Oleh: Andi Setyo Pambudi
Perencana Ahli Madya, Kementerian PPN/Bappenas
Dalam beberapa pekan terakhir, wacana makan bergizi gratis kembali menjadi perbincangan hangat di Indonesia. Sebagian publik mempertanyakan kesiapan anggaran, prioritas kebijakan, serta efektivitasnya. Namun, jika menengok negara-negara yang sudah menjalankan program ini selama puluhan tahun, makan bergizi gratis di sekolah bukan sekadar layanan tambahan. Ia adalah strategi pembangunan sumber daya manusia yang bersifat jangka panjang, sistematis, dan menyeluruh. Kunci keberhasilannya terletak bukan hanya pada penyediaan makanan, tetapi juga pengawasan, transparansi, dan konsistensi kualitas.
Banyak negara telah menjadikan makan bergizi gratis sebagai tulang punggung pendidikan. Mereka memahami bahwa anak dengan asupan gizi baik akan memiliki peluang tumbuh optimal, berpikir lebih tajam, dan berprestasi lebih tinggi. Hasil penelitian global menunjukkan bahwa gizi yang tepat pada usia sekolah berpengaruh pada perkembangan otak, stabilitas emosi, hingga potensi pendapatan saat dewasa. Karena itu, makan bergizi gratis di sekolah dirancang bukan sekadar untuk mengenyangkan, tetapi membuka jalan bagi masa depan yang lebih baik.
China melalui Nutrition Improvement Program menunjukkan bagaimana intervensi negara mampu mengatasi ketimpangan gizi anak pedesaan. Selain intervensi sejak prasekolah, China menerapkan pengawasan ketat berbasis teknologi. Pemerintah menggunakan sistem pelaporan digital harian dari sekolah, audit berkala oleh pemerintah daerah, serta inspeksi mendadak terhadap pemasok bahan pangan. Setiap sekolah wajib mempublikasikan menu, nilai gizi, dan sumber bahan kepada orang tua. Strategi ini membuat program tidak hanya efektif, tetapi juga transparan.
Brasil memiliki pengalaman puluhan tahun dengan Programa Nacional de Alimentação Escolar (PNAE). Pada tahun 1970-an, negara ini melakukan reformasi besar dengan mengganti makanan olahan menjadi bahan segar lokal. Strategi pengawasannya cukup unik karena melibatkan banyak pihak. Pemerintah pusat menetapkan standar nasional, pemerintah kota melakukan kontrol kualitas di dapur sekolah, sementara dewan sekolah yang beranggotakan orang tua wajib mengecek menu mingguan dan distribusi pangan. Brasil juga memiliki mekanisme pengaduan publik yang memungkinkan warga melaporkan ketidaksesuaian menu atau indikasi korupsi pangan. Inilah yang menjaga PNAE tetap transparan dan dipercaya masyarakat.
Jepang menghadirkan contoh paling disiplin dalam kualitas dan pengawasan. Setiap sekolah memiliki ahli gizi yang merancang menu harian berdasarkan standar nasional shokuiku atau pendidikan gizi. Bahan pangan dipilih betul-betul dari pemasok lokal untuk memastikan kesegaran dan keamanan. Pengawasan dilakukan berlapis: ahli gizi memeriksa kandungan nutrisi, guru mengawasi penyajian, siswa terlibat menjaga kebersihan, dan dinas pendidikan melakukan inspeksi rutin. Keterlibatan semua pihak membuat makan siang sekolah tidak hanya terjamin kualitasnya, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter.
Amerika Serikat melalui National School Lunch Program memiliki skema pengawasan federal yang sangat ketat. Setiap sekolah wajib memenuhi standar gizi USDA dan melakukan pelaporan rutin terkait menu, pemasok, serta nilai gizi makanan. Pemerintah federal melakukan audit berkala, sedangkan pemerintah negara bagian memonitor kualitas dapur, distribusi bahan, dan higienitas. Banyak distrik sekolah, terutama di New York dan California, menerapkan sistem label transparan agar orang tua mengetahui sumber bahan pangan dan kandungan gizi setiap menu. Beberapa sekolah bahkan membuka proses dapur bagi komunitas sebagai bentuk keterbukaan.
India yang menjalankan Mid-Day Meal Scheme menghadapi tantangan besar karena jumlah penerima mencapai ratusan juta siswa. Untuk menjamin kualitas, India menerapkan pengawasan berbasis komunitas. Dewan sekolah yang terdiri dari guru, orang tua, dan tokoh masyarakat bertugas melakukan inspeksi harian. Pemerintah daerah memeriksa dapur secara berkala, sementara pemerintah pusat menyediakan pedoman standar sanitasi, gizi, dan penyimpanan. Di beberapa negara bagian, India juga mulai menerapkan monitoring digital dengan foto harian menu yang dikirim ke sistem pusat.
Jika ditarik benang merahnya, keberhasilan program makan bergizi gratis di berbagai negara dunia tidak hanya bergantung pada pendanaan. Ada tiga pilar utama yang selalu muncul. Pertama, makan sekolah dipandang sebagai investasi pembangunan sumber daya manusia, bukan beban anggaran. Kedua, keberhasilan selalu melibatkan kolaborasi lintas aktor: pemerintah pusat, pemerintah daerah, sekolah, orang tua, komunitas, dan bahkan petani lokal. Ketiga, pengawasan yang ketat, terbuka, dan berbasis data menjadi fondasi agar program berjalan efektif, aman, dan berkelanjutan.
Dari disiplin dan ketertiban Jepang, inovasi pangan Brasil, ketegasan pengawasan China, hingga skema federal Amerika Serikat dan partisipasi komunitas India, dunia memberi pelajaran penting. Makan bergizi gratis bukan sekadar memberi makan. Ia adalah proses memberi masa depan, memberi kesempatan bagi anak-anak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa halangan perut kosong. Ketika strategi penyediaan berpadu dengan sistem pengawasan yang kuat, program ini menjadi salah satu investasi pendidikan paling berharga untuk masa depan bangsa (*ASP).
