribu per unit, sebab ini merupakan misi sosial untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. . Simak info selengkapnya di artikel dengan cara klik Instastory kami ya Tech Expert! . Kredit Foto: Sensing Self #rapidtestcovid19 #coronaindonesia #covid19 #viruscorona #dirumahaja #wfh #trending #teknologi #infoteknologi #beritateknologi #beritaviral #viralindonesia #lifestyle #instagood #instatechnology #innovation #creative #digital #futuretech #invention #instalife #techlist #techcrunch #trending #todaytech #teknologiterkini #teknologibaru #millenials

Sebuah kiriman dibagikan oleh Teknologi (@teknologi_id) pada

Sebagai informasi, enzim adalah biomolekul berupa protein yang berfungsi sebagai katalis atau senyawa yang mempercepat proses reaksi dalam suatu proses kimia organik.

Enzim, dalam alat rapid test, berperan dalam menentukan hasil tes Covid-19 yang dilakukan seseorang.

“Jadi kita, Sensing Self itu benar-benar memperhatikan enzim yang kita bikin, dan kita tahu bagaimana cara penanganan yang bagus. Sehingga akurasinya mendapat pencapaian yang paling tinggi,” ujarnya.

Menunggu Lisensi Edar Pemerintah Indonesia

Menurut Santo, hingga saat ini dirinya masih menunggu lisensi izin edar yang dikeluarkan pemerintah Indonesia untuk pendistribusian rapid test Sensing Self. Jika izin edar itu sudah dikeluarkan, maka alat tes ini akan segera dibawa dan didistribusikan ke Indonesia.

Apalagi, kata dia, perang melawan Covid-19 adalah perang melawan waktu.

"Kita harus menekan laju pertumbuhan pandemi ini dengan melakukan tes seluas mungkin. Oleh karena itu, kami berharap pemerintah Indonesia bisa memberikan respons positif bagi inisiatif kami untuk membawa alat tes mandiri ini ke Indonesia," tegas Santo.

Alat rapid test Sensing Self tersebut saat ini sudah digunakan untuk membantu sejumlah lembaga-lembaga riset kesehatan dan bioteknologi ternama di Amerika Serikat, seperti Mayo Clinic, University of California San Francisco, dan Chan Zuckerberg Biohub.

Bahkan di India, yang mencatat angka ribuan kasus positif COVID-19, telah memesan alat rapid test Sensing Self sejumlah 3 juta unit.

Dokter RSUP Persahabatan: Semua Orang Indonesia ODP Covid-19

Selain alat rapid test berbasis enzim ini, Santo dan tim saat ini juga sedang mengembangkan metode lain, yakni menggunakan tes asam nukleat (nucleic acid test) untuk mendeteksi infeksi COVID-19 sedini mungkin dengan akurasi hingga 99 persen pada hari pertama terpapar virus.


0 Komentar