Ziarah Kubur: Tradisi Lintas Kultural

Dark Mode

More From Our Network

rowtvriaumandiriwartaekonomiteknologiId
Ziarah kubur merupakan salah satu hal yang umum dilakukan menjelang Ramadan, namun tradisi ini ternyata berakar dari berbagai landasan religi. (Ilustrasi: Haluan.co)

-

AA

+

Ziarah Kubur: Tradisi Lintas Kultural

Overview | Jakarta

Jumat, 24 April 2020 21:08 WIB


Terlepas dari keterkaitan dengan datangnya bulan Ramadan, ziarah kubur ternyata tak serta-merta diasosiasikan dengan umat muslim saja. Terlebih, hal ini juga dilakukan berbagai kalangan. 

DI tengah pandemi seperti sekarang, bisa dipasatikan tak banyak tradisi dalam masyarakat yang bisa dilakukan seperti biasa. Beberapa waktu lalu, upacara Ngaben di Bali pun terpaksa dilakukan sederhana.

Meski menurut penanggalan Bali, hari Senin, 20 April 2020 lalu adalah hari baik untuk melakukan upacara Ngaben. Berikut pula dengan segala tatanannya yang terperinci, termasuk tahap ngeringkes atau tata cara memandikan dan membungkus mayat. Tak hanya Ngaben, tetapi kini juga tiba di awal masa ramadan.

Umumnya, masyarakat muslim di beberapa daerah mengawali ramadan ini dengan ziarah kubur.

Namun, tentu ziarah kubur menjelang ramadan tahun ini tak sesemarak tahun-tahun sebelumnya. Sebab Wamenag Zainut Tauhid Sa'adi meminta masyarakat muslim untuk tidak melakukan ziarah kubur di tengah pandemi. Hal ini membuat Ramadan 1441 Hijriyah ini nampak berbeda dengan berkurangnya masyarakat yang biasa berbondong-bondong melakukan tradisi ziarah kubur leluhur.

Terlepas dari keterkaitan dengan datangnya bulan Ramadan, ziarah kubur ternyata tak serta-merta diasosiasikan dengan umat muslim saja. Terlebih, hal ini juga dilakukan berbagai kalangan.

Secara historis, ziarah makam berakar pada tradisi panjang dalam perkembangan Islam. Meski di sisi lain hal ini juga melahirkan perdebatan tak kunjung usai. Misbahul Mujib dalam Tradisi Ziarah dalam Masyarakat Jawa: Kontestasi Kesalehan, Identitas, Keagamaan, dan Komersil mencatat bahwa tradisi ziarah dalam Islam mulai diperdebatkan sejak abad kedua belas hingga ketiga belas antara Ibn al-Jaws dan Ibn Taymiyah. Begitu pula selanjutnya pada abad kesembilan belas hingga dua puluh oleh Rashid Rida dan Sayyid Qutb. Ziarah kubur acapkali dianggap sebagai praktik syirik dan bidah sehingga dikecam pelbagai pihak. Namun tentu, tak sedikit pula yang meyakini praktik ini sebagai bagian dari ibadah. Khususnya di belahan dunia di mana Islam mengalami akulturasi dengan budaya setempat.

Mujib menyatakan bahwa fenomena ziarah tidak berwajah tunggal. Justru, ziarah berkait kelindan dengan kesalehan, penonjolan identitas keislaman dan bahkan dimensi komersil. Hal ini dijumpai pula di Indonesia, seperti yang kita kenal dengan berbagai macam paket jalan-jalan berkedok ziarah wali atau ziarah makam suci lainnya di tanah air. Bahkan tempat-tempat ziarah macam ini tak pernah sepi pengunjung, jikalau tak ada pandemi seperti sekarang.

Al-Marbawi menyatakan ziarah berasal dari kata zaara yang berarti menengok atau melawat. Luwis Ma’luf mengartikannya sebagai datang dengan maksud menemui. Sedangkan KBBI mengartikan lema ziarah sebagai kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia. Sehingga dalam bentuk frasanya, ziarah kubur diartikan Mujib sebagai kegiatan menengok atau mengunjungi tempat pemakaman jenazah.

Selanjutnya, Mujib juga menjelaskan bahwa dalam terminologi syariah, ziarah kubur ini diartikan lebih dari sekadar kunjungan makam. Lebih dari itu, ziarah juga mencakup soal mendoakan para penghuni kubur serta mengambil pelajaran dari mereka. Dengan kata lain, ziarah kubur secara spiritual dimaksudkan untuk memohon rahmat Tuhan untuk mereka yang telah wafat. Sekaligus, mereka yang hidup seolah diperingatkan tentang kematian dan nasib di waktu mendatang.

Meski sempat santer kabar bahwa ziarah kubur pernah dilarang oleh Nabi Muhammad SAW, namun pada dasarnya kegiatan ini adalah sunnah.

Mujib mengutip HR. Muslim yang mengatakan bahwa dahulu memang Nabi SAW pernah melarang umat muslim berziarah, namun kemudian mengizinkan ziarah ke kuburan karena hal itu dianggap mengingatkan umat kepada akhirat. Sehingga, hakikat dari ziarah kubur yang utama adalah soal mengingat kematian dan akhirat.

Tradisi ziarah kubur ini kemudian dibawa pula dalam proses penyebaran Islam di Jawa. Dalam dua pendekatan, Islam disebarkan di Jawa melalui islamisasi kultural dan Jawanisasi Islam. Pendekatan pertama adalah upaya agar budaya yang telah ada pada masyarakat Jawa tampak bercorak Islam. Hal ini memudahkan masyarakat Jawa pada masa itu untuk menyerap ajaran Islam. Sedangkan pendekatan kedua dilakukan dengan asimilasi budaya Jawa yang disusupi ajaran Islam.

Dari kedua pendekatan ini kemudian muncul pelbagai kesinambungan antara kultur dan agama pada masyarakat Jawa. Begitu pula terjadi pada masyarakat di tempat lain. Baik dengan Islam maupun dengan agama lain, seperti Katolik di Nusa Tenggara Timur atau Protestan di Papua Barat misalnya. Perpaduan antara agama yang berinteraksi dengan kebudayaan dan tradisi setempat ini kemudian disebut sebagai sinkretisme.

Salah satu ritual yang dianggap sebagai bagian dari sinkretisme adalah ziarah kubur ini. Kedatangan Islam memberikan perubahan esensi dari kegiatan ziarah. Perubahan pokoknya berada pada tataran niat dan tujuan dari dilakukannya suatu ziarah. Jika semula ziarah dilakukan untuk meminta seseuatu kepada arwah yang dipercaya memiliki kekuatan, lantas diubah untuk mengingat kematian. Demikian pula dengan penambahan konsep akhirat dan mendoakan arwah di kehidupan mendatang. Hal ini menjadi dasar dari perubahan esensi ziarah dari masa kepercayaan lokal sebelum kedatangan Islam dan setelahnya. Setelahnya, ziarah pun menjelma menjadi wisata rohani atau wisata spritual yang langgeng di Indonesia.

Selain keterikatan dengan Islam, ziarah kubur juga dikenal pada masyarakat Tionghoa di Indonesia. Hal ini dikenal sebagai tradisi Cheng Beng.

Suharyanto et al dalam Makna Upacara Cheng Beng pada Masyarakat Etnis Tionghoa di Medan menjelaskan bahwa tradisi ziarah makam pada kalangan Tionghoa ini berakar pada ajaran Konfusianisme atau agama Konghucu. Dalam bahasa Mandarin, cheng beng juga dituliskan dengan qing ming dengan artian cerah dan terang. Tradisi ini dipercaya oleh penganut konfusianisme sebagai cara untuk menghormati leluhur atau orang tua. Dalam pemaknaan spiritual aktivitas ini dianggap sebagai pengabdian kepada para leluhur melalui arwahnya. Sehingga dilakukan dalam lingkup keluarga besar dalam satu garis keturunan untuk bersembahyang di makam-makam leluhur.

Selebihnya, Jeliana dalam Perubahan dalam Tradisi Perayaan Cengbeng pada Etnis Tionghoa di Era Modernisasi mengungkapkan bahwa secara umum tradisi ziarah makam ini dilakukan pada lima belas hari sebelum tanggal 5 April. Hal ini diyakini karena pada tangal tersebut arwah-arwah sudah kembali ke alam lain. Cheng Beng dirayakan sebagai hari menyapu kuburan atau hari pembersihan pusara. Sedangkan Qingming diartikan sebagai Festival Terang. Hal ini kemudian dilakukan dengan membersihkan pusara, dan berdoa dengan berbagai macam benda baik makanan, teh, arak, dupa, kertas sembahyang dan berbagai hal lain sebagai persembahan kepada nenek moyang.

Banyak Hubungan yang Dipaksakan Berakhir Hambar, Tapi Tidak untuk Rawon X Pecel

Seperti halnya ziarah yang pemaknaannya berasal dari tempat asal di mana Islam berasal. Demikian pula Cheng Beng berawal dari zaman Dinasti Ming yang berkuasa di China sejak tahun 1368 hingga 1644. Jeliana menjelaskan bahwa pada masa itu, tersebut nama Cu Guan Ciong (Zhu Yuan Zhang) pendiri Dinasti Ming yang kehilangan keluarganya sebelum sempat membalas budi baik mereka.

Cu Guan Ciong yang kelak dikenal sebagai Kaisar Hongwu ini pun memberi ide tentang pembalasan budi baik kepada keluarganya. Langkah ini kemudian dilakukan dengan memperbaiki makam keluarga itu dan juga mendoakannya demi kebaikan di dunia mendatang. Praktik ini sempat dilarang saat pemerintah komunis di China sekitar tahun 1940 karena dianggap sebagai pemborosan ruang atau lahan. Lantas, kemudian mulai muncul proses kremasi dalam pemakaman mayat di negeri itu.

Seperti dalam ziarah, tradisi mengunjungi makam pada tradisi Cheng Beng juga kemudian diikuti oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Dalam penelitian Jeliana di atas, ia mengamati hal itu pada masyarakat Tionghoa di Pringsewu, Lampung.

Lantas, apapun sebutannya, kegiatan berkunjung ke makam leluhur nampak memiliki garis terang yang senada, yaitu menyoal memberi penghormatan kepada leluhur. Secara spiritual, hal ini kemudian diejahwantahkan melalui berbagai dogma masing-masing kepercayaan. Dan kemudian praktik-praktik semacam ini dimaknai secara beragam, meski pada dasarnya adalah menyoal bagaimana manusia mendoakan leluhurnya yang telah wafat.

Dalam bentuk lain, perspektif sakral dan profan menjadi amat pudar ketika manusia mengingat kematian. Untuk itulah lantas muncul penekanan niat yang diyakini dalam Islam melalui ziarah, yaitu niat untuk mengingat mati dan akhirat. Demikian pula dengan masyarakat Tionghoa penganut Konghucu yang memiliki niat untuk berbakti pada leluhur sebagai bagian dari garis keturunannya.

Pada akhirnya, ziarah dimaknai lebih luas daripada sekadar datang ke makam dan bersembahyang. Sebab di sana ada keterikatan, antara keturunan dan leluhurnya. Antara ada dan tiada. Dan antara kehidupan dan kematian. Bagi mereka yang percaya, persinggungan itu dapat dihubungkan dengan doa atau sekadar kunjungan penghormatan dan pembersihan makam.


0 Komentar