Khulfi M. Khalwani, S.Hut., M.Si (Perencana Madya, Biro Perencanaan, Kementerian Kehutanan)
Perubahan iklim semakin menempati posisi sentral dalam perbincangan global, bukan hanya sebagai isu lingkungan, tetapi juga sebagai tantangan strategis bagi keamanan nasional.
Analisis Dr. Albert Palazzo dalam “Climate Change and National Security: Implications for the Military” menegaskan bahwa perubahan iklim berfungsi sebagai “pengganda ancaman” yang memperkuat kerentanan sosial dan infrastruktur. Namun, bagi Indonesia, fenomena ini tidak harus dibaca semata sebagai ancaman. Sebaliknya, perubahan iklim membuka ruang untuk membangun ketahanan nasional yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Indonesia sebagai negara kepulauan besar menghadapi risiko iklim yang riil, seperti kenaikan muka laut, banjir ekstrem, kekeringan, dan pergeseran pola produksi pangan. Meski demikian, pengalaman menghadapi bencana alam selama puluhan tahun telah membentuk kemampuan adaptasi yang kuat di tingkat masyarakat maupun institusi.
Jejaring sosial berbasis gotong royong, kerja cepat organisasi lokal, serta keterlibatan TNI dalam operasi kemanusiaan menempatkan Indonesia pada posisi unik dibandingkan banyak negara lain yang baru belajar menghadapi bencana skala besar. Modal sosial ini menjadi fondasi penting untuk memperkuat ketahanan nasional menghadapi perubahan iklim.
Sejalan dengan itu, komitmen Indonesia pada COP30 Leader Summit menunjukkan arah kebijakan yang semakin terintegrasi antara lingkungan, pembangunan, dan keamanan. Pemerintah menegaskan pentingnya aksi iklim yang inklusif dan berkeadilan, termasuk percepatan implementasi FOLU Net Sink 2030, perluasan hutan adat, dan dukungan terhadap mekanisme pendanaan internasional untuk konservasi. Pendekatan ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga meneguhkan stabilitas sosial melalui pemberdayaan masyarakat adat dan lokal. Dalam konteks ketahanan nasional, stabilitas sosial menjadi faktor kunci yang menentukan daya tahan negara menghadapi tekanan eksternal maupun internal.
Pada aspek pertahanan militer, perubahan iklim turut membuka peluang bagi modernisasi pertahanan Indonesia. Palazzo mencatat bahwa perubahan iklim dapat mengganggu kesiapan militer dan merusak fasilitas strategis. Indonesia dapat menjawab tantangan ini dengan membangun infrastruktur pertahanan yang lebih tahan iklim, sistem logistik yang lebih fleksibel terhadap cuaca ekstrem, serta pemanfaatan energi terbarukan di pangkalan militer.
Modernisasi ini berpotensi meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat keamanan energi, khususnya di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar.
Selain modernisasi militer, ketahanan nasional membutuhkan penguatan aspek sosial. Perubahan iklim membawa risiko migrasi internal, tekanan sumber daya, dan potensi ketegangan antar-komunitas. Namun jika dikelola dengan tepat, tekanan ini dapat berubah menjadi momentum untuk memperkuat program pembangunan wilayah, meningkatkan ketahanan pangan, dan mendorong ekonomi hijau berbasis komunitas. Kebijakan yang berorientasi pada keadilan sosial, seperti penguatan desa pesisir, rehabilitasi ekosistem mangrove, dan pemberdayaan ekonomi lokal melalui Perhutanan Sosial, dapat menurunkan risiko konflik sekaligus memperkuat rasa kebangsaan.
Diplomasi iklim juga menjadi arena baru bagi Indonesia untuk menunjukkan kepemimpinan regional. Sebagai negara dengan kapasitas penanganan bencana yang mumpuni, Indonesia berpeluang memimpin kerja sama kemanusiaan ASEAN, pertukaran intelijen iklim, serta pengembangan protokol mitigasi bencana kawasan. Peran ini tidak hanya memperkuat posisi Indonesia secara geopolitik, tetapi juga meningkatkan stabilitas regional yang berkontribusi pada keamanan nasional.
Pada akhirnya, perubahan iklim mengajak kita untuk meninjau ulang makna keamanan nasional. Keamanan tidak hanya bergantung pada kemampuan militer, tetapi juga ketangguhan masyarakat, keadilan ekologi, dan kemampuan negara beradaptasi terhadap perubahan. Dengan memadukan kebijakan iklim, pembangunan berkelanjutan, dan strategi pertahanan, Indonesia memiliki kesempatan besar untuk membangun ketahanan nasional yang relevan di abad ke-21.
Tantangan perubahan iklim memang berat, tetapi momentum untuk berbenah juga sangat besar. Jika pemerintah, masyarakat, dunia usaha, TNI, dan komunitas lokal bergerak bersama, Indonesia bukan hanya mampu bertahan dari dampak iklim, tetapi juga dapat tampil sebagai negara kuat yang berpengaruh di kawasan. Masa depan ketahanan nasional kita bergantung pada sejauh mana kita memilih untuk beradaptasi, bekerja sama, dan memimpin di tengah dunia yang terus berubah.
