Zainut Tauhid Sa'adi : Muslim Jakarta Boleh Tak Sholat Jum'at

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa'adi menyebutkan, masyarakat yang tinggal di kawasan DKI Jakarta diperbolehkan untuk tidak shalat Jumat dan diganti dengan shalat zuhur selama pandemi Covid-19.

Pasalnya, DKI Jakarta merupakan salah satu wilayah dengan tingkat penyebaran virus corona yang tinggi. Sebagaimana Fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19, masyarakat yang tinggal di kawasan dengan tingkat penyebaran virus corona tinggi boleh tak melaksanakan shalat Jumat.

Ada tiga ketagori Fatwa MUI, "Pertama, jika di suatu kawasan tingkat penyebaran COVID-19 terkendali, maka umat Islam wajib melaksanakan salat Jumat”. Zainut yang juga Wakil Menteri Agama itu menjelaskan kategori yang kedua. Yakni, jika di suatu kawasan penyebaran COVID-19 tidak terkendali bahkan mengancam jiwa, maka umat Islam tidak boleh menyelenggarakan salat Jumat dan menggantinya dengan salat Zuhur.

Ketiga, jika di suatu kawasan yang potensi penyebarannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan oleh pihak yang berwenang, umat Islam boleh tidak menyelenggarakan salat Jumat dan menggantinya dengan salat Zuhur.

Zainut mengakui banyak orang yang memahami sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Thanrani soal salat Jumat yang berbunyi “Siapa yang mendengar azan jumatan 3 kali, kemudian dia tidak menghadirinya maka dicatat sebagai orang munafik”

Menurut Zainud hadits tersebut berlaku bagi mereka yang meninggalkan jumatan tanpa uzur syar'i (suatu halangan yang membolehkan tak melakukan kewajiban). "Sedangkan orang yang memiliki uzur syar'i tidak melaksanakan salat Jumat, seperti sakit, safar (perjalanan) atau uzur lainnya misalnya adanya ancaman bahaya terhadap keselamatan jiwa seperti wabah Corona, maka dia tidak masuk dalam kategori yang disebutkan dalam hadits tersebut," kata Zainut.


0 Komentar